Rapor PSIM di BRI Super League 2026: Finis Posisi 11 dan Jadi Raja Imbang Terbaru

Rapor PSIM di BRI Super League 2026: Finis Posisi 11 dan Jadi Raja Imbang Terbaru
Foto: Rapor PSIM di BRI Super League 2026: Finis Posisi 11 dan Jadi Raja Imbang Terbaru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perjalanan PSIM Yogyakarta dalam mengarungi ketatnya persaingan di kasta tertinggi sepak bola Tanah Air, BRI Super League musim 2025/2026, akhirnya resmi berakhir. Tim berjuluk Laskar Mataram ini harus puas menutup kompetisi dengan berada di peringkat ke-11 klasemen akhir.

Sebagai tim yang menyandang status promosi, PSIM memulai musim ini dengan persiapan yang cukup matang dan ambisi besar. Pihak manajemen menunjuk pelatih asal Belanda, Jean-Paul van Gastel, untuk meramu strategi dan membawa identitas permainan baru bagi tim.

Tak hanya di sektor pelatih, manajemen juga sangat serius dalam mendatangkan amunisi baru untuk memperkuat kedalaman skuad. Sejumlah pemain asing yang sudah memiliki jam terbang tinggi di kancah sepak bola Indonesia pun berhasil diboyong ke Yogyakarta.

Beberapa pemain kunci yang direkrut manajemen PSIM untuk memperkuat skuad pada musim ini adalah:

  • Ze Valente, gelandang kreatif yang menjadi otak serangan tim.
  • Ezequiel Vidal, penyerang sayap dengan kemampuan individu mumpuni.
  • Nermin Haljeta, striker jangkung yang menjadi andalan di lini depan.
  • Deri Corfe, pemain asing berpengalaman yang menjaga ritme permainan.
  • Rakhmatsho Rakhmatzoda, bek tangguh yang memperkokoh barisan pertahanan.

Pemain-pemain tersebut sengaja dipilih karena rekam jejak mereka yang sudah sangat mengenal atmosfer kompetisi di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi tim di tengah ketatnya persaingan BRI Super League.

Langkah awal Laskar Mataram di kompetisi ini terbilang cukup menjanjikan bagi sebuah tim promosi. Dalam empat pertandingan pertama, mereka belum tersentuh kekalahan dengan mengemas dua kemenangan dan dua hasil imbang.

Tren positif tersebut baru terhenti ketika mereka dipaksa menyerah dengan skor tipis 1-2 oleh Borneo FC. Namun, kekalahan tersebut tidak meruntuhkan mental para pemain PSIM Yogyakarta di lapangan hijau.

Sebaliknya, PSIM justru tampil mengejutkan dengan menumbangkan tim-tim mapan seperti Bali United, Dewa United, dan Persik Kediri. Kemenangan demi kemenangan terus diraih, termasuk saat menghadapi Bhayangkara FC, Semen Padang, hingga Madura United.

Berkat performa yang konsisten di paruh pertama, Laskar Mataram sempat bertengger di posisi keenam klasemen sementara. Capaian ini tentu menjadi sinyal positif bagi para pendukung setia mereka, Brajamusti dan The Maident.

Penurunan Performa di Putaran Kedua

Memasuki putaran kedua, stabilitas performa PSIM Yogyakarta mulai goyah dan perlahan-lahan mengalami penurunan. Tim kebanggaan warga Yogyakarta ini mulai sering kehilangan poin penting yang berakibat pada merosotnya posisi mereka.

Laskar Mataram bahkan sempat melewati periode sulit dengan gagal meraih kemenangan dalam lima laga secara berturut-turut. Paceklik poin tersebut baru berakhir ketika mereka sukses melumat PSBS Biak dengan skor meyakinkan 4-2.

Sayangnya, momentum kebangkitan tersebut tidak bertahan lama bagi tim asuhan Jean-Paul van Gastel. Dalam delapan pertandingan selanjutnya, performa tim kembali merosot tajam dengan hanya meraih tiga hasil imbang dan sisanya berakhir dengan kekalahan.

Tim yang dijuluki Naga Jawa ini sempat memberikan harapan kembali lewat kemenangan beruntun atas Malut United (2-0) dan Madura United (2-1). Namun, ambisi menutup musim dengan manis harus pupus setelah kalah 1-3 di markas Arema FC pada laga pamungkas.

Anjloknya performa tim di paruh musim kedua disinyalir karena kurangnya penambahan kekuatan baru pada jendela transfer. PSIM tercatat hanya mendatangkan satu bek asing baru, yaitu Jop van der Avert, untuk menambal lini belakang.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan para pesaing mereka yang melakukan perombakan besar-besaran untuk memperkuat skuad. Hal tersebut membuat PSIM kesulitan mengimbangi kekuatan lawan yang semakin solid di putaran kedua.

Menjadi Tim Raja Imbang

Ada satu catatan unik yang mengiringi perjalanan PSIM Yogyakarta di sepanjang musim BRI Super League 2025/2026. Klub ini resmi dinobatkan sebagai "Raja Imbang" karena mengoleksi jumlah hasil seri terbanyak dibandingkan tim lainnya.

Dari total 34 pertandingan yang telah dimainkan, PSIM mencatatkan hasil imbang sebanyak 12 kali. Sisanya, mereka membagi rata hasil pertandingan dengan koleksi 11 kemenangan dan 11 kali menelan kekalahan.

Berikut adalah ringkasan performa dan statistik PSIM Yogyakarta selama satu musim kompetisi:

Kategori Statistik Jumlah / Catatan
Peringkat Akhir 11
Total Poin 45 Poin
Jumlah Kemenangan 11 Laga
Jumlah Hasil Imbang 12 Laga
Jumlah Kekalahan 11 Laga
Gol Memasukkan 43 Gol
Gol Kemasukan 44 Gol

Data di atas menunjukkan betapa kompetitifnya PSIM musim ini, meski mereka seringkali gagal mengonversi peluang menjadi poin penuh. Banyaknya hasil imbang ini menjadi salah satu alasan utama mengapa Laskar Mataram gagal menembus papan atas.

Sebagai informasi, tim-tim besar seperti Persebaya Surabaya, PSM Makassar, dan Persis Solo berada di bawah PSIM dalam hal koleksi hasil seri. Ketiga klub tersebut masing-masing mencatatkan 10 kali hasil imbang sepanjang musim ini.

Akibat sering berbagi angka, tim yang dipimpin oleh Franco Ramos sebagai kapten ini harus puas mendekam di papan tengah. Perolehan 45 poin menempatkan mereka jauh dari zona persaingan juara maupun zona degradasi.

Ze Valente Menjadi Sosok Sentral

Meski secara kolektif performa tim mengalami pasang surut, secara individu ada beberapa pemain yang tampil sangat menonjol. Salah satunya adalah Ze Valente, gelandang asal Portugal yang menjadi roh permainan Laskar Mataram.

Pemain berusia 32 tahun ini tidak hanya bertugas sebagai pengatur serangan, tetapi juga produktif dalam mencetak gol. Ze Valente menutup musim sebagai pencetak gol terbanyak bagi tim dengan koleksi 10 gol dan 4 assist dari 32 penampilan.

Peran pemain asing lainnya juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam kontribusi gol tim musim ini. Ezequiel Vidal menyusul di posisi kedua top scorer tim dengan sumbangan delapan gol serta enam assist yang krusial.

Sementara itu, Nermin Haljeta dan Franco Ramos masing-masing berkontribusi dengan torehan empat gol bagi PSIM. Deri Corfe juga turut mencatatkan namanya di papan skor dengan koleksi tiga gol sepanjang kompetisi berlangsung.

Di luar pemain asing, performa para pemain lokal juga layak mendapatkan apresiasi dari publik Yogyakarta. Konsistensi permainan ditunjukkan oleh nama-nama seperti kiper muda Cahya Supriadi dan bek Raka Cahyana.

Pemain lain seperti Savio Sheva, Riyatno Abiyoso, hingga Fahreza Sudin juga tampil solid setiap kali dipercaya turun ke lapangan. Sinergi antara pemain asing berpengalaman dan talenta lokal yang potensial menjadi modal berharga PSIM untuk menghadapi musim depan.

Meskipun gagal masuk ke jajaran papan atas, keberhasilan bertahan di posisi ke-11 sebagai tim promosi merupakan pencapaian yang cukup realistis. Evaluasi mendalam tentu diperlukan agar Laskar Mataram bisa terbang lebih tinggi di musim kompetisi mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi