Sejumlah pejabat tinggi militer China dilaporkan tidak akan menghadiri pertemuan pertahanan bergengsi se-Asia, Dialog Shangri-La, yang digelar di Singapura. Kabar ini pertama kali mencuat melalui laporan AFP pada Jumat (29/5/2026) terkait konferensi tahunan tersebut.
Ketidakhadiran pejabat tinggi ini cukup menjadi sorotan, mengingat Kepala Pentagon Amerika Serikat, Pete Hegseth, dijadwalkan menjadi pembicara utama. Forum keamanan yang berlangsung selama tiga hari tersebut merupakan ajang penting bagi para pemimpin militer dunia.
Absennya Menteri Pertahanan China untuk Kedua Kalinya
Menteri Pertahanan China, Dong Jun, dipastikan absen dari pertemuan tersebut meskipun banyak isu krusial yang perlu dibahas. Keputusan Beijing untuk tidak mengirim pimpinan seniornya ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut.
Beberapa pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal meningkatnya kepercayaan diri China atas pengaruh mereka di kawasan. Padahal, pada edisi 2024, Dong Jun sempat hadir dan melakukan dialog tatap muka yang signifikan dengan pendahulu Hegseth, Lloyd Austin.
Pemerintah China secara resmi menyatakan bahwa delegasi mereka kali ini hanya terdiri dari para ahli dan akademisi. Para cendekiawan tersebut berasal dari berbagai lembaga studi militer terkemuka di bawah naungan militer China.
Daftar delegasi yang dikirimkan oleh pihak Beijing meliputi:
- Mayor Jenderal Meng Xiangqing dari Universitas Pertahanan Nasional sebagai pemimpin delegasi.
- Sejumlah pakar strategi dari Akademi Ilmu Militer.
- Perwakilan ahli dari Angkatan Laut China.
- Para akademisi senior dari Universitas Pertahanan Nasional China.
Pemilihan delegasi dari kalangan akademisi ini menunjukkan pergeseran strategi diplomasi militer China di forum internasional tahun ini.
Dinamika Hubungan AS-China dan Isu Timur Tengah
Keputusan China ini secara otomatis menutup peluang terjadinya pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan China dengan Pete Hegseth. Padahal, hubungan kedua negara saat ini masih diwarnai ketegangan, terutama menyangkut isu kedaulatan Taiwan.
Selain Taiwan, situasi di Timur Tengah juga menjadi perhatian serius bagi Beijing karena faktor keamanan energi. China sangat berkepentingan menjaga stabilitas jalur perdagangan laut guna memastikan pasokan kebutuhan dalam negerinya.
Informasi terkait ketergantungan energi China terhadap Timur Tengah:
| Kategori Data | Keterangan Statistik |
|---|---|
| Persentase Impor Minyak dari Timur Tengah | 57 Persen |
| Tahun Pencatatan Data | 2025 |
| Sumber Data Utama | Laporan Maritim Kpler |
| Jalur Distribusi Utama | Transportasi Laut |
Data tersebut menunjukkan bahwa stabilitas di kawasan Teluk dan Selat Hormuz sangat vital bagi kelangsungan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.
Sudut Pandang Pengamat Keamanan
Peneliti utama dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, William Choong, berpendapat bahwa China merasa tidak perlu lagi "mencari muka" di forum tersebut. Sebagai kekuatan besar, mereka tidak merasa wajib mengirim menteri hanya untuk menjawab berbagai tekanan pertanyaan.
Namun, absennya pimpinan senior Beijing tetap membawa risiko tersendiri bagi citra diplomatik mereka. Tanpa kehadiran pejabat setingkat menteri, China kehilangan momentum untuk memberikan jaminan langsung mengenai kebijakan mereka terhadap Taiwan.
Choong menambahkan bahwa saat kepercayaan terhadap kepemimpinan AS sedang berfluktuasi, Beijing sebenarnya memiliki peluang untuk menenangkan kawasan. China bisa saja menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer adalah opsi terakhir, namun kesempatan itu terlewatkan tanpa kehadiran pejabat tinggi.