BPS: Defisit Neraca Dagang RI ke China Membengkak di 2026, Ini Datanya

BPS: Defisit Neraca Dagang RI ke China Membengkak di 2026, Ini Datanya
Foto: BPS: Defisit Neraca Dagang RI ke China Membengkak di 2026, Ini Datanya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis laporan terbaru mengenai performa perdagangan internasional Indonesia sepanjang awal tahun 2026. Dalam data tersebut, China tercatat sebagai negara yang memberikan kontribusi defisit perdagangan nonmigas paling besar bagi Indonesia.

Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat China merupakan salah satu mitra dagang paling utama bagi tanah air. Tren kenaikan defisit ini terlihat cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Rincian Defisit Perdagangan dengan China

Pudji Ismartini, selaku Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, memberikan penjelasan mendalam mengenai angka-angka perdagangan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa defisit perdagangan Indonesia dengan China menyentuh angka US$7,59 miliar selama Januari hingga April 2026.

Angka defisit ini tercatat mengalami pendalaman yang cukup tajam. Sebagai perbandingan, pada periode empat bulan pertama di tahun 2025, nilai defisit tersebut berada di posisi US$6,28 miliar.

Pudji menjelaskan dalam konferensi pers pada Selasa (2/6/2026) bahwa secara keseluruhan pada April 2026, Indonesia masih mencatatkan surplus tipis sebesar US$0,09 miliar. Namun, perolehan surplus ini menjadi yang terendah yang pernah dialami Indonesia dalam kurun waktu 72 bulan terakhir.

Selain angka umum tersebut, Pudji menambahkan bahwa kontribusi khusus China terhadap defisit sektor nonmigas Indonesia mencapai US$8,03 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan yang kuat dari sektor barang konsumsi dan industri.

Dominasi Produk Manufaktur China

Penyebab utama dari melebarnya jurang defisit nonmigas dengan China ini adalah besarnya volume impor produk manufaktur. Berbagai barang buatan China membanjiri pasar domestik dengan nilai yang sangat fantastis sepanjang awal tahun ini.

Berdasarkan data BPS, total nilai impor dari China ke Indonesia mencapai US$30,79 miliar selama periode Januari hingga April 2026. Angka ini mencerminkan dominasi yang luar biasa dari produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Jika dipresentasikan secara nasional, kontribusi impor dari China mencapai 41,84% dari total impor nonmigas Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa hampir separuh kebutuhan barang impor nonmigas Indonesia dipasok langsung oleh China.

Ringkasan perbandingan data perdagangan Indonesia dengan China :

Indikator Perdagangan Januari-April 2025 Januari-April 2026
Nilai Defisit Dagang Umum US$6,28 miliar US$7,59 miliar
Nilai Impor Nonmigas dari China Tersedia dalam Laporan Tahunan US$30,79 miliar
Persentase Kontribusi Impor Data Berfluktuasi 41,84%
Surplus April 2026 - US$0,09 miliar

Tabel di atas memperlihatkan bagaimana posisi perdagangan Indonesia yang semakin tertekan oleh tingginya angka impor. Kenaikan defisit menunjukkan adanya ketergantungan yang masih tinggi terhadap produk-produk dari China.

Kondisi Ekonomi Makro dan Isu Terkait

Di tengah tantangan perdagangan dengan China, kondisi ekonomi domestik juga menghadapi berbagai sentimen negatif lainnya. Beberapa isu ekonomi terkini turut membayangi stabilitas pasar keuangan dan daya beli masyarakat.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait situasi ekonomi terkini :

  • Nilai tukar Rupiah terpantau terus melemah dan hampir menyentuh level Rp17.900 per dolar AS.
  • Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi telah memicu inflasi pada tarif transportasi udara sebesar 2% dan Solar hingga 4,2%.
  • Sektor properti dan farmasi mengalami tekanan hebat dengan penurunan harga saham yang cukup dalam.
  • Masyarakat mulai mengeluhkan kenaikan tarif listrik yang terjadi secara mendadak di beberapa wilayah.
  • Impor komoditas emas dari Australia mencapai 2,5 ton per April 2026 sebagai bagian dari pemenuhan cadangan.

Poin-poin di atas menunjukkan bahwa pemerintah dan otoritas terkait harus menghadapi tantangan ganda. Selain memperbaiki neraca perdagangan, stabilitas harga di dalam negeri juga menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.

Para ekonom memproyeksikan bahwa inflasi masih berpotensi melonjak lebih tinggi di masa mendatang. Hal ini beriringan dengan semakin menyempitnya surplus perdagangan yang bisa mengancam ketahanan ekonomi nasional.

Situasi global seperti risiko di Selat Hormuz juga diprediksi akan menekan komoditas sumber daya alam. Gejolak ini menambah ketidakpastian bagi eksportir Indonesia yang bergantung pada kelancaran jalur logistik internasional.

Meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menguat tipis, pelaku pasar tetap waspada terhadap data inflasi Mei yang segera dirilis. Semua mata tertuju pada langkah strategis pemerintah dalam menyeimbangkan arus ekspor-impor, terutama dengan China yang kini menjadi beban defisit terbesar.

Artikel terkait

Rekomendasi