Bukan di Paruh, Ilmuwan Temukan Lokasi Mengejutkan GPS Alami Merpati Terbaru 2026

Bukan di Paruh, Ilmuwan Temukan Lokasi Mengejutkan GPS Alami Merpati Terbaru 2026
Foto: Bukan di Paruh, Ilmuwan Temukan Lokasi Mengejutkan GPS Alami Merpati Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Selama hampir seratus tahun, para ilmuwan terus meneliti rahasia di balik kemampuan luar biasa merpati dalam menemukan jalan pulang. Burung ini diketahui mampu menempuh jarak ratusan kilometer tanpa tersesat meski dilepaskan di lokasi asing.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (28/5/2026) akhirnya memberikan jawaban mengejutkan atas teka-teki tersebut. Ternyata, kunci navigasi canggih milik merpati tidak terletak di kepala, melainkan tersembunyi di dalam organ hati mereka.

Temuan Sel Kekebalan sebagai Detektor Magnetik

Studi ini mengungkapkan bahwa sel-sel kekebalan tubuh di dalam hati merpati berfungsi sebagai pendeteksi medan magnet Bumi. Kemampuan unik ini selama ini dianggap sebagai salah satu misteri terbesar dalam dunia perilaku hewan.

Martin Wikelski dari Max Planck Institute of Animal Behavior menjelaskan bahwa rasa magnetik ini telah membingungkan peneliti selama seabad terakhir. Timnya awalnya melakukan pemindaian menyeluruh pada berbagai organ tubuh untuk mencari jejak magnetik yang berperan sebagai kompas.

Hasil pengamatan tim peneliti menunjukkan fakta menarik terkait lokasi sinyal magnetik terkuat :

  • Sinyal magnetik paling intens ditemukan di dalam organ hati, bukan di otak atau paruh seperti dugaan sebelumnya.
  • Sel kekebalan khusus di hati bertugas memecah sel darah merah untuk menyimpan zat besi sebagai mineral kunci.
  • Kedekatan sel-sel ini dengan serat saraf diduga kuat menjadi jalur transmisi informasi magnetik langsung menuju otak.
  • Mekanisme ini memungkinkan merpati merasakan arah mata angin secara intuitif berdasarkan tarikan medan magnet.

Penemuan ini membuktikan bahwa zat besi di dalam hati bukan sekadar cadangan nutrisi, melainkan komponen vital dari sistem navigasi alami burung.

Dampak Gangguan Fungsi Hati terhadap Navigasi

Untuk menguji temuan tersebut, para peneliti melakukan eksperimen dengan menonaktifkan sementara sel-sel kekebalan di hati merpati. Burung-burung tersebut kemudian dilepaskan untuk melihat apakah mereka tetap bisa menentukan arah pulang.

Hasilnya menunjukkan bahwa merpati tersebut kehilangan orientasi dan tidak mampu menemukan jalur yang benar. Christian Kurts dari Universitas Bonn menyebutkan bahwa burung-burung itu benar-benar kehilangan kemampuan navigasinya setelah intervensi dilakukan.

Data berikut merangkum perbedaan perilaku navigasi merpati berdasarkan kondisi cuaca :

Kondisi Cuaca Kemampuan Navigasi Merpati Keterangan
Cuaca Berawan/Mendung Sangat Terganggu Tanpa fungsi hati yang normal, merpati benar-benar tersesat karena hanya bergantung pada magnet.
Cuaca Cerah Tetap Terjaga Merpati menggunakan matahari sebagai bantuan navigasi tambahan di samping medan magnet.

Tabel di atas menunjukkan bahwa merpati memiliki sistem cadangan navigasi yang memungkinkan mereka tetap terbang saat salah satu sensor terganggu. Namun, fungsi hati tetap menjadi instrumen utama saat panduan visual seperti matahari tidak tersedia.

Potensi Temuan pada Spesies Lain

Clivia Lisowski, salah satu penulis studi dari Universitas Bonn, menjelaskan bahwa sel hati tersebut berada sangat dekat dengan serat saraf. Posisi ini memungkinkan sinyal "rasa magnetik" dikirimkan dengan cepat ke otak untuk membantu menentukan arah terbang.

Tim peneliti juga berspekulasi bahwa mekanisme navigasi berbasis hati ini mungkin tidak hanya dimiliki oleh merpati. Ada kemungkinan hewan lain, seperti tikus, memiliki sistem serupa yang membantu mereka mengenali wilayah dan berpindah tempat dengan akurat.

Artikel terkait

Rekomendasi