Capsule Wardrobe: Solusi Berkelanjutan yang Banyak Dicari Tahun 2026!

Capsule Wardrobe: Solusi Berkelanjutan yang Banyak Dicari Tahun 2026!
Foto: Capsule Wardrobe: Solusi Berkelanjutan yang Banyak Dicari Tahun 2026!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Gaya Hidup Capsule Wardrobe dan Keberlanjutan, Apakah Bisa Berjalan Beriringan?

Jakarta, CNN Indonesia -- Capsule wardrobe adalah konsep yang mendorong kita untuk mengurangi pakaian di lemari dan lebih jarang membeli baju baru. Tujuan utamanya agar pakaian lebih sering dipakai dan masa pakainya lebih panjang. Namun, apakah konsep ini benar-benar sejalan dengan gerakan keberlanjutan?

Ada yang khawatir bahwa capsule wardrobe hanyalah 'euforia sesaat'. Ketika konsep ini dipromosikan pada momen tertentu seperti kampanye gaya hidup minimalis atau tren di media sosial, banyak orang mungkin ikut serta. Namun, seiring industri fesyen menawarkan hal baru, pola belanja lama sering kembali.

Kondisi tersebut membuat konsumsi justru bisa meningkat dalam kemasan baru. Jadi, apakah capsule wardrobe dapat benar-benar berjalan beriringan dengan keberlanjutan? Sejauh ini, penerapannya masih menghadapi tantangan dan belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan.

Capsule wardrobe bisa menjadi solusi dari masalah limbah yang dihasilkan fast fashion, yaitu pakaian murah yang diproduksi dengan siklus singkat. Konsep ini mengajak kita memilih pakaian berkualitas dan tahan lama yang bisa dikombinasikan dengan kreatif. Namun, penerapan ini belum sempurna.

Sebuah penelitian dalam Journal of Sustainability Research pada 2025 menawarkan gambaran mengenai motivasi konsumen dalam mengadopsi capsule wardrobe. Penelitian oleh José Magano mengkaji 776 konsumen di Portugal. Kesimpulannya, meski ada niat sosial kuat, ketertarikan pada fesyen justru memberikan pengaruh berlawanan.

Analisis menunjukkan perbedaan perilaku berdasarkan gender dan generasi. Perempuan lebih terlibat dalam keberlanjutan namun tetap rajin berbelanja. Sementara Generasi Z menunjukkan kesenjangan antara niat dan aksi, meski mereka condong pada keberlanjutan.

Dari penelitian, salah satu hambatan adalah kebiasaan konsumsi pakaian fast fashion yang murah. Perilaku belanja impulsif berlawanan dengan prinsip capsule wardrobe tentang pemakaian jangka panjang.

Menurut Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu Eka Setyawan, tantangan menerapkan konsep ini juga berkaitan dengan biaya. Slow fashion diibaratkan bias kelas, dengan harga produk yang tinggi membuatnya tidak terjangkau bagi banyak orang.

Wahyu menyebutkan bahwa produk slow fashion sering kali mahal, bahkan untuk bahan ramah lingkungan. Pada akhirnya, hanya masyarakat kelas tertentu yang mampu menerapkan gaya hidup ini.

Sementara itu, Cynthia S. Lestari dari Lyfe With Less punya pandangan berbeda. Baginya, menerapkan slow fashion tidak harus mahal. Menurutnya, yang paling berkelanjutan adalah memanfaatkan apa yang sudah ada di lemari.

Cynthia menegaskan bahwa membeli produk slow fashion tapi memperlakukannya seperti fast fashion adalah hal kontradiktif. Menurutnya, konsumsi bijak bisa dimulai dengan memperpanjang umur produk yang kita miliki.

Konsumen Harus Lebih Kritis, Gerakan Perlu Lebih Masif:

Gerakan keberlanjutan yang digerakkan individu, seperti capsule wardrobe, tak signifikan mengurangi limbah tanpa dukungan luas. Wahyu menyamakan ini dengan isu plastik yang dominasi produsen masih besar.

Kesadaran akan keberlanjutan seharusnya tak hanya dari konsumen, tetapi juga produsen. Namun, sisi positifnya adalah gerakan ini berhasil mengurangi budaya konsumtif hingga masyarakat lebih terinformasi.

Untuk mengurangi limbah produksi, konsumen harus lebih kritis. Wahyu menekankan proses desakan kepada korporasi untuk memperpanjang umur produk, misalnya dari dua menjadi lima tahun.

Cynthia menambahkan bahwa gerakan perlu lebih masif dan terlihat di media sosial. Menurutnya, agar lebih banyak orang terpengaruh, perlu sosok yang menjadi contoh di platform digital.

Mencontoh selebritas bisa normalisasi penggunaan outfit yang sama. Ini dapat menunjukkan bahwa public figure merasa tak masalah mengenakannya berulang-ulang.

Jika capsule wardrobe diimplementasikan secara tepat, bisa beriringan dengan keberlanjutan. Capsule wardrobe harus menjadi kebiasaan: bijak membeli, realistis terhadap kebutuhan, dan konsisten memperpanjang umur pakaian.

Artikel terkait

Rekomendasi