Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memberikan pernyataan resmi mengenai tantangan besar dalam menjaga keamanan wilayah laut nusantara. Pengakuan ini muncul seiring dengan terdeteksinya peralatan asing di kawasan perairan dalam Indonesia.
Pihak TNI AL mengakui bahwa saat ini sistem pengawasan bawah laut atau underwater surveillance di Indonesia memang belum berjalan secara maksimal. Kondisi tersebut menjadi sorotan utama setelah ditemukannya sebuah perangkat pemantau bawah laut milik China di wilayah strategis Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Tantangan Biaya dan Teknologi Pengawasan Bawah Laut
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menjelaskan bahwa infrastruktur pengawasan bawah laut membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Hal ini disampaikannya saat menghadiri pertemuan di DPR pada Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut Ali, proses untuk mengoptimalkan pemantauan di bawah permukaan air tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan waktu yang cukup panjang serta dukungan anggaran atau biaya yang relatif tinggi untuk membangun sistem pertahanan laut yang mumpuni.
Laksamana Ali juga memberikan klarifikasi mengenai identitas perangkat asal China yang ditemukan melintasi perairan Indonesia tersebut. Ia menegaskan bahwa alat tersebut bukanlah jenis kendaraan udara tak berawak (UAV) yang umumnya digunakan untuk keperluan pertempuran.
Perangkat tersebut diidentifikasi sebagai Underwater Unmanned Vehicle (UUV) dengan spesifikasi yang jauh lebih sederhana dibandingkan mesin tempur. Fokus utama dari pengoperasian alat tersebut biasanya berkaitan dengan misi penelitian atau riset kelautan tertentu.
Berikut adalah beberapa fungsi teknis dari perangkat sensor bawah laut yang ditemukan :
- Mengukur tingkat salinitas atau kadar keasinan di kedalaman laut tertentu.
- Memantau kekuatan arus air di jalur perlintasan bawah laut.
- Melakukan pemetaan terhadap kecepatan arus di berbagai lapisan air.
- Mendeteksi kondisi lapisan air yang memengaruhi propagasi suara.
Data-data fisik air laut tersebut sangat krusial dalam memahami dinamika oseanografi di wilayah perairan Indonesia. Penjelasan ini bertujuan untuk meredam kekhawatiran masyarakat mengenai potensi ancaman senjata militer langsung dari perangkat tersebut.
Potensi Penggunaan Ganda untuk Kepentingan Militer
Meskipun secara teknis sering digunakan oleh pihak sipil untuk riset ilmiah, Ali memperingatkan adanya potensi penggunaan ganda pada alat ini. Data yang dikumpulkan oleh sensor tersebut rupanya memiliki nilai strategis bagi operasional militer, khususnya kapal selam.
Laksamana Ali memaparkan bahwa informasi mengenai lapisan bawah air sangat dibutuhkan oleh awak kapal selam untuk melakukan manuver tersembunyi. Dengan data tersebut, kapal selam dapat menentukan posisi yang tepat agar bisa menghindari deteksi dari sensor sonar lawan.
Ringkasan perbandingan karakteristik penggunaan perangkat UUV tersebut :
| Aspek Penggunaan | Tujuan Sipil / Riset | Tujuan Militer / Strategis |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Studi kelautan dan lingkungan | Pengumpulan data intelijen bawah laut |
| Manfaat Data | Memahami ekosistem dan arus | Membantu navigasi siluman kapal selam |
| Target Operasi | Wilayah perairan umum | Jalur lintas strategis (Chokepoint) |
Tabel di atas menunjukkan bagaimana satu alat yang sama bisa memberikan dampak yang sangat berbeda tergantung pada siapa yang mengolah datanya. Oleh karena itu, kehadiran alat pemantau asing di Selat Lombok tetap menjadi perhatian serius bagi kedaulatan wilayah Indonesia.
Upaya Penguatan Diplomasi dan Keamanan Maritim
Isu mengenai keamanan bawah laut ini menjadi relevan dengan visi diplomasi maritim yang sedang diperkuat oleh pimpinan TNI AL. Sebelumnya, Laksamana Muhammad Ali juga sempat meluncurkan karya tulisnya yang membahas mengenai strategi diplomasi di sektor kelautan.
Buku berjudul "Diplomasi Sang Hiu Kencana" tersebut diluncurkan di Koarmada II, Surabaya, pada April lalu. Dalam literatur tersebut, ditekankan pentingnya peran aktif TNI AL dalam menjaga stabilitas kawasan melalui pendekatan profesional dan kerja sama internasional.
Tantangan pengawasan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk memberikan dukungan lebih pada modernisasi alutsista laut. Hal ini bertujuan agar celah keamanan di wilayah-wilayah krusial seperti Selat Lombok tidak lagi mudah ditembus oleh pihak asing tanpa izin resmi.
TNI AL berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan deteksi dini di wilayah perairan nasional meskipun menghadapi keterbatasan anggaran. Koordinasi dengan berbagai lembaga terkait terus diperkuat guna memastikan kedaulatan wilayah bawah laut Indonesia tetap terjaga dengan aman.