Kawasan perkotaan di Bali, khususnya Denpasar, saat ini mengalami tantangan serius berupa peningkatan suhu udara akibat berkurangnya ruang terbuka hijau. Fenomena ini memicu kekhawatiran terkait kenyamanan wisatawan dan penduduk lokal di tengah masifnya pembangunan infrastruktur.
Menanggapi hal tersebut, I Nyoman Sunarta selaku pengamat pariwisata sekaligus Dosen Universitas Udayana (Unud), memberikan saran konkret kepada Pemerintah Provinsi Bali. Ia mendorong agar Bali mengadopsi konsep penghijauan kota yang telah sukses diterapkan di Yogyakarta.
Belajar dari Keteduhan Pohon Asam di Yogyakarta
Sunarta mencontohkan penataan kawasan Malioboro di Yogyakarta yang menggunakan pohon asam sebagai elemen utama penghijauan. Langkah ini dinilai sangat efektif dalam menciptakan suasana kota yang lebih sejuk dan nyaman bagi para pejalan kaki.
Menurutnya, konsep menanam pohon asam sebenarnya merupakan warisan tata kota dari zaman kolonial Belanda yang terbukti fungsional. Yogyakarta berhasil menghidupkan kembali konsep tersebut sehingga identitas kotanya tetap asri meski berada di pusat keramaian.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa pohon asam menjadi pilihan utama untuk penghijauan di wilayah perkotaan:
- Memiliki jumlah stomata yang sangat banyak sehingga sangat efektif dalam menyerap emisi karbon dioksida di jalanan.
- Sistem perakarannya cenderung tumbuh ke bawah dan tidak menyebar secara agresif, sehingga aman bagi fondasi bangunan maupun trotoar.
- Memiliki tajuk daun yang rimbun namun halus, sehingga memberikan keteduhan maksimal tanpa kesan gelap.
- Daya tahan pohon yang tinggi terhadap berbagai kondisi cuaca dan polusi kendaraan bermotor.
Pemilihan jenis vegetasi yang tepat seperti pohon asam atau celagi dianggap sebagai solusi cerdas untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan. Tanaman ini tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga sebagai pembersih udara alami yang efisien di tengah kepadatan lalu lintas.
Dampak Perubahan Lahan Terhadap Suhu Kota
Berdasarkan riset yang dilakukan Sunarta pada tahun 2018, perubahan lahan hijau menjadi beton dan bangunan permanen berdampak signifikan pada suhu lingkungan. Material bangunan cenderung menyimpan energi panas dari sinar matahari dalam waktu yang lebih lama.
Kondisi inilah yang menyebabkan suhu di pusat kota terasa jauh lebih menyengat dibandingkan dengan area pinggiran yang masih banyak ditanami pohon. Energi panas yang terperangkap di antara gedung-gedung membuat sirkulasi udara menjadi tidak optimal.
| Faktor Penyebab Panas Kota | Dampak Terhadap Lingkungan |
|---|---|
| Masifnya pembangunan beton | Energi panas matahari tersimpan lebih lama di permukaan. |
| Minimnya ruang terbuka hijau | Suhu udara meningkat tajam karena tidak ada penyerap panas. |
| Kurangnya vegetasi penyerap CO2 | Kualitas udara menurun dan polusi meningkat di area perkotaan. |
Tabel di atas merangkum bagaimana faktor infrastruktur dan minimnya vegetasi berkontribusi langsung pada fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, kenyamanan tinggal di kawasan perkotaan Bali dikhawatirkan akan terus menurun.
Pentingnya Kolaborasi Ahli dalam Revegetasi
Sunarta menegaskan bahwa program penghijauan kembali atau revegetasi adalah langkah paling sederhana namun efektif untuk menekan kenaikan suhu. Meski demikian, pemilihan jenis tanaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan agar manfaatnya maksimal.
Ia menyarankan agar pemerintah melibatkan para ahli biologi dan pakar lingkungan dalam menentukan jenis vegetasi yang akan ditanam. Hal ini bertujuan untuk memastikan tanaman yang dipilih sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan ekologis jangka panjang.
Kehadiran ruang hijau yang tertata rapi diharapkan mampu mengembalikan daya tarik Bali sebagai destinasi wisata yang sejuk dan asri. Dengan meniru kesuksesan Yogyakarta, Bali berpeluang menciptakan lingkungan urban yang lebih sehat bagi generasi mendatang.