Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak banjir bandang menghantam Provinsi Aceh, namun kondisi pendidikan di wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih. Sebanyak 220 pelajar jenjang SD dan SMP di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, terpaksa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam tenda darurat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, mengungkapkan bahwa semangat belajar para siswa tetap tinggi meski fasilitas yang tersedia sangat terbatas. Hal ini ia sampaikan pada Jumat (3/4/2026) sebagai bentuk apresiasi terhadap ketangguhan para murid dan tenaga pengajar di lokasi bencana.
Rincian jumlah siswa yang terdampak dan kini bersekolah di tenda darurat adalah sebagai berikut:
- SDN 1 Beutong Ateuh Banggalang: Sebanyak 123 orang, terdiri dari 55 siswa laki-laki dan 68 siswa perempuan.
- SMPN Beutong Ateuh: Sebanyak 97 orang, terdiri dari 54 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan.
Data tersebut mencerminkan banyaknya anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus agar hak pendidikan mereka tidak terabaikan pascabencana. Meskipun sarana fisik hancur, proses transfer ilmu tetap diupayakan berjalan setiap harinya di lingkungan yang alakadarnya.
Upaya Pemerintah Daerah Mengatasi Kendala Fasilitas
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya terus bergerak cepat agar proses belajar mengajar tidak terhenti total akibat kerusakan infrastruktur. Langkah ini diambil sesuai dengan arahan langsung dari Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan, demi masa depan para siswa.
Zulkifli menjelaskan bahwa gedung SMP yang lama sudah tidak dapat digunakan lagi karena kondisinya hancur atau sangat tidak layak. Sebagai solusinya, pihak Dinas Pendidikan telah berkoordinasi untuk memindahkan lokasi belajar ke fasilitas milik instansi lain.
Pemerintah daerah akhirnya menjalin kesepakatan dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) setempat. Gedung milik Disperindagkop yang sedang menganggur kini dialihfungsikan untuk sementara sebagai ruang kelas darurat bagi para siswa SMP.
Kerja sama ini berjalan lancar setelah mendapat izin resmi dari Kepala Disperindagkop Nagan Raya, Samsuar. Dengan adanya tempat berteduh yang lebih kokoh dari tenda, diharapkan kenyamanan para siswa saat belajar dapat sedikit meningkat.
Dukungan Psikologis dan Peran Tenaga Pendidik
Selain infrastruktur, pemulihan mental para siswa juga menjadi prioritas utama pihak sekolah dan pemerintah. Berbagai program pendampingan psikologis atau trauma healing telah dilakukan oleh kelompok mahasiswa hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Kehadiran berbagai pihak eksternal ini bertujuan untuk mengembalikan keceriaan anak-anak setelah mengalami trauma bencana banjir bandang. Zulkifli menyatakan bahwa kondisi psikis para siswa kini sudah jauh lebih baik dan mereka mulai menerima keadaan saat ini dengan lapang dada.
Keberhasilan proses adaptasi di sekolah darurat ini juga didukung oleh latar belakang para guru yang mayoritas merupakan warga asli Beutong Ateuh Banggalang. Karena memiliki keterikatan emosional dan memahami medan, mereka mampu menjalankan kurikulum reguler meskipun dalam situasi darurat.
Rencana Pembangunan Gedung Sekolah Baru
Harapan untuk memiliki fasilitas pendidikan yang layak mulai terlihat seiring adanya dukungan dari pemerintah pusat. Rencananya, dua gedung sekolah baru akan segera dibangun pada tahun 2026 mendatang untuk menggantikan bangunan yang rusak.
Kepastian pembangunan ini menyusul kunjungan tim Kemendikbud Republik Indonesia ke Nagan Raya untuk melakukan survei lokasi dan pendataan kerusakan. Proyek ini menjadi prioritas nasional guna memulihkan sektor pendidikan yang terdampak bencana hidrometeorologi tahun lalu.
Langkah persiapan yang telah dilakukan pemerintah daerah meliputi:
- Penyediaan dua lokasi lahan baru yang strategis untuk pembangunan gedung SD dan SMP.
- Penyelesaian dokumen administrasi dan legalitas tanah agar pembangunan tidak terkendala di masa depan.
Pemerintah daerah berharap sinyal positif dari pusat ini dapat terealisasi tanpa kendala teknis agar siswa tidak terlalu lama berada di tenda. Fokus saat ini adalah memastikan seluruh kelengkapan administratif siap sebelum konstruksi dimulai oleh pemerintah pusat.
Bencana ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk saling membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan. Dukungan sekecil apa pun, baik berupa donasi maupun bantuan lainnya, akan sangat berarti bagi para korban banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.