Lanskap persaingan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tingkat global kini sedang memasuki babak yang sepenuhnya baru. Fokus para pemain besar di industri ini mulai bergeser secara signifikan dari sekadar pengembangan chatbot menjadi teknologi yang lebih kompleks.
Raksasa teknologi asal Tiongkok, seperti Alibaba dan Tencent, kini mulai memusatkan energi mereka pada pengembangan embodied AI. Ini merupakan sebuah sistem kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan robot dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan fisik manusia.
Transformasi ini dianggap sebagai lompatan besar dalam evolusi industri teknologi dunia yang sebelumnya sangat bergantung pada layar digital. Kini, teknologi tersebut diarahkan untuk mampu melakukan tindakan nyata di dunia luar secara mandiri.
Pengembangan embodied AI mencakup berbagai kemampuan krusial, mulai dari sistem navigasi robot yang canggih hingga kemampuan untuk menghindari hambatan. Selain itu, sistem ini dirancang untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan fisik di lingkungan yang dinamis dan nyata.
Terobosan Terbaru Alibaba dalam Dunia Robotika
Berdasarkan laporan dari South China Morning Post pada Jumat (29/5/2026), Alibaba Group Holding telah mengambil langkah besar dengan meluncurkan model terbaru mereka. Perusahaan tersebut merilis model AI Qwen3.7-Max yang memiliki keunggulan pada fitur "tool-calling".
Fitur inovatif ini memungkinkan sistem kecerdasan buatan untuk memanggil dan mengoperasikan berbagai perangkat keras maupun lunak secara otomatis. Teknologi ini digadang-gadang akan menjadi fondasi penting bagi masa depan robotika otonom.
Alibaba memposisikan model ini sebagai sebuah "otak digital" yang mampu mengintegrasikan berbagai komponen ke dalam satu sistem tunggal. Dengan koordinasi yang terpadu, robot dapat menjalankan perintah fisik dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
Kemampuan yang ditawarkan mencakup aspek perencanaan tugas yang rumit serta navigasi lingkungan yang lebih akurat. Melalui model ini, robot diharapkan bisa bergerak lebih luwes tanpa harus selalu dipandu secara manual oleh manusia.
Tidak hanya itu, Alibaba juga memperkenalkan rangkaian model pendukung lainnya yang berfokus pada fungsionalitas robotik. Produk-produk pendukung ini mencakup sistem pemandu gerak gripper, model navigasi, serta sistem vision-language khusus.
Langkah masif ini membuktikan bahwa persaingan AI di Tiongkok sudah melampaui batas kemampuan tanya jawab digital. Fokus industri kini benar-benar tertuju pada bagaimana AI mampu mengambil tindakan fisik yang otonom di dunia nyata.
Ekspansi Tencent dan Integrasi Robot Humanoid
Tencent tidak mau ketinggalan dalam persaingan panas ini dengan mempercepat pengembangan kerangka kerja embodied AI mereka sendiri. Mereka memperkenalkan framework yang diberi nama OpenClaw AI agent untuk memperkuat ekosistem robotika mereka.
Pada awal bulan ini, sebuah perusahaan rintisan bernama Zeroth mengumumkan pencapaian penting dalam industri robotika Tiongkok. Robot humanoid produksi massal pertama mereka yang dinamakan M1 telah berhasil mengintegrasikan sistem OpenClaw milik Tencent.
Integrasi teknologi ini memberikan kemampuan yang luar biasa bagi robot untuk memproses instruksi secara langsung. Model bahasa besar di dalamnya mampu menerjemahkan perintah suara manusia menjadi gerakan fisik secara real-time.
Fenomena ini menandai era baru di mana komunikasi antara manusia dan mesin menjadi jauh lebih intuitif dan efisien. Keberadaan robot humanoid yang mampu merespons suara dengan tindakan nyata bukan lagi sekadar visi masa depan.
Beberapa poin utama mengenai pergeseran tren teknologi AI fisik ini adalah:
- Perubahan orientasi teknologi dari pemrosesan data digital ke tindakan fisik di dunia nyata.
- Pengembangan sistem navigasi otonom yang memungkinkan robot menghindari rintangan secara mandiri.
- Pemanfaatan model bahasa besar (LLM) sebagai pusat kendali utama bagi perangkat keras robotik.
- Peningkatan integrasi antara perangkat lunak kecerdasan buatan dengan robot humanoid produksi massal.
Perkembangan di atas menunjukkan betapa cepatnya perusahaan Tiongkok beradaptasi dengan tuntutan pasar teknologi yang terus berkembang. Fokus pada aksi fisik menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan di masa depan.
Evolusi dari Kecerdasan Kognitif ke Kecerdasan Tindakan
Kepala Data Officer Tianyu Shuke, Wu Bangyi, memberikan pandangannya mengenai pergeseran tren yang sangat masif ini. Menurutnya, pengembangan AI dalam beberapa tahun terakhir memang lebih banyak berkutat pada solusi di ranah digital.
Namun, kehadiran physical AI atau AI fisik telah mengubah paradigma mengenai cara mesin memahami realitas. Wu Bangyi menegaskan bahwa inti dari teknologi ini adalah kemampuan untuk menyelesaikan tugas di lingkungan nyata yang kompleks.
Ia menambahkan bahwa saat ini AI sedang berevolusi dari sekadar kecerdasan kognitif menuju kecerdasan tindakan. Artinya, mesin tidak hanya "berpikir" atau "menjawab", tetapi juga "melakukan" pekerjaan layaknya mahluk hidup.
Pandangan serupa juga datang dari kalangan investor yang melihat potensi ekonomi besar di balik teknologi embodied AI. Analis UBS, Carl Berrisford, menyebutkan bahwa agen otonom kini menjadi primadona baru bagi para pemodal.
Berdasarkan laporan pada September 2025, robot berbasis AI diprediksi akan menjadi ceruk pasar yang luar biasa besar. Nilainya diperkirakan akan meledak dalam satu dekade mendatang seiring dengan matangnya teknologi ini.
Tantangan Besar dalam Pengembangan AI Fisik
Meskipun memiliki potensi yang sangat menjanjikan, industri embodied AI masih harus menghadapi sejumlah tantangan teknis yang berat. Salah satu kendala utama yang sering dikeluhkan oleh para pengembang adalah ketersediaan data.
Pihak Goldman Sachs menyoroti bahwa keterbatasan data interaksi dunia nyata yang berkualitas menjadi penghambat utama. Tanpa data yang melimpah, AI akan sulit mempelajari cara berinteraksi dengan lingkungan fisik secara sempurna.
Ringkasan perbandingan antara AI tradisional dan AI fisik dapat dilihat pada tabel berikut:
| Aspek Perbandingan | Chatbot / AI Digital | Embodied AI (AI Fisik) |
|---|---|---|
| Media Interaksi | Layar dan Teks | Perangkat Fisik / Robot |
| Output Utama | Informasi dan Kode | Tindakan dan Pergerakan |
| Lingkungan Kerja | Dunia Maya / Digital | Dunia Nyata / Fisik |
| Fokus Utama | Kognisi dan Bahasa | Navigasi dan Aksi |
Tabel tersebut memberikan gambaran jelas mengenai perbedaan mendasar dari kedua jenis teknologi kecerdasan buatan tersebut. Meskipun berbeda, keduanya tetap saling melengkapi dalam membentuk ekosistem teknologi masa depan yang lebih canggih.
Dengan segala kemajuan dan tantangan yang ada, revolusi AI fisik di Tiongkok dipastikan akan terus berlanjut. Alibaba dan Tencent kini berada di garis terdepan dalam mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin di dunia nyata.