Film dokumenter berjudul 'Pesta Babi – Kolonialisme di Zaman Kita' yang memicu banyak diskusi publik kini dapat dinikmati masyarakat secara luas. Setelah melewati rangkaian pemutaran mandiri yang penuh tantangan, film ini akhirnya dirilis secara resmi di platform digital tanpa biaya alias gratis.
Karya sinematik yang mengangkat isu perjuangan Masyarakat Adat Papua ini telah tayang perdana di ranah daring. Langkah ini menjadi babak baru bagi film tersebut setelah sebelumnya sempat mengalami berbagai kendala selama masa pemutaran mandiri di berbagai wilayah Indonesia.
Akses Menonton Melalui YouTube JubiTV
Masyarakat kini bisa menyaksikan film 'Pesta Babi' secara langsung melalui kanal YouTube milik JubiTV. Penayangan ini diharapkan bisa mempermudah akses bagi siapa saja yang ingin memahami narasi yang disampaikan dalam dokumenter tersebut.
Acara peluncuran resmi versi digital ini diselenggarakan di aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia yang berlokasi di Jayapura, Papua. Simbolis publikasi film dilakukan oleh Vincen Kwipalo, salah satu narasumber adat yang berperan penting dalam isi dokumenter tersebut.
Keputusan untuk membawa film ini ke ranah digital bertujuan agar jangkauan penontonnya semakin luas. Selain itu, para pembuat film berharap perilisan ini mampu memicu dialog publik yang lebih masif mengenai kondisi di Tanah Papua.
Yuliana Lantipo dari pihak Jubi Media menjelaskan bahwa film ini awalnya diputar secara terbatas di Papua pada awal Maret lalu. Setelah itu, film berkelana ke berbagai daerah berkat inisiatif berani dari penyelenggara nonton bareng (nobar) di berbagai tempat.
Kini, film tersebut telah dipublikasikan secara resmi langsung dari tempat asalnya, yaitu Tanah Papua. Kehadiran di platform digital dianggap sebagai bentuk transparansi dan upaya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat adat ke tingkat global.
Kolaborasi Besar dan Visi Sutradara
Dokumenter 'Pesta Babi' bukan sekadar film biasa, melainkan sebuah rekaman realitas pahit terkait kondisi alam di Papua. Isu yang diangkat mencakup dugaan eksploitasi sumber daya alam, praktik perampasan tanah adat, hingga persoalan operasi militer selama enam dekade terakhir.
Film ini menyoroti dampak dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mencakup rencana lumbung pangan dan energi seluas 2,5 juta hektare. Proyek masif di selatan Papua tersebut dituding menjadi penyebab utama rusaknya hutan adat milik beberapa suku asli.
Beberapa komunitas adat yang terdampak dan menjadi fokus dalam narasi film ini adalah:
- Suku Malind
- Suku Yei
- Suku Awyu
- Suku Muyu
Penjelasan di atas menggambarkan betapa luasnya dampak lingkungan dan sosial yang coba dipotret melalui kacamata dokumenter akademik dan etnografi ini. Produksi film ini pun tidak main-main karena melibatkan sutradara kondang serta kolaborasi lintas organisasi yang memiliki kredibilitas tinggi.
Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Jehan Paju Dale bertindak sebagai sutradara dalam proyek ini. Mereka menggabungkan berbagai data dan fakta lapangan untuk menyajikan gambaran utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik proyek besar di Papua.
Proyek dokumenter besar ini merupakan hasil kerja sama dari beberapa lembaga berikut:
- Ekspedisi Indonesia Baru
- Watchdoc
- Jubi Media
- Pusaka Bentala Rakyat
- Greenpeace Indonesia
- LBH Papua Merauke
Sinergi antarlembaga ini memberikan bobot informasi yang sangat kuat pada film tersebut. Setiap organisasi menyumbangkan data dan perspektif sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing, mulai dari isu lingkungan hingga bantuan hukum.
Menghadapi Berbagai Tekanan dan Intimidasi
Perjalanan film 'Pesta Babi' untuk sampai ke tangan penonton bukanlah perkara yang mudah. Selama periode 40 hari masa nonton bareng yang dimulai sejak 12 April, film ini menghadapi berbagai hambatan serius di lapangan.
Meskipun penuh tekanan, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan film ini tergolong sangat tinggi. Data menunjukkan setidaknya terdapat 15.000 orang yang mendaftarkan diri untuk mengikuti acara nobar di berbagai titik di seluruh Indonesia.
Namun, pihak penyelenggara mencatat adanya gangguan yang terstruktur selama rangkaian acara pemutaran berlangsung. Setidaknya dilaporkan terjadi aksi intimidasi dan upaya penjegalan di 52 titik lokasi nonton bareng yang tersebar di berbagai daerah.
Selain intimidasi secara fisik dan administratif, film ini juga didera masalah pembajakan yang masif di internet. Kondisi inilah yang kemudian mendorong tim produksi untuk segera merilis versi resmi di YouTube agar publik mendapatkan konten yang berkualitas dan orisinal.
Menanggapi kabar mengenai pembubaran acara nobar, pihak pemerintah melalui Yusril Ihza Mahendra sempat memberikan pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak pernah memberikan instruksi untuk membubarkan acara nonton bareng film tersebut.
Di sisi lain, Kodam Cenderawasih juga sempat memberikan sorotan terkait aspek administratif film ini. Pihak militer menyatakan bahwa dokumenter tersebut dianggap belum mengantongi sertifikat lulus sensor yang resmi untuk ditayangkan di depan publik.
Kontroversi juga muncul terkait klaim mengenai Proyek Food Estate Wanam di Papua Selatan. Beberapa pihak menyatakan bahwa proyek ketahanan pangan tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan isu-isu yang diangkat dalam film 'Pesta Babi'.
Segala dinamika dan perdebatan ini justru membuat rasa penasaran publik semakin meningkat terhadap isi film tersebut. Kehadiran link resmi di platform YouTube kini memberikan kesempatan bagi setiap warga negara untuk menilai sendiri fakta yang disajikan dalam dokumenter tersebut.