Bursa Asia Merah Membara Usai Iran Serang Israel, Indeks Kospi Ambles Mengejutkan 8% di 2026

Bursa Asia Merah Membara Usai Iran Serang Israel, Indeks Kospi Ambles Mengejutkan 8% di 2026
Foto: Bursa Asia Merah Membara Usai Iran Serang Israel, Indeks Kospi Ambles Mengejutkan 8% di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Senin pagi ini. Gejolak geopolitik yang memanas di Timur Tengah memicu kepanikan investor global untuk segera melepas aset berisiko mereka.

Kondisi pasar memburuk secara signifikan setelah muncul laporan mengenai serangan rudal Iran ke wilayah Israel. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas keamanan di kawasan tersebut dan memicu aksi jual massal di berbagai bursa saham.

Indeks Kospi Korea Selatan Terjun Bebas

Bursa Korea Selatan menjadi yang paling terdampak dengan pelemahan paling dalam di antara negara-negara Asia lainnya. Indeks Kospi dilaporkan ambles hingga 8,4 persen pada awal sesi perdagangan pagi ini.

Langkah serupa juga terjadi di pasar saham Jepang yang mengalami koreksi cukup tajam. Indeks Nikkei 225 tercatat merosot 3,4 persen saat investor mulai mengurangi eksposur mereka terhadap instrumen saham di tengah ketidakpastian global.

Sentimen negatif ini merupakan kelanjutan dari tren merah yang sebelumnya sudah melanda bursa saham Amerika Serikat. Kontrak berjangka (futures) di Wall Street menunjukkan penurunan tipis pada Minggu malam waktu setempat.

Futures Dow Jones tercatat melemah sekitar 80 poin atau setara dengan 0,2 persen. Sementara itu, indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 juga mengikuti jejak serupa dengan penurunan masing-masing sebesar 0,2 persen.

Tekanan Ekonomi Global dan Kebijakan Suku Bunga

Sebelum konflik Timur Tengah memanas, bursa AS sebenarnya sudah mengalami tekanan berat pada akhir pekan lalu. Nasdaq Composite tercatat anjlok hingga 4,18 persen, yang merupakan penurunan harian terdalam sejak April 2025.

Kekhawatiran para pelaku pasar diperburuk oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari ekspektasi. Hal ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi karena adanya potensi suku bunga tinggi yang akan bertahan dalam jangka waktu lebih lama.

Berikut adalah rangkuman kinerja indeks saham utama pada pembukaan perdagangan :

Indeks Saham Negara Persentase Penurunan
Kospi Korea Selatan 8,4%
Nikkei 225 Jepang 3,4%
Nasdaq Composite Amerika Serikat 4,18%
S&P 500 Amerika Serikat 2,64%

Tabel di atas menunjukkan betapa besarnya dampak volatilitas geopolitik dan ekonomi global terhadap pergerakan bursa saham dunia. Investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman untuk melindungi nilai modal mereka.

Selain memantau perkembangan konflik bersenjata, pelaku pasar di Asia pekan ini juga tengah menantikan rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Fokus utama tertuju pada angka inflasi yang akan segera diumumkan.

Data ekonomi penting yang dinanti investor pada pekan ini meliputi :

  • Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk mengukur tingkat inflasi ritel.
  • Indeks Harga Produsen (PPI) yang mencerminkan tekanan harga di tingkat grosir atau pabrikan.
  • Keputusan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS berdasarkan data inflasi terbaru.

Data-data tersebut sangat dinantikan karena diperkirakan masih menunjukkan tekanan inflasi yang kuat. Jika inflasi tetap tinggi, harapan untuk pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat kemungkinan akan semakin menipis.

Artikel terkait

Rekomendasi