Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan hebat setelah aliran modal asing terus mengalir keluar dari pasar saham domestik. Fenomena ini berdampak signifikan terhadap pergerakan indeks dan nilai pasar secara keseluruhan.
Sepanjang periode perdagangan 2 hingga 5 Juni 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp7,39 triliun. Meski angka ini menyusut jika dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp12,34 triliun, kondisi ini tetap menunjukkan tren keluar modal yang masif.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan total nilai beli investor asing berada di angka Rp49,45 triliun. Di sisi lain, total nilai jual asing jauh lebih tinggi yakni mencapai Rp56,84 triliun dalam kurun waktu sepekan.
Dampak Penurunan IHSG dan Kapitalisasi Pasar
Tekanan jual yang dilakukan investor global secara otomatis menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. IHSG mengalami kejatuhan tajam sebesar 8,69% dan merosot dari level 6.127,38 menjadi 5.594,77 di akhir pekan.
Koreksi ini tercatat sebagai salah satu penurunan mingguan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendahnya di angka 5.594,11 selama periode perdagangan tersebut.
Akibat merosotnya indeks, nilai kapitalisasi pasar di BEI pun ikut menyusut drastis dalam waktu singkat. Market cap bursa dilaporkan kehilangan Rp922 triliun, turun dari Rp10.729 triliun menjadi tinggal Rp9.807 triliun.
Meskipun volume perdagangan mingguan sempat meningkat sebesar 8,66%, rata-rata nilai transaksi harian justru mengalami penurunan hampir 5%. Kondisi ini mengonfirmasi adanya aksi jual yang sangat intens di tengah ketidakpastian pasar.
Daftar Saham yang Paling Banyak Dilepas Asing
Berikut adalah daftar saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dijual oleh investor asing dalam sepekan terakhir:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp2,323 triliun
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – Rp2,012 triliun
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – Rp1,027 triliun
- PT Astra International Tbk (ASII) – Rp407,1 miliar
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – Rp401,2 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Rp283,1 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) – Rp273,1 miliar
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) – Rp266,4 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – Rp218 miliar
- PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) – Rp182,1 miliar
Data di atas menunjukkan bahwa saham-saham perbankan raksasa dan sektor energi menjadi sasaran utama aksi jual asing. Sektor perbankan terutama BBCA dan BBRI menyumbang porsi keluar modal paling besar dalam daftar tersebut.
Performa Pasar Domestik Dibandingkan Regional
Kinerja pasar saham Indonesia pekan lalu tercatat sebagai salah satu yang terburuk di kawasan Asia. Di saat beberapa indeks di negara tetangga masih mampu menguat tipis, IHSG justru terjun bebas menjadi salah satu yang terlemah.
Walaupun intensitas net sell asing mulai melandai, risiko arus keluar dana global masih membayangi pasar domestik. Selama investor asing masih melepas saham-saham blue chip, stabilitas pasar modal diperkirakan masih akan menghadapi tantangan besar.
Ringkasan data perdagangan BEI selama sepekan terakhir dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
| Indikator Pasar | Nilai / Perubahan |
|---|---|
| Penurunan IHSG | 8,69% |
| Net Sell Asing | Rp7,39 Triliun |
| Penyusutan Market Cap | Rp922 Triliun |
| Level Terendah IHSG | 5.594,11 |
Data ini mencerminkan kondisi pasar yang sangat volatil akibat hengkangnya dana global secara bertahap. Penurunan kapitalisasi pasar yang mencapai ratusan triliun rupiah menjadi sinyal waspada bagi para pelaku pasar modal.