Dampak abrasi di pesisir Pulau Dewata dilaporkan semakin meluas dan mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Salah satu titik terdampak paling parah berada di Kabupaten Jembrana, di mana keberadaan Pura Rambut Siwi kini terancam runtuh.
Fenomena alam ini terjadi di kawasan Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, dengan gempuran ombak yang terus mengikis area suci tersebut. Sejumlah bagian bangunan di Pura Tirta Rambut Siwi dilaporkan telah mengalami kerusakan serius dan berada di ambang keruntuhan.
Kondisi Infrastruktur Pura yang Memprihatinkan
Kerusakan paling signifikan terlihat tepat di bagian bawah Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi akibat gerusan air laut. Tembok penyengker serta Kori Pura Tirta kini telah hancur sepenuhnya setelah tersapu oleh ombak yang kencang.
Selain struktur pembatas, bangunan Bale Pesandegan yang berada di area dalam pura juga sudah jebol dan posisinya hampir ambruk. Situasi ini menimbulkan rasa waswas bagi para pemedek yang datang untuk melaksanakan ibadah di lokasi tersebut.
Daftar kerusakan utama yang terjadi di kawasan Pura Tirta Rambut Siwi:
- Hancurnya tembok penyengker yang berfungsi sebagai pagar pembatas area suci.
- Kerusakan total pada struktur Kori Pura Tirta akibat hantaman ombak secara terus-menerus.
- Bangunan Bale Pesandegan yang nyaris roboh karena pondasinya telah terkikis abrasi.
- Hilangnya lahan pesisir di bawah struktur utama pura yang mengancam stabilitas tanah.
Kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena jika dibiarkan tanpa penanganan teknis, seluruh bangunan pura diprediksi akan rata dengan tanah dalam waktu dekat.
Desakan Penanganan kepada Pemerintah
Juru Sapuh Pura Tirta, Mangku Widi, mengungkapkan bahwa proses kerusakan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Ia mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah nyata sebelum seluruh situs suci tersebut benar-benar hilang.
Menurut keterangannya, pihak pengelola pura telah mendengar kabar bahwa pemerintah daerah sedang mengusulkan bantuan ke pusat. Harapan besar digantungkan agar realisasi perbaikan infrastruktur penahan ombak bisa segera dilaksanakan di lapangan.
Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh pihak desa dan pengelola pura:
- Melaporkan kondisi terkini kerusakan akibat abrasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana.
- Mengajukan permohonan penanganan teknis secara resmi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.
- Melakukan survei lapangan bersama tim teknis untuk memetakan tingkat keparahan abrasi.
- Mengadakan aksi gotong royong sebagai upaya perlindungan darurat di area pesisir pura.
Meskipun koordinasi telah dilakukan, warga masih menunggu adanya tindakan fisik yang nyata untuk membentengi kawasan suci tersebut dari ancaman laut.
Upaya Darurat yang Belum Efektif
Perbekel Yehembang Kangin, Gede Suardika, membenarkan bahwa skala kerusakan saat ini sudah sangat besar. Hal ini membuat penanganan darurat yang dilakukan secara swadaya tidak lagi mampu membendung kekuatan ombak.
Sebelumnya, masyarakat bersama aparat TNI/Polri dan pemerintah kecamatan sempat bergotong royong membangun tanggul sementara. Mereka menggunakan karung berisi pasir atau kampil untuk menambal area pesisir yang tergerus air.
Namun, Suardika mengakui bahwa metode tersebut terbukti tidak efektif mengingat beban kerusakan yang masuk kategori berat. Ia menegaskan bahwa kewenangan dan solusi teknis yang mumpuni kini berada sepenuhnya di tangan BWS Bali Penida.
Masyarakat berharap survei yang telah dilakukan oleh tim BWS segera ditindaklanjuti dengan pembangunan struktur permanen. Keberadaan Pura Rambut Siwi bukan hanya sebagai tempat ibadah, namun juga merupakan warisan budaya penting di Bali.