Konferensi bertajuk The Cornerstone baru saja sukses diselenggarakan dengan mempertemukan ribuan pelajar dan profesional untuk membahas perkembangan teknologi masa depan. Acara yang berlangsung di Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom ini menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam menghadapi disrupsi teknologi bukanlah sekadar wacana belaka.
Forum ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara EduALL dan Indonesia Mengajar yang bertujuan menciptakan ruang dialog kritis bagi lintas generasi. Dengan mengusung tema besar bertajuk "AI & The Future We Are Building", diskusi yang berlangsung hangat tersebut menjadi jembatan antara aspirasi pelajar daerah dengan para pakar industri.
Membentuk Generasi Game Changers
EduALL selaku inisiator acara menegaskan bahwa peran mereka sebagai konsultan pendidikan memiliki visi yang jauh lebih luas daripada sekadar membantu proses penerimaan mahasiswa di kampus luar negeri. Melalui ajang The Cornerstone, lembaga ini berkomitmen untuk membentuk karakter tangguh guna melahirkan generasi pembawa perubahan atau yang sering disebut sebagai Game Changers.
Target utama dari program ini adalah menciptakan talenta muda yang mampu bersaing di level global, memiliki kemandirian intelektual, serta memiliki kepedulian terhadap isu dunia nyata. Di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), anak muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna pasif melainkan menjadi aktor utama yang menentukan arah masa depan teknologi tersebut.
| Aspek | Detail Informasi |
|---|---|
| Penyelenggara | EduALL berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar |
| Lokasi | Swasana Lippo Kuningan Grand Ballroom |
| Tema Utama | AI & The Future We Are Building |
| Target Peserta | Pelajar lintas daerah dan para profesional |
| Dampak Sosial | 100% hasil penjualan tiket didonasikan ke daerah 3T |
Urgensi Keterlibatan dalam Regulasi
Salah satu topik paling krusial yang dibahas dalam forum ini adalah pentingnya menyertakan suara pelajar dalam proses perumusan kebijakan terkait teknologi di masa mendatang. CEO EduALL, Devi Kasih, memberikan apresiasi yang tinggi atas keberanian para peserta dalam menyampaikan berbagai pandangan kritis mereka kepada para tokoh profesional yang hadir.
Pihak penyelenggara mengaku tidak menyangka bahwa energi dan antusiasme anak-anak muda tersebut sangat luar biasa dalam memberikan perspektif baru. Keterlibatan aktif ini dianggap sangat penting karena regulasi yang dirancang saat ini nantinya akan berdampak langsung dan paling besar bagi kehidupan generasi muda tersebut di masa depan.
Devi juga menegaskan bahwa memberikan ruang representasi bagi pelajar dalam setiap diskusi kebijakan teknologi adalah sebuah keharusan yang mendesak. Mengingat mereka adalah generasi yang akan bekerja berdampingan dengan AI, maka memiliki kursi di meja perundingan atau having a seat at the table menjadi hak yang mutlak diberikan.
Dukungan bagi Pendidikan Inklusif
Selain menjadi tempat bertukar ide dan gagasan, The Cornerstone juga menunjukkan aksi nyata dalam memberikan kontribusi sosial bagi dunia pendidikan di tanah air. EduALL memastikan bahwa seluruh pendapatan atau 100 persen dari hasil penjualan tiket acara disalurkan sepenuhnya melalui lembaga Indonesia Mengajar.
Dana yang terkumpul tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai program pendidikan di daerah yang masuk dalam kategori tertinggal, terdepan, dan terluar atau wilayah 3T. Hal ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih merata dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Project Manager The Cornerstone, Theresya Afila, dalam pernyataan penutupnya menyampaikan bahwa akses pendidikan yang inklusif merupakan kunci utama untuk membangun masa depan yang adil. Panitia berharap agar semangat perubahan yang lahir dari konferensi di Jakarta ini bisa dirasakan manfaatnya secara nyata oleh anak-anak di pelosok daerah terpencil.
Konteks Perkembangan AI dan Generasi Muda
Berbagai pemberitahuan terkait literasi digital mencatat bahwa integrasi AI di dunia kerja saat ini menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang lebih matang bagi anak muda. Tantangan kesenjangan gender juga menjadi perhatian, di mana studi terbaru menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepercayaan diri antara siswa laki-laki dan perempuan dalam mempelajari teknologi AI.
Pemerintah Indonesia sendiri melalui berbagai lembaga terus berupaya memperkuat ekosistem teknologi, termasuk melalui kerja sama strategis dengan negara lain seperti Korea Selatan. Upaya pembekalan teknologi seperti 3D printing, prinsip keberlanjutan, dan literasi digital terus digalakkan di tingkat sekolah menengah guna meminimalkan ketimpangan kompetensi di era otomasi.