Film "Sekawan Limo 2: Gunung Klawih" mengangkat isu etnis Tionghoa dan mengingatkan kita pada tragedi Mei 1998. Tujuannya adalah untuk memastikan sejarah kelam tersebut tidak dilupakan serta menolak penghapusan sejarah. Indra Pramujito dan Ferry Salim menekankan pentingnya generasi muda memahami masa lalu agar dapat menghargai perbedaan, sembuh dari trauma, dan mencintai Indonesia dengan lebih dalam.
Bayu Skak, sebagai sutradara, menjelaskan bahwa riset yang mendalam dilakukan untuk film ini. Membicarakan sejarah, menurutnya, adalah upaya untuk menghentikan trauma antargenerasi serta menjaga persatuan yang solid.
Jakarta, IDN Times - "Sekawan Limo 2: Gunung Klawih" kembali dengan cerita lima sahabat penuh teror. Tiga tahun setelah film pertama, pertemuan hangat mereka berubah mencekam ketika keluarga Andrew terancam menjadi korban pesugihan. Di samping elemen horor dan komedi, film ini juga mengangkat isu rasial sensitif terkait etnis Tionghoa di Indonesia. Pada konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, para cast dan filmmaker berbagi pandangan akan pesan yang ingin disampaikan film ini.
Indra Pramujito: Alasan Angkat Isu Etnis Tionghoa
Dalam konferensi pers yang berbeda ini, para cast mengenakan cheongsam dan changshan, pakaian khas etnis Tionghoa. Indra Pramujito yang berperan sebagai Andrew, mengungkapkan makna dari kostum yang dikenakan. Dia menyoroti tragedi Mei 1998 yang dialami etnis Tionghoa. Menurutnya, Sekawan Limo 2 tidak bertujuan membuka luka lama, melainkan mengingatkan penonton agar sejarah tidak dilupakan.
Indra menegaskan perlunya belajar dari sejarah, tanpa ada penghapusan ingatan publik. "Kita harus belajar dari sejarah. Jangan ada etnis, suku, atau ras yang dikambinghitamkan, jangan ada kekerasan, dan negara harus mengakui kesalahannya," tegasnya. Dia juga memberi pesan pada masyarakat Tionghoa untuk berani mengatasi trauma masa lalu dan tetap mencintai Indonesia.
Ferry Salim: Isu Penting bagi Generasi Muda
Aktor senior Ferry Salim juga memberikan pandangannya mengenai isu yang diangkat dalam film ini. Menurutnya, sejarah kelam harus dipelajari oleh generasi muda agar tidak terulang. Film ini berani membuka ruang diskusi yang sehat bagi anak muda. "Film ini memberikan pencerahan bahwa untuk menjadi negara yang maju dan bersatu, kita harus menghargai perbedaan," ujar Ferry.
Ferry memuji keberanian naskah film, yang melalui tulisan Nona Ica, mampu menyampaikan isu sensitif dengan pendekatan horor dan komedi. "Film ini punya keberanian dan perbedaan dari film lain. Semoga kita selalu sekawan, sebangsa, dan setanah air," tambahnya.
Bayu Skak: Hentikan Pola Trauma Antargenerasi
Indra juga menyebut beberapa adegan memiliki makna emosional baginya sebagai etnis Tionghoa. Dia menegaskan film ini bukan untuk mengorek luka lama, tetapi mengingatkan pentingnya untuk tidak menghapus sejarah. "Bayu mengambil adegan yang berhubungan dengan kejadian saat itu," katanya.
Bayu Skak, sebagai sutradara, menjelaskan bahwa riset dilakukan dari banyak artikel dan jurnal tragedi tersebut. Menolak membicarakan hal ini akan membuat masyarakat tidak belajar dari masa lalu. "Kita harus belajar bahwa 'piluh' dibalas 'piluh' akan melahirkan 'piluh' lagi. Jangan balas rasa sakit dengan sakit," jelas Bayu.
Bayu menekankan lagi bahwa keberagaman adalah esensi utama film ini. "Inilah pesan Sekawan Limo 2 tentang persatuan kita. Berbagai etnis ada di Indonesia dan kita adalah Republik Indonesia," tutupnya.