Baim Wong kembali menunjukkan eksistensinya di dunia seni peran melalui proyek film layar lebar terbaru yang bertajuk Suamiku Lukaku. Pada karya kali ini, ia tidak lagi berada di balik layar sebagai sutradara, melainkan kembali berakting di depan kamera.
Kembalinya Baim ke layar lebar cukup menyedot perhatian karena ia mengambil peran yang sangat kontras dengan citra kesehariannya. Ia memerankan seorang suami bernama Irfan Khalid yang melakukan tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap sang istri.
Saat menghadiri konferensi pers di XXI Epicentrum pada Kamis (21/5/2026), aktor ini secara terbuka mengungkapkan keheranannya saat pertama kali ditawari posisi tersebut. Ia bahkan sempat mempertanyakan alasan tim produksi memilihnya untuk memerankan sosok suami yang kasar.
Alasan Baim Wong Sempat Ragu Terima Peran Irfan Khalid
Baim menceritakan bahwa dirinya sempat merasa bingung ketika tawaran peran sebagai pelaku KDRT datang kepadanya dari sutradara Ssharad Sharaan dan Viva Westi. Pasalnya, ia sudah cukup lama tidak berakting sejak film terakhirnya di tahun 2023.
“Film terakhir saya itu Berbalas Kejam pada tahun 2023, setelah itu saya lebih fokus menyutradarai film sendiri,” ungkap Baim saat berbincang dengan awak media. Meski banyak tawaran lain, ia biasanya memilih untuk menunda karena fokus pada karier penyutradaraan.
Namun, tawaran untuk film Suamiku Lukaku ini terasa berbeda bagi Baim, terutama karena ia sudah mengenal sosok sutradara Viva Westi dengan baik. Begitu mengetahui temanya adalah KDRT, Baim langsung bertanya-tanya mengapa dirinya yang dianggap cocok memerankan karakter sensitif tersebut.
Ia menyadari bahwa isu kekerasan domestik adalah topik yang sangat berat dan memiliki risiko tinggi bagi citra seorang figur publik. Hal ini menjadi pertimbangan mendalam bagi Baim sebelum akhirnya memutuskan untuk memberikan jawaban setuju.
Selain faktor tema yang sensitif, saat tawaran itu datang, kehidupan pribadi Baim Wong juga tengah menjadi sorotan publik akibat kisruh rumah tangganya. Ia tidak ingin pemilihan dirinya hanya didasarkan pada sensasi semata.
“Saya tanya dulu ke pihak produksi apa alasannya, kemudian Mbak Westi datang menemui saya di kantor untuk memberikan penjelasan detail,” ujar Baim. Dalam pertemuan tersebut, keduanya saling berdiskusi mengenai risiko dan tanggung jawab moral dalam membawakan karakter tersebut.
Keputusan Bergabung Karena Pesan Mulia dan Lawan Main
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari tim produksi, keraguan Baim perlahan mulai sirna dan ia pun memantapkan diri untuk terlibat. Ia melihat bahwa film ini memiliki misi penting untuk memberikan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat mengenai bahaya KDRT.
Beberapa poin utama yang membuat Baim Wong akhirnya bersedia terlibat dalam film ini antara lain:
- Visi dan Misi Film: Film ini dianggap memiliki tujuan yang sangat mulia dalam menyuarakan isu-isu sosial yang sering terjadi di masyarakat.
- Kehadiran Acha Septriasa: Sosok lawan main menjadi pertimbangan krusial bagi Baim untuk membangun chemistry yang kuat dalam setiap adegan.
- Kedalaman Cerita: Naskah film dinilai sangat kuat dan mampu menggambarkan realita pahit dari korban kekerasan domestik secara jujur.
- Tantangan Akting: Memerankan karakter antagonis dengan sisi psikologis yang kompleks menjadi tantangan baru dalam karier aktingnya.
Baim menekankan bahwa kenyamanan dengan lawan main sangatlah vital, apalagi mengingat banyaknya adegan fisik yang cukup intens dan berat dilakukan. Keberadaan Acha Septriasa sebagai lawan main membuatnya merasa lebih percaya diri untuk mengeksekusi adegan-adegan tersebut.
“Bagi saya, chemistry itu sangat penting, dan yang saya maksud bukan sekadar adegan mesra, melainkan bagaimana kami bekerja sama saat adegan kekerasan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa instruksi dalam naskah seringkali terlihat sederhana, namun pelaksanaannya membutuhkan teknik blocking yang rumit.
Baim menjelaskan bahwa dalam sebuah film, adegan kekerasan harus digarap dengan estetika visual yang tepat agar tidak terasa monoton bagi penonton. Menurutnya, menerjemahkan naskah yang berisi adegan cekikan atau dorongan menjadi visual yang apik memerlukan kerja sama yang solid antar pemain.
Mendalami Karakter dengan Kecenderungan Gangguan NPD
Dalam proses memerankan Irfan Khalid, Baim tidak ingin asal-asalan dalam menampilkan sisi emosional karakter tersebut tanpa landasan yang kuat. Ia merasa perlu memahami latar belakang mengapa seseorang bisa berubah menjadi pelaku kekerasan terhadap orang yang ia cintai.
“Pelaku kekerasan pasti memiliki latar belakang atau back story yang memicu tindakan tersebut, saya harus memahaminya agar akting saya tidak terlihat dibuat-buat,” tegas Baim. Tanpa motivasi yang jelas, ia merasa karakter tersebut hanya akan menjadi sosok jahat yang datar.
Selama proses pendalaman karakter, Baim aktif berdiskusi dengan sesama aktor, termasuk aktor senior Mathias Muchus yang berperan sebagai ayahnya di film ini. Mereka mencoba membedah masa lalu Irfan untuk menemukan akar dari perilaku kasar yang dimilikinya.
Dari hasil diskusi tersebut, terungkap bahwa Irfan memiliki trauma masa kecil yang mendalam akibat pola asuh ayahnya yang keras. Hal ini menciptakan konflik batin yang aneh, di mana Irfan bisa menyakiti istrinya namun di saat yang sama mengaku masih mencintai wanita itu.
Baim dan tim produksi akhirnya menarik kesimpulan bahwa karakter Irfan Khalid memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Istilah gangguan kepribadian ini belakangan memang sering diperbincangkan oleh publik di media sosial.
Ringkasan informasi mengenai penayangan film Suamiku Lukaku dapat dilihat pada tabel berikut ini:
| Detail Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Judul Film | Suamiku Lukaku |
| Pemeran Utama | Baim Wong dan Acha Septriasa |
| Tanggal Rilis | 27 Mei 2026 |
| Genre | Drama Keluarga / Sosial |
| Isu Utama | Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) |
Film Suamiku Lukaku yang dijadwalkan tayang mulai 27 Mei 2026 ini akan berfokus pada penderitaan tokoh Amina sebagai korban KDRT. Penonton akan diajak melihat bagaimana kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna di luar ternyata menyimpan luka yang sangat dalam.
Secara garis besar, film ini menampilkan kontradiksi karakter Irfan Khalid yang dikenal publik sebagai motivator penuh karisma dan sosok yang menginspirasi banyak orang. Namun, di balik pintu rumah yang tertutup, ia berubah menjadi sosok menyeramkan yang menghancurkan mental dan fisik istrinya sendiri.