Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) memberikan sorotan tajam terhadap penetapan target produksi siap jual atau lifting migas Indonesia tahun 2027. Angka yang tertuang dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dinilai cenderung mendatar atau stagnan.
Kondisi ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan target lifting yang ditetapkan pemerintah pada tahun berjalan. Fenomena ini memicu kekhawatiran mengenai masa depan ketahanan energi nasional di masa mendatang.
Indikasi Kelesuan Sektor Hulu Migas
Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menyampaikan pandangannya mengenai angka-angka yang tercantum dalam dokumen kebijakan fiskal tersebut. Menurutnya, target lifting minyak sebesar 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph) menunjukkan sinyal negatif.
Sementara itu, target untuk produksi gas bumi ditetapkan berada pada kisaran 934.000 sampai 977.000 barel setara minyak per hari (boepd). Moshe menilai proyeksi ini merupakan cerminan nyata dari lesunya aktivitas eksplorasi di tanah air.
Kurangnya pengembangan pada wilayah kerja (WK) baru menjadi faktor utama mengapa angka produksi tidak mengalami lonjakan signifikan. Ia menyayangkan tren penurunan ini mengingat potensi migas Indonesia yang sebenarnya masih tersedia untuk dikelola.
Moshe juga menyoroti dinamika investasi di sektor hulu migas yang sempat menunjukkan tanda-tengah pemulihan. Gairah investasi tersebut sempat terasa cukup kuat pada pertengahan tahun 2022, tepat setelah masa pandemi Covid-19 mulai mereda.
Namun, momentum positif tersebut perlahan mulai memudar dan berubah menjadi kelesuan yang berkelanjutan. Ia berpendapat bahwa persoalan utama dari penurunan ini berakar pada ketidakkonsistenan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah.
Dua Kunci Utama Iklim Investasi
Berikut adalah poin-poin yang menjadi indikator utama dalam mengukur kesehatan iklim investasi migas di Indonesia:
- Proses Lelang Wilayah Kerja (Bidding): Efektivitas dan daya tarik proses lelang lahan migas baru bagi para investor global maupun domestik.
- Investasi Eksplorasi: Besarnya komitmen pendanaan untuk mencari cadangan migas baru guna menggantikan sumur-sumur yang sudah tua.
Poin-poin di atas merupakan variabel krusial yang menentukan apakah sektor perminyakan nasional sedang tumbuh atau justru mengalami kemunduran. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut saat ini belum memberikan hasil yang menggembirakan bagi industri.
Moshe menegaskan bahwa hasil dari proses lelang dan minat eksplorasi adalah cermin dari kepercayaan investor terhadap regulasi dalam negeri. "Dua hal itu sebenarnya menjadi kunci yang memperlihatkan sebenarnya iklim investasi kita itu seperti apa," ujar Moshe pada Minggu (31/5/2026).
Ia mengungkapkan secara jujur bahwa tren industri ini mengalami penurunan yang cukup terasa sejak dua tahun terakhir. Meskipun sempat merangkak naik pasca-2022, grafik minat investasi di hulu migas justru kembali melandai saat ini.
Ringkasan target produksi migas dalam KEM-PPKF 2027 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Kategori Produksi | Target Volume (2027) | Satuan |
|---|---|---|
| Lifting Minyak Bumi | 602.000 - 615.000 | Barel per Hari (bph) |
| Lifting Gas Bumi | 934.000 - 977.000 | Barel Setara Minyak per Hari (boepd) |
Data tersebut menunjukkan bahwa pemerintah bersikap sangat moderat dalam mematok angka produksi untuk periode tiga tahun ke depan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa tidak ada lompatan besar dalam penemuan cadangan baru yang siap diproduksi massal.
Tantangan Kebijakan dan Masa Depan Energi
Inkonsistensi kebijakan seringkali menjadi momok bagi investor yang membutuhkan kepastian hukum dalam jangka panjang. Industri hulu migas merupakan sektor padat modal dan memiliki risiko tinggi, sehingga stabilitas regulasi menjadi syarat mutlak.
Jika tren stagnasi ini terus berlanjut, target swasembada atau ketahanan energi akan semakin sulit untuk dicapai. Pemerintah diharapkan mampu memberikan insentif yang lebih menarik serta menyederhanakan birokrasi yang selama ini menghambat percepatan eksplorasi.
Tanpa adanya perbaikan menyeluruh pada ekosistem investasi, angka lifting minyak 615.000 bph diprediksi akan sulit terlampaui. Situasi ini kian mengkhawatirkan mengingat konsumsi energi domestik terus meningkat setiap tahunnya seiring pertumbuhan ekonomi.
Kondisi industri perminyakan Indonesia saat ini sering digambarkan dalam keadaan yang kurang sehat atau sedang mengalami "sakit". Penurunan alami (natural decline) dari sumur-sumur tua harus segera diimbangi dengan produksi dari sumur-sumur baru yang lebih produktif.
Moshe menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa transparansi dan kepastian aturan adalah modal utama menarik kembali para pemain besar. Tanpa langkah konkret, target moderat di tahun 2027 mungkin hanya akan menjadi batas maksimal yang sulit untuk disentuh.