Bandara Husein Sastranegara Disarankan Fokus Rute Luar Jawa, Ini Alasannya

Bandara Husein Sastranegara Disarankan Fokus Rute Luar Jawa, Ini Alasannya
Foto: Bandara Husein Sastranegara Disarankan Fokus Rute Luar Jawa, Ini Alasannya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Wacana mengenai pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara di Bandung tengah menjadi perbincangan hangat. Hal ini mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan rencana untuk mereaktivasi bandara yang lokasinya berada tepat di jantung kota Bandung tersebut.

Perlu diketahui bahwa sejak tahun 2023, seluruh aktivitas penerbangan komersial berjadwal telah dialihkan ke Bandara Internasional Kertajati yang berlokasi di Majalengka. Namun, kini pemerintah berencana menghidupkan kembali operasional penerbangan sipil di bandara kebanggaan warga Bandung ini.

Saran Pengamat Mengenai Rute Penerbangan

Djoko Setijowarno, seorang pengamat transportasi, menilai bahwa langkah reaktivasi Bandara Husein Sastranegara sangat mungkin untuk diwujudkan. Meskipun begitu, ia memberikan catatan khusus agar operasional bandara ini tidak berbenturan dengan fasilitas transportasi lainnya.

Ia menyarankan agar penerbangan dari Bandara Husein difokuskan pada rute-rute menuju luar Pulau Jawa. Langkah tersebut dianggap sebagai solusi jangka pendek yang efektif guna mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi di Bandung.

Menurut Djoko, pembatasan rute ini juga bertujuan agar pengembangan Bandara Kertajati sebagai gerbang udara utama di Jawa Barat tetap berjalan maksimal. Dengan pembagian peran yang jelas, kedua bandara tersebut bisa saling melengkapi tanpa harus mematikan satu sama lain.

Beberapa alasan mengapa rute luar Jawa lebih disarankan adalah sebagai berikut:

  • Tiket pesawat untuk rute di dalam Pulau Jawa saat ini tergolong cukup mahal bagi sebagian besar calon penumpang.
  • Masyarakat kini memiliki beragam alternatif transportasi darat yang efisien, seperti kereta api dan jaringan jalan tol.
  • Rute luar Jawa seperti ke Medan atau rute internasional ke Malaysia memiliki potensi pasar yang jauh lebih besar dan menjanjikan.
  • Penerbangan antar kota di Jawa dinilai sudah tidak lagi kompetitif dibandingkan dengan moda transportasi darat lainnya.

Djoko menekankan bahwa jika dipaksakan untuk rute dalam Jawa, peminatnya kemungkinan akan minim. Penumpang cenderung memilih opsi yang lebih ekonomis dan praktis melalui jalur darat yang sudah terintegrasi dengan baik.

Keterbatasan Infrastruktur dan Landasan Pacu

Meskipun mendukung rencana tersebut, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini juga mengingatkan adanya tantangan teknis. Bandara Husein Sastranegara memiliki keterbatasan fisik karena lokasinya berada di tengah kawasan perkotaan yang padat.

Djoko menjelaskan bahwa landasan pacu atau runway di bandara ini sudah tidak memiliki ruang untuk diperluas lagi. Saat ini, panjang landasan sudah mencapai batas maksimal di angka 2.600 meter dan tidak memungkinkan untuk ditambah.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pemerintah harus tetap konsisten dalam memindahkan penerbangan secara bertahap ke Majalengka. Reaktivasi Husein Sastranegara sebaiknya dikelola sedemikian rupa agar tidak mengganggu visi jangka panjang pengembangan Bandara Kertajati.

Kesiapan Fasilitas dan Perbaikan Aksesibilitas

Dari sisi kesiapan fasilitas, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (LANUD) Husein Sastranegara, Irman Fathurrahman, memberikan pandangannya. Ia menyatakan bahwa kondisi fasilitas di dalam bandara secara umum masih sangat layak dan tidak mengalami kendala berarti.

Fokus utama yang perlu dibenahi justru terletak pada faktor eksternal, yakni akses menuju bandara dan tata kota di sekitarnya. Irman berharap perbaikan infrastruktur jalan di sekitar pangkalan dan area bandara bisa segera direalisasikan pemerintah.

Poin-poin penting terkait rencana peningkatan aksesibilitas bandara meliputi:

  • Perbaikan jalur utama dari arah gerbang Tol Pasteur yang selama ini menjadi titik kemacetan menuju bandara.
  • Pembangunan akses jalan baru yang langsung menghubungkan pintu keluar tol dengan kawasan bandara.
  • Optimalisasi lahan di area komplek TNI AU untuk dijadikan jalur distribusi lalu lintas kendaraan penumpang.
  • Penyediaan fasilitas pendukung yang mempermudah mobilitas masyarakat dari dan menuju terminal penerbangan.

Upaya perbaikan akses ini dianggap krusial agar tidak terjadi penumpukan kendaraan yang parah saat bandara kembali beroperasi penuh. Pemerintah daerah pun mulai menyusun skema agar arus lalu lintas di kawasan Pasteur tetap terkendali.

Usulan Akses Khusus dari Pemerintah Kota

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turut memberikan usulan konkret untuk mendukung rencana reaktivasi tersebut. Ia mengusulkan pembuatan akses jalan baru yang menghubungkan pintu keluar Tol Pasteur langsung menuju kawasan PTDI.

Gagasan ini bertujuan agar penumpang tidak perlu memutar jauh melalui jalan protokol yang sering macet. Farhan menjelaskan bahwa kendaraan nantinya bisa berbelok kiri sebelum gerbang tol untuk melewati area militer dan langsung tiba di bandara.

Farhan meyakini bahwa dengan akses khusus tersebut, manajemen lalu lintas menuju Bandara Husein akan jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu prioritas pemerintah kota dalam menyambut kembalinya aktivitas penerbangan komersial di Bandung.

Berikut adalah ringkasan perbandingan mengenai rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara:

Aspek Penilaian Kondisi dan Saran Ahli
Status Bandara Direaktivasi kembali untuk penerbangan sipil sesuai arahan Presiden.
Fokus Rute Diutamakan untuk rute luar Pulau Jawa dan penerbangan internasional.
Kapasitas Runway Terbatas pada panjang 2.600 meter dan tidak bisa diperpanjang lagi.
Akses Transportasi Perlu jalan baru dari Tol Pasteur melewati PTDI untuk memecah macet.
Dampak Ekonomi Diharapkan mampu menghidupkan kembali pariwisata di Kota Bandung.

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun reaktivasi disambut baik, ada banyak faktor teknis yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar Bandara Husein bisa beroperasi tanpa menimbulkan masalah baru.

Dengan adanya rencana matang ini, diharapkan Bandung dapat kembali memiliki akses udara yang memudahkan wisatawan. Namun, efektivitas operasionalnya tetap bergantung pada sejauh mana perbaikan akses infrastruktur darat dapat diselesaikan tepat waktu.

Artikel terkait

Rekomendasi