Memasuki pertengahan tahun 2026, antusiasme masyarakat terhadap genre horor tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda meredup. Berbagai judul film baru terus menghiasi layar lebar setiap bulannya, memicu perbincangan hangat di media sosial hingga memicu perdebatan sengit di situs ulasan Rotten Tomatoes.
Beberapa film seperti Obsession, 28 Years Later: The Bone Temple, dan Hokum tercatat sukses memikat hati kritikus maupun penonton sekaligus. Ketiga film tersebut dianggap berhasil menyajikan kualitas cerita yang solid, atmosfer yang mencekam, serta eksekusi elemen horor yang sangat mengesankan bagi semua kalangan.
Namun, tidak semua film horor yang dirilis tahun ini mendapatkan sambutan yang seragam dari para penikmat film dan pengamat profesional. Terdapat beberapa judul yang justru menjadi sasaran kritik tajam dari para ahli, meski di sisi lain tetap dipuja dan dicintai oleh audiens umum.
Fenomena ini terlihat jelas dari skor audiens atau Popcornmeter yang melesat jauh melampaui skor Tomatometer di situs Rotten Tomatoes. Mulai dari interpretasi liar kisah Frankenstein hingga kembalinya teror ikonik Ghostface, berikut adalah daftar empat film horor 2026 yang memicu perbedaan pendapat tajam antara penggemar dan kritikus.
1. The Bride!
Film yang disutradarai oleh Maggie Gyllenhaal ini sebenarnya bertabur bintang besar seperti Christian Bale dan Jessie Buckley. Namun, kehadiran nama-nama mentereng tersebut ternyata tidak serta-merta membuat The Bride! mendapatkan penilaian positif dari para kritikus film saat pertama kali dirilis.
Mengambil latar kota Chicago pada tahun 1930-an, narasi film ini berpusat pada sosok monster Frankenstein yang diperankan oleh Bale. Ia melakukan tindakan nekat dengan menghidupkan kembali seorang wanita korban pembunuhan yang diperankan oleh Jessie Buckley untuk menjadi pendampingnya.
Alih-alih menjadi sosok yang patuh, karakter "sang pengantin" ini justru menemukan jati diri dan kebebasan radikalnya sendiri. Hal tersebut memicu romansa yang penuh kekacauan layaknya kisah Bonnie and Clyde di tengah aksi kejar-kejaran polisi yang sangat menegangkan.
Kritikus di Rotten Tomatoes cenderung memberikan ulasan negatif karena menganggap alur cerita film ini terlalu padat. Mereka menilai Maggie Gyllenhaal terlalu ambisius dalam mencampuradukkan berbagai genre sehingga hasilnya dirasa kurang fokus bagi para pengamat profesional.
Sebaliknya, kubu penonton justru memberikan apresiasi tinggi dan sangat menyukai energi liar yang ditawarkan oleh film ini. Penonton merasa terhibur dengan pendekatan berani yang diambil sutradara dalam membawakan ulang kisah klasik tersebut ke layar lebar.
Salah satu poin utama yang membuat audiens jatuh cinta adalah chemistry luar biasa antara Jessie Buckley dan Christian Bale. Interaksi keduanya dianggap sebagai jantung utama film yang mampu menghadirkan emosi mendalam sekaligus keseruan yang sulit untuk dilewatkan begitu saja.
2. Dracula
Nasib serupa juga menimpa karya terbaru dari sutradara kenamaan Luc Besson yang berjudul Dracula, atau dikenal juga dengan judul Dracula: A Love Tale. Film ini mencoba meramu elemen romantisme gotik, drama sejarah, hingga horor supernatural menjadi satu kesatuan cerita yang unik.
Sayangnya, usaha Besson tersebut justru memanen ulasan miring dari para kritikus yang menganggap pergeseran nada atau tone film ini terasa berantakan. Para pengamat merasa transisi antara drama dan horor di dalamnya tidak berjalan dengan mulus secara teknis.
Meski demikian, pendekatan berbeda yang ditawarkan Luc Besson justru berhasil mendongkrak skor audiens hingga melambung tinggi. Penonton tampaknya lebih bisa menerima visi kreatif sang sutradara dibandingkan dengan penilaian kaku dari para kritikus film.
Dalam versi ini, Dracula tidak digambarkan sebagai monster haus darah yang hanya menyebar teror tanpa alasan yang jelas. Film ini justru memilih untuk mengeksplorasi sisi kemanusiaan dari karakter ikonik tersebut yang digambarkan penuh dengan luka batin dan kesedihan mendalam.
Ceritanya mengikuti perjalanan seorang pangeran dari abad ke-15 yang diperankan oleh Caleb Landry Jones setelah kehilangan istri tercintanya. Ia menghabiskan waktu selama ratusan tahun untuk mencari reinkarnasi sang istri dalam wujudnya sebagai mahluk abadi, Dracula.
Premis yang tragis dan menyentuh ini, ditambah dengan akting memikat dari Caleb Landry Jones, menjadi faktor penyelamat bagi film ini. Penampilannya yang mampu menunjukkan sisi vampir yang rapuh namun tetap mengintimidasi sukses membuat penonton merasa terkesan.
3. Lee Cronin's The Mummy
Beralih ke genre creature feature, terdapat film Lee Cronin's The Mummy yang diarahkan oleh sutradara di balik kesuksesan Evil Dead Rise, Lee Cronin. Film ini membawa sudut pandang baru dalam mitologi mumi yang selama ini sudah sangat populer di dunia perfilman.
Kisah ini menyoroti kehidupan seorang jurnalis dan keluarganya yang dikejutkan oleh kepulangan putri mereka, Katie, setelah hilang selama delapan tahun. Kejadian misterius tersebut terjadi di gurun Mesir dan awalnya dianggap sebagai sebuah keajaiban bagi keluarga tersebut.
Namun, suasana rumah yang semula penuh haru dengan cepat berubah menjadi teror yang sangat mencekam. Mereka baru menyadari bahwa sosok yang kembali bukanlah Katie yang dulu, melainkan tubuh yang telah dirasuki oleh iblis kuno Mesir yang haus akan darah.
Saat film ini ditayangkan, audiens umum memberikan sambutan yang sangat meriah karena Cronin berhasil merombak citra mumi. Ia meninggalkan kesan mumi sebagai film aksi petualangan ala Brendan Fraser dan mengubahnya menjadi sosok yang benar-benar mengerikan.
Penonton merasa sangat puas dengan sajian jump scare yang efektif, ketegangan yang dibangun tanpa henti, serta visual body horror yang memukau. Elemen-elemen horor fisik tersebut dianggap berhasil memberikan pengalaman menonton yang sangat intens bagi para penggemar.
Di sisi lain, para kritikus film memberikan penilaian yang berbanding terbalik karena menganggap proyek kolaborasi Blumhouse dan Atomic Monster ini kurang orisinal. Mereka menilai film ini terlalu mengekor formula film kesurupan klasik seperti The Exorcist dibandingkan mengeksplorasi mitologi Mesir secara lebih mendalam.
4. Scream 7
Meskipun mencatatkan angka penjualan tiket yang luar biasa di box office tahun ini, Scream 7 harus menerima kenyataan pahit dari sisi penilaian. Film ini menjadi seri dengan rating terendah di Rotten Tomatoes dibandingkan seluruh film dalam waralaba Scream sebelumnya.
Kritik utama datang dari para pakar yang merasa identitas asli Scream berupa komentar meta yang cerdas kini telah hilang. Mereka menganggap naskah film ketujuh ini sudah beralih menjadi film slasher biasa dengan alur cerita yang terkesan klise dan mudah ditebak.
Namun, pandangan sinis kritikus tersebut tidak menghalangi antusiasme para penggemar setia yang tetap melabeli Scream 7 sebagai tontonan brutal yang menghibur. Bagi penonton, kehadiran kembali karakter legendaris sudah menjadi kepuasan tersendiri yang sangat bernilai.
Kemunculan Sidney Prescott yang diperankan oleh Neve Campbell menjadi daya tarik utama yang mampu membayar harga tiket penonton. Dalam sekuel ini, kehidupan Sidney kembali terusik ketika Ghostface baru mulai mengincar nyawa putri remajanya yang bernama Tatum.
Ketegangan semakin memuncak saat sang pembunuh mengklaim dirinya sebagai Stu Macher, sosok Ghostface lama yang diperankan oleh Matthew Lillard. Hal ini memicu spekulasi besar di antara penonton mengenai identitas asli sang pembunuh yang penuh misteri tersebut.
Muncul pertanyaan apakah teror ini merupakan hasil manipulasi teknologi AI yang canggih atau justru menandakan kembalinya sosok dari masa lalu Sidney. Perdebatan mengenai plot twist inilah yang membuat audiens tetap setia mengikuti jalannya cerita hingga akhir film.
Ringkasan perbandingan penilaian film horor 2026 di Rotten Tomatoes:
| Judul Film | Skor Tomatometer (Kritikus) | Skor Popcornmeter (Penonton) |
|---|---|---|
| The Bride! | 57 Persen | 70 Persen |
| Dracula | 54 Persen | 82 Persen |
| The Mummy | 47 Persen | 73 Persen |
| Scream 7 | 31 Persen | 74 Persen |
Tabel di atas menunjukkan kesenjangan yang cukup signifikan antara perspektif teknis para ahli dengan kepuasan yang dirasakan oleh audiens umum. Skor audiens yang lebih tinggi membuktikan bahwa faktor hiburan sering kali memiliki bobot lebih besar bagi para penggemar film horor.
Ketidaksamaan pendapat antara kritikus dan penonton memang merupakan hal yang lumrah terjadi dalam industri perfilman dunia. Empat film di atas menjadi bukti nyata bahwa sensasi ketakutan dan faktor nostalgia terkadang jauh lebih penting bagi fans daripada sekadar penilaian teknis.
Terlepas dari cibiran para pengamat, kesuksesan film-film tersebut di mata audiens menunjukkan bahwa pasar horor memiliki standarnya sendiri. Lantas, dari The Bride! hingga Scream 7, manakah film yang menurut Anda paling layak untuk tetap mendapatkan tempat di hati para penonton?