Sambil Menangis, Sutradara Perfect Crown Akui Lalai dalam Klarifikasi Terbaru 2026

Sambil Menangis, Sutradara Perfect Crown Akui Lalai dalam Klarifikasi Terbaru 2026
Foto: Sambil Menangis, Sutradara Perfect Crown Akui Lalai dalam Klarifikasi Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sutradara Park Joon-hwa akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf yang mendalam terkait kontroversi akurasi sejarah dalam drama Perfect Crown. Ia memberikan klarifikasi emosional untuk meluruskan polemik mengenai adegan penobatan yang memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Park Joon-hwa menegaskan bahwa kekeliruan tersebut merupakan murni "kelalaian imajinasi" dan bukan sebuah kesengajaan untuk mendistorsi fakta sejarah. Dalam sesi wawancara dengan Korea JoongAng Daily pada Rabu (20/5), sang sutradara bahkan terlihat menitikkan air mata saat menjelaskan situasi tersebut.

Sebagai pemimpin proyek, Park menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh atas segala kritik dan konsekuensi yang muncul. Ia merasa perlu menghadapi publik secara langsung guna mengklarifikasi detail estetika produksi yang dinilai kurang akurat oleh para penonton.

Penyebab Utama Kontroversi Sejarah Perfect Crown

Kritik tajam dari publik bermula ketika episode 11 menayangkan prosesi naik takhta karakter Grand Prince I-An yang diperankan oleh Byeon Woo-seok. Dalam adegan tersebut, terdapat beberapa elemen visual dan audio yang dianggap tidak sesuai dengan identitas kedaulatan bangsa.

Beberapa poin utama yang memicu kemarahan masyarakat Korea antara lain adalah sebagai berikut:

  • Penggunaan Mahkota Sembilan Untaian: Secara historis, jenis mahkota ini menandakan status wilayah bawahan atau dinasti yang tunduk pada kekaisaran lain.
  • Seruan Takhta Cheonse: Teriakan dari para abdi istana ini merujuk pada pengakuan terhadap otoritas luar, bukan sebagai monarki yang berdaulat penuh.
  • Tata Cara Minum Teh: Adegan yang dilakukan oleh karakter Seong Hui-ju (IU) dikritik karena dianggap lebih menyerupai budaya minum teh asal China.

Seharusnya, untuk merepresentasikan Korea sebagai negara yang merdeka dalam dunia fiksi tersebut, sang raja mengenakan sibi myeollyugwan atau mahkota 12 untaian. Atribut ini identik dengan Raja Gojong saat mendeklarasikan Kekaisaran Korea pada 1897, yang diiringi dengan seruan "Manse!".

Latar Belakang dan Konsep Sejarah Alternatif

Sutradara Park menjelaskan bahwa Perfect Crown sebenarnya mengusung konsep sejarah alternatif dengan premis fantasi yang indah. Drama ini membayangkan bagaimana kondisi Korea jika tidak pernah mengalami masa penjajahan Jepang serta konflik Perang Korea.

Visi penulis adalah menciptakan gambaran bangsa yang lebih bahagia tanpa melewati masa-masa kelam di masa lalu. Namun, Park mengakui bahwa dirinya terlalu kaku dalam mengikuti referensi sejarah era Joseon kuno yang diberikan oleh tim konsultan.

Hal inilah yang membuatnya alpa untuk mencerminkan eksistensi Kekaisaran Korea yang berdaulat sebagai jembatan menuju masa depan yang ideal tersebut. Ia terlalu terpaku pada aturan istana lama sehingga melupakan detail krusial mengenai kemandirian bangsa dalam naskah tersebut.

Kendala Teknis dan Proses Produksi

Terkait detail teknis, Park memberikan klarifikasi bahwa seruan "Cheonse" memang tercantum dalam naskah yang ditulis oleh penulis pemula, Yoo Ji-won. Di sisi lain, spesifikasi mengenai jenis mahkota sembilan untaian ternyata tidak tertulis secara eksplisit di dalam skrip.

Kesalahan penggunaan mahkota tersebut terjadi karena keterbatasan waktu produksi yang hanya tersedia sekitar satu bulan untuk menyiapkan kostum. Akibatnya, tim artistik cenderung mereplikasi properti yang pernah digunakan pada proyek drama sejarah sebelumnya dengan tema serupa.

Berikut adalah ringkasan mengenai permohonan maaf yang telah dirilis oleh pihak terkait:

Pihak yang Terlibat Aksi yang Dilakukan
Tim Produksi Merilis permohonan maaf tertulis secara resmi kepada publik.
IU & Byeon Woo-seok Mengunggah surat permintaan maaf terbuka pada Senin (18/5).
Sutradara Park Joon-hwa Memberikan klarifikasi langsung dan menyatakan tanggung jawab penuh.
Penulis Yoo Ji-won Direncanakan akan merilis pernyataan pribadi dalam waktu dekat.

Data di atas menunjukkan komitmen seluruh tim untuk memperbaiki persepsi publik setelah drama berakhir pada Sabtu (16/5) lalu. Meskipun didera kontroversi, drama ini tetap mencatatkan prestasi gemilang dengan perolehan rating yang menembus angka 13 persen.

Perfect Crown bahkan tercatat sebagai konten Korea yang paling banyak ditonton secara global di platform Disney+ dalam kurun waktu 28 hari pertama. Prestasi ini menjadi sisi lain di balik perdebatan panjang mengenai akurasi sejarah yang terjadi di media sosial.

Sutradara yang sebelumnya sukses menggarap Alchemy of Souls ini mengaku sangat menyayangkan adanya polemik ini di tengah kesuksesan besar karyanya. Untuk saat ini, Park Joon-hwa menyatakan belum memiliki rencana untuk mengambil proyek drama baru dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi