Sutradara Perfect Crown Akui Lalai, Minta Maaf Sambil Menangis: Mengejutkan!

Sutradara Perfect Crown Akui Lalai, Minta Maaf Sambil Menangis: Mengejutkan!
Foto: Sutradara Perfect Crown Akui Lalai, Minta Maaf Sambil Menangis: Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sutradara Park Joon-hwa akhirnya buka suara dan menyampaikan permohonan maaf yang mendalam terkait polemik akurasi sejarah dalam drama Perfect Crown. Ia menegaskan bahwa kesalahan dalam adegan penobatan tersebut murni merupakan kelalaian imajinasi dan bukan upaya sengaja untuk mendistorsi sejarah bangsa.

Dalam sebuah wawancara dengan Korea JoongAng Daily pada Rabu (20/5), Park Joon-hwa terlihat sangat emosional hingga meneteskan air mata. Momen ini ia gunakan untuk meluruskan berbagai tudingan miring yang berkembang pesat sejak drama tersebut menayangkan episode terakhirnya pada Sabtu (16/5) lalu.

Tanggung Jawab Penuh Sang Sutradara

Park Joon-hwa menyatakan kesiapannya untuk pasang badan dan menanggung segala konsekuensi yang muncul akibat kelalaian teknis tersebut. Ia mengaku bertanggung jawab secara jantan atas setiap detail yang ditampilkan dalam layar kaca kepada publik.

Menurut Park, dirinya merasa perlu menghadapi kritik tersebut secara langsung karena merasa gagal mengawal detail estetika produksi dengan baik. Ia menyadari bahwa sebagai pemimpin proyek, ia seharusnya lebih teliti dalam memantau setiap elemen visual yang ditampilkan.

Pemicu utama kemarahan publik bermula dari penayangan episode 11, tepatnya saat karakter Grand Prince I-An yang diperankan oleh Byeon Woo-seok naik takhta. Dalam adegan tersebut, terdapat beberapa detail simbolis yang dinilai merendahkan kedaulatan bangsa dalam konteks sejarah Korea.

Poin-poin detail yang menjadi sumber kontroversi dalam drama tersebut antara lain:

  • Mahkota Sembilan Untaian: Penggunaan mahkota ini secara historis menandakan status wilayah bawahan atau dinasti yang tunduk pada kekaisaran lain.
  • Seruan Cheonse: Kata ini juga merujuk pada penghormatan kepada penguasa daerah, bukan kaisar atau raja dari negara yang berdaulat penuh.
  • Tata Cara Minum Teh: Adegan yang dilakukan oleh karakter Seong Hui-ju (IU) dikritik karena dianggap lebih menyerupai budaya minum teh asal China.

Secara historis, Korea yang berdaulat seharusnya menggunakan mahkota 12 untaian (sibi myeollyugwan) dan seruan "Manse!". Hal ini merujuk pada momen saat Raja Gojong mendeklarasikan Kekaisaran Korea pada tahun 1897 sebagai simbol kemandirian negara.

Klarifikasi Terkait Konsep Sejarah Alternatif

Park menjelaskan bahwa kesalahan ini muncul karena cara pandangnya yang terlalu kaku terhadap konsep sejarah alternatif. Padahal, Perfect Crown sejatinya dirancang sebagai sebuah fantasi fiksi tentang Korea yang lebih bahagia tanpa masa penjajahan.

Tim produksi ingin menggambarkan bagaimana indahnya Korea jika periode kelam seperti penjajahan Jepang (1910-1945) dan Perang Korea (1950-1953) tidak pernah terjadi. Namun, dalam eksekusinya, Park mengaku terlalu terpaku pada referensi aturan istana Joseon kuno yang diberikan oleh konsultan sejarah.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara fakta sejarah yang diharapkan dengan apa yang ditampilkan dalam drama:

Aspek Tampilan dalam Drama Sejarah Negara Berdaulat
Jumlah Untaian Mahkota 9 Untaian (Status Bawahan) 12 Untaian (Status Berdaulat)
Seruan Hormat Cheonse! Manse!
Inspirasi Utama Properti Joseon Kuno Era Kekaisaran Korea 1897

Data di atas menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ambisi cerita tentang negara merdeka dengan properti visual yang digunakan. Hal inilah yang memicu kritik tajam dari penonton yang sangat sensitif terhadap isu kedaulatan sejarah bangsa.

Kendala Teknis dan Masa Depan Sutradara

Mengenai detail naskah, Park mengonfirmasi bahwa seruan "Cheonse" ditulis oleh penulis pemula Yoo Ji-won. Namun, mengenai mahkota sembilan untaian, ia menegaskan bahwa hal itu tidak tertulis eksplisit di skenario melainkan kesalahan teknis tim artistik.

Keterbatasan waktu produksi yang hanya satu bulan untuk menyiapkan kostum menjadi alasan utama terjadinya kesalahan tersebut. Akibatnya, tim produksi cenderung menggunakan kembali properti dari proyek-proyek drama terdahulu yang memiliki set serupa tanpa melakukan pengecekan mendalam.

Meski menuai kritik, Perfect Crown mencetak prestasi luar biasa dengan rating di atas 13 persen dan menjadi drama Korea yang paling banyak ditonton di Disney+ secara global. Hingga saat ini, belum ada rencana proyek baru bagi Park Joon-hwa setelah menyelesaikan polemik panjang ini.

Artikel terkait

Rekomendasi