Bukan Ilmu Pasti, 3 Prodi Humaniora UGM Justru Masuk Top 100 Dunia
Prodi di bidang eksakta sering kali dianggap paling unggul karena relevansinya dengan industri. Namun, tiga prodi rumpun sosial humaniora di Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil masuk jajaran 100 besar dunia menurut QS World University Rankings by Subject. Ketiga prodi tersebut adalah Theology, Anthropology, dan Development Studies.
Hal ini diungkapkan oleh Rektor UGM, Ova Emilia, dalam acara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana, pada hari Rabu (20/5). Menurut Ova, keberhasilan ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kepentingan industri semata. Prodi sosial humaniora UGM bahkan mampu bersaing secara global dengan Theology masuk dalam 45 besar dunia, sementara Anthropology dan Development Studies berada dalam kelompok 100 besar dunia.
Ova menegaskan, penguatan bidang-bidang ini mencerminkan kualitas keilmuan UGM yang semakin diakui secara internasional. Ini menunjukkan bahwa pengembangan akademik di UGM dilakukan secara terarah dan konsisten, sehingga dapat berkontribusi pada masyarakat di tingkat global.
Menurut Ova, pendidikan tinggi harus disusun secara komprehensif, termasuk memperkuat prodi sosial humaniora yang dinilai penting untuk kehidupan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan sosial dan kemajuan.
Pendidikan, tegas Ova, memiliki peran sebagai ruang pembebasan yang memberi keadilan dan kemajuan kepada masyarakat. Ini dikatakan dalam menanggapi wacana penghapusan prodi yang dianggap tidak relevan. Menurutnya, eksistensi prodi harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan sosial yang terus berkembang.
Pada periode wisuda kali ini, UGM meluluskan 1.762 mahasiswa yang terdiri dari 1.644 sarjana dan 118 sarjana terapan. Di antara lulusan tersebut, lima adalah warga negara asing. Rata-rata masa studi sarjana adalah 3 tahun 11 bulan dengan IPK rata-rata 3,6. Sebanyak 72 persen lulusan meraih predikat pujian, dan ada tiga wisudawan dengan IPK sempurna 4,00.
Dalam sambutannya, Ova menekankan pentingnya lulusan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Menurutnya, pengalaman di kampus tidak hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membangun integritas, pola pikir kritis, serta kesiapan menghadapi masa depan.
```