Peristiwa tragis mengguncang wilayah Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, setelah seorang balita berusia dua tahun ditemukan tak bernyawa dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Korban mengalami belasan luka tusuk di sekujur tubuh serta luka sayatan pada bagian pipi yang diduga dilakukan oleh pamannya sendiri.
Fakta mengejutkan terungkap saat proses olah tempat kejadian perkara (TKP), di mana nenek korban diketahui sempat mencuci pisau yang diduga menjadi senjata tajam untuk menghabisi nyawa cucunya. Polisi menyebut tindakan tersebut dilakukan secara tidak sadar karena sang nenek dalam kondisi sangat tertekan.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, memberikan penjelasan mengenai tindakan sang nenek yang membersihkan barang bukti utama tersebut. Menurutnya, hal itu dilakukan secara spontan akibat rasa terkejut yang luar biasa saat melihat cucunya bersimbah darah.
Andi menegaskan bahwa nenek tersebut melakukan tindakan tersebut secara refleks karena merasa syok berat. Ia langsung mencuci pisau yang sebelumnya ditemukan tergeletak tidak jauh dari posisi tubuh korban di dalam rumah tersebut.
Penemuan Jasad di Kamar Kontrakan
Pisau yang digunakan dalam aksi keji tersebut ditemukan di dalam rumah kontrakan yang menjadi lokasi kejadian. Lokasi persisnya berada sangat dekat dengan titik ditemukannya jasad balita malang itu pada Rabu, 27 Mei 2026.
Selama ini, korban memang tinggal bersama nenek dan pamannya di kontrakan tersebut sejak masih bayi. Sang nenek telah mengasuh korban sejak usia balita itu baru menginjak dua minggu setelah dilahirkan.
Pada saat kejadian, jasad korban ditemukan di dalam sebuah kamar bersama pamannya yang berinisial G dan berusia 18 tahun. Kontrakan tersebut memiliki tata ruang yang sederhana, di mana area dapur dan kamar tidur menyatu dalam satu ruangan.
Kompol Andi membenarkan bahwa korban ditemukan dalam kondisi penuh luka tusuk di dalam kamar bersama pamannya. Sang paman juga ditemukan dalam kondisi terluka parah saat pihak berwenang tiba di lokasi kejadian.
Kondisi Luka Korban dan Pelaku
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, korban menderita luka yang sangat fatal di berbagai bagian tubuhnya. Polisi mencatat ada belasan titik luka yang tersebar mulai dari area kepala hingga bagian bawah tubuh korban.
Luka-luka tersebut ditemukan pada bagian wajah, kepala, badan, hingga area selangkangan korban. Selain luka tusukan, terdapat juga luka iris yang sangat dalam pada bagian pipi balita tersebut.
Andi menjelaskan bahwa sayatan di pipi korban sangat parah hingga membuat bagian mulut dan pipinya terlihat terbuka. Total luka yang ditemukan pada tubuh balita itu diperkirakan berjumlah lebih dari sepuluh tusukan.
Sementara itu, paman korban yang kini menjadi terduga pelaku juga mengalami luka tusuk di bagian dada serta pipi kiri dan kanan. Hingga saat ini, G masih harus menjalani perawatan medis secara intensif di rumah sakit karena kondisinya sempat kritis.
Berikut adalah rincian luka yang dialami oleh korban dan terduga pelaku berdasarkan keterangan kepolisian:
- Luka Balita (Korban): Mengalami belasan luka tusuk dan iris pada bagian kepala, wajah, badan, selangkangan, serta sayatan lebar pada pipi yang terbuka hingga ke mulut.
- Luka Paman (Terduga Pelaku): Mengalami luka tusukan pada bagian dada serta luka sayatan di kedua sisi pipi (kiri dan kanan).
Pihak kepolisian masih menunggu kondisi kesehatan paman korban stabil sebelum bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini, statusnya masih sebagai terduga pelaku sambil menunggu pengumpulan bukti-bukti yang lebih lengkap.
Dugaan Gangguan Jiwa dan Putus Obat
Polisi mengungkapkan bahwa ada latar belakang medis terkait kondisi kejiwaan paman korban yang diduga menjadi pemicu aksi nekat tersebut. Berdasarkan keterangan keluarga, pelaku diketahui memiliki riwayat gangguan mental.
Hasil investigasi di lapangan dan keterangan dari sang nenek menunjukkan bahwa G pernah dibawa ke psikiater untuk mendapatkan penanganan medis. Ia dikonfirmasi mengidap gangguan kejiwaan dan diwajibkan untuk mengonsumsi obat secara rutin.
Namun, dalam dua hari terakhir sebelum kejadian nahas itu terjadi, paman korban diketahui sudah tidak lagi meminum obatnya. Hal ini terjadi karena kendala ekonomi yang dialami oleh keluarga tersebut.
Nenek korban mengaku tidak memiliki biaya untuk menebus kembali obat-obatan yang dibutuhkan oleh putranya tersebut. Akibatnya, kondisi kejiwaan G diduga menjadi tidak stabil hingga berujung pada tragedi maut yang menimpa cucunya sendiri.
Ringkasan informasi mengenai latar belakang medis terduga pelaku dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Kategori Informasi | Detail Keterangan |
|---|---|
| Riwayat Medis | Pernah menjalani perawatan di psikiater secara resmi. |
| Status Kejiwaan | Terdiagnosis mengalami gangguan jiwa dan wajib berobat jalan. |
| Pemicu Insiden | Tidak mengonsumsi obat rutin selama dua hari terakhir. |
| Alasan Putus Obat | Faktor ekonomi atau tidak adanya biaya untuk menebus obat. |
Tabel di atas merangkum kondisi kesehatan mental paman korban yang menjadi salah satu fokus penyelidikan kepolisian saat ini. Polisi berencana melanjutkan proses permintaan keterangan segera setelah tim medis menyatakan kondisi G sudah membaik.
Kasus ini menjadi perhatian serius bagi aparat kepolisian di Bekasi mengingat tingkat kekejaman yang dialami oleh korban balita. Investigasi mendalam masih terus dilakukan untuk memastikan motif utama di balik peristiwa berdarah di Jatisampurna ini.