Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi isu mengenai kurva imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang mengalami pembalikan. Fenomena ini diartikan sebagai Inverted Yield Curve oleh beberapa pihak, namun Purbaya menegaskan bahwa ini tidak selalu menunjukkan adanya ancaman resesi ekonomi.
Purbaya menjelaskan dalam konferensi pers APBN Kita pada Jumat (5/6/2026) bahwa kondisi tersebut terjadi karena adanya kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara sengaja meningkatkan imbal hasil jangka pendek melalui SRBI. “Ini bukan sepenuhnya kondisi pasar karena ada kebijakan yang menaikkan imbal jangka pendek,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyatakan bahwa teori ekonomi dari literatur atau perbandingan dengan negara lain tidak selalu relevan untuk Indonesia. Hal ini dikarenakan penyebab dari pembalikan imbal hasil tersebut harus diperhatikan lebih lanjut. “Ini bukan berbasis pasar murni, ada campur tangan dari bank sentral untuk menarik dolar,” jelas Purbaya.
Purbaya juga mengingatkan bahwa penting bagi pasar untuk memperhatikan intervensi jangka pendek serta melihat data ekonomi dan fondasi lainnya. Pengamat diharapkan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju resesi.
Artikel Terkait
- Purbaya Komentari IHSG dan Rupiah: Ada Miskonsepsi Soal Fiskal - Market, 4 jam yang lalu
- Purbaya Soal Penurunan Omzet Warteg: Akan Diinvestigasi - Market, 5 jam yang lalu
- Penjelasan Purbaya Soal Mundur dari Menkeu: Saya Sukanya Maju - Market, 7 jam yang lalu
- Belanja Negara Tumbuh 34% YoY, Jadi Rp1.365 Triliun - Market, 8 jam yang lalu
- Rupiah di Level Rp18.000/US$, Purbaya Belum Revisi Asumsi Makro - Market, 9 jam yang lalu
- Penerimaan Pajak Mei 2026 Tumbuh 22,1%, Ditopang oleh PPN & PPh - Market, 10 jam yang lalu