Sektor pariwisata di Kabupaten Karangasem, Bali, kini tengah dibayangi kecemasan akibat kemunculan virus Hanta. Para pelaku usaha khawatir ancaman kesehatan ini dapat mengganggu tren kunjungan wisatawan yang baru saja mulai pulih.
I Wayan Kariasa, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karangasem, menyebutkan bahwa industri wisata baru saja bangkit pascapandemi COVID-19. Ia menekankan bahwa sektor pariwisata sangat peka terhadap isu kesehatan global.
Kariasa berharap penanganan virus ini dilakukan dengan sangat serius agar tidak terjadi kelengahan seperti masa lalu. Ia menegaskan pentingnya perlindungan sektor wisata dari dampak negatif isu kesehatan ini.
Situasi Terkini Pariwisata Karangasem
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai dampak langsung virus Hanta terhadap aktivitas wisata di Karangasem. Operasional hotel dan restoran dilaporkan masih berjalan seperti biasa tanpa gangguan berarti.
Tingkat kunjungan wisatawan pun terpantau masih stabil dan cenderung menunjukkan grafik yang positif. Meski begitu, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama bagi para pemilik usaha di sana.
Rincian peningkatan okupansi hotel di Karangasem saat ini:
- Rata-rata hunian hotel sebelumnya berada di kisaran 30 hingga 40 persen.
- Saat ini, angka hunian telah meningkat ke level 45 hingga 50 persen.
Kariasa optimis angka ini akan terus naik, terutama menjelang libur panjang akhir pekan mendatang. Ia berharap wisatawan domestik dan lokal akan tetap meramaikan destinasi wisata di Bali.
Upaya Pengetatan di Pintu Masuk Bali
Menanggapi situasi ini, PHRI mendesak pemerintah untuk memperketat skrining kesehatan di seluruh pintu masuk pulau Bali. Deteksi dini melalui Dinas Kesehatan dianggap sangat krusial untuk mencegah penyebaran virus.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, memastikan bahwa sejauh ini belum ditemukan kasus virus Hanta di wilayahnya. Tim medis terus memperkuat sistem surveilans di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan.
Koordinasi intensif dilakukan mulai dari Puskesmas, Klinik, hingga Rumah Sakit di seluruh Bali. Fokus pemantauan diarahkan pada pasien dengan gejala flu berat yang memiliki riwayat kontak dengan tikus.
Langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah meliputi beberapa aspek:
- Memperketat pengawasan kesehatan di pelabuhan dan bandara internasional.
- Melakukan skrining ketat terhadap kru kapal pesiar dan pekerja migran yang pulang.
- Memantau wilayah kerja yang dianggap memiliki risiko penularan tinggi.
Pengawasan ekstra juga mulai diberlakukan di Bandara Soekarno-Hatta terhadap kedatangan internasional. Fokus utama diberikan pada pelaku perjalanan dari empat negara, yakni Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, dan Panama.
Himbauan untuk Masyarakat dan Wisatawan
Dinas Kesehatan Bali meminta warga untuk tetap tenang namun meningkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Menjaga rumah agar tidak menjadi sarang tikus merupakan langkah pencegahan paling efektif.
Bagi warga yang ingin membersihkan area berdebu atau gudang, disarankan menggunakan masker dan sarung tangan. Hindari menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering agar partikel berbahaya tidak terhirup.
Tindakan yang disarankan jika terjadi kontak dengan area berisiko:
- Menyemprotkan disinfektan pada kotoran tikus sebelum dibersihkan.
- Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi.
- Melaporkan keluhan nyeri otot berat setelah beraktivitas di lingkungan kotor.
Pemerintah berharap kolaborasi antara masyarakat dan pihak berwenang dapat menjaga Bali tetap aman. Dengan demikian, kenyamanan wisatawan tetap terjaga dan pemulihan ekonomi terus berlanjut.