Waspada, Ekspor SDA Satu Pintu Berisiko Tekan Rupiah ke Rp25.000 di 2026

Waspada, Ekspor SDA Satu Pintu Berisiko Tekan Rupiah ke Rp25.000 di 2026
Foto: Waspada, Ekspor SDA Satu Pintu Berisiko Tekan Rupiah ke Rp25.000 di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kebijakan pemerintah untuk memusatkan ekspor Sumber Daya Alam (SDA) melalui satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menuai kritik tajam. Founder sekaligus Chief Marketing Officer & Partner Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, memperingatkan adanya risiko besar di balik langkah ini.

Menurut sosok yang akrab disapa Tjoe Ay tersebut, skenario terburuk dari penerapan kebijakan ini bisa berdampak pada stabilitas mata uang nasional. Ia memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi anjlok hingga menyentuh level Rp25.000 per dolar AS jika transisi dilakukan secara gegabah.

Potensi Gangguan Ekspor dan Aliran Valas

Tjoe Ay menilai bahwa kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia terkesan dilakukan secara terburu-buru. Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu hubungan dagang yang sudah terjalin antara perusahaan dalam negeri dengan pembeli internasional.

Pengalihan seluruh aktivitas penjualan SDA ke satu badan milik negara berisiko membuat pelanggan luar negeri merasa tidak nyaman. Dampak jangka panjangnya, para pembeli tersebut mungkin akan mencari alternatif pemasok dari negara lain yang memiliki prosedur lebih sederhana.

Selain itu, mekanisme penjualan yang diserahkan sepenuhnya kepada Danantara Sumberdaya Indonesia berpotensi memperlambat proses penyesuaian jual beli. Penundaan atau hambatan birokrasi dalam transaksi internasional ini dapat mengganggu kelancaran arus kas perusahaan eksportir.

Tjoe Ay mengkhawatirkan paksaan untuk menggunakan badan ekspor tunggal tanpa masa transisi yang matang akan menurunkan pendapatan devisa negara. Penurunan penerimaan dalam bentuk dolar AS ini nantinya akan memicu reaksi negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional.

Berikut adalah beberapa poin risiko utama yang disoroti terkait kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara:

  • Depresiasi Nilai Tukar: Potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang sangat drastis hingga mencapai level Rp25.000 per dolar AS.
  • Kehilangan Pelanggan: Risiko beralihnya pembeli internasional ke negara pesaing karena ketidakpastian prosedur ekspor baru.
  • Penurunan Peringkat Kredit: Potensi penurunan rating atau downgrade oleh lembaga internasional seperti S&P dan Moody’s akibat jebloknya pendapatan dolar.
  • Hambatan Arus Kas: Prosedur administrasi yang lebih panjang dapat memperlambat proses penagihan dan penerimaan hasil ekspor.
  • Stagnasi Industri: Kurangnya gairah di sektor pertambangan dan minerba akibat hilangnya fleksibilitas dalam kegiatan perdagangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Tjoe Ay dalam acara Stock Idea Festival yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026). Ia menegaskan bahwa tanpa persiapan yang matang, kebijakan ini justru akan menjadi bumerang bagi perekonomian nasional.

Kekhawatiran Pelaku Pasar dan Lembaga Internasional

Kritik dari praktisi pasar modal ini sejalan dengan indikasi ketidaknyamanan investor asing terhadap monopoli ekspor SDA. S&P Global Ratings sebelumnya juga telah memetakan tiga risiko utama yang mungkin timbul dari keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia dalam ekosistem perdagangan.

Pemerintah sendiri terus berupaya meyakinkan publik mengenai efektivitas badan ini, termasuk dengan menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai pimpinan PT DSI. Langkah ini diharapkan mampu mengelola ekspor komoditas strategis seperti feronikel dan batu bara dengan lebih efisien.

Tabel di bawah ini merangkum perbandingan antara kondisi saat ini dengan risiko pasca penerapan ekspor satu pintu:

Aspek Penilaian Kondisi Ekspor Saat Ini Risiko Ekspor Satu Pintu (PT DSI)
Nilai Tukar Rupiah Berfluktuasi sesuai pasar Potensi jatuh hingga Rp25.000/USD
Prosedur Penjualan Langsung ke pelanggan luar negeri Wajib melalui Danantara Sumberdaya
Kecepatan Arus Kas Relatif lebih cepat dan mandiri Berisiko melambat akibat birokrasi
Rating Ekonomi Stabil (S&P, Moody's) Berisiko downgrade jika devisa turun

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun tujuannya adalah optimalisasi pendapatan negara, terdapat tantangan struktural yang nyata. Pelaku pasar berharap pemerintah tidak mengabaikan suara dari industri agar gairah investasi di sektor minerba tetap terjaga.

Hingga saat ini, perdebatan mengenai efektivitas ekspor satu pintu masih terus bergulir di tengah ketidakpastian ekonomi global. Fokus pasar pada pekan ini diprediksi akan tertuju pada bagaimana pemerintah merespons kekhawatiran mengenai depresiasi rupiah dan implementasi teknis PT DSI.

Meski Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan respons pengusaha positif, tantangan di lapangan tetap memerlukan mitigasi yang serius. Kesuksesan program ini sangat bergantung pada kemampuan Danantara dalam mengelola volume ekspor senilai miliaran dolar tanpa mengganggu stabilitas moneter.

Artikel terkait

Rekomendasi