Piala Dunia 1990 di Italia menjadi panggung balas dendam yang sempurna bagi Jerman Barat atas Argentina. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan posisi Jerman Barat sebagai kekuatan sepak bola dunia dengan koleksi gelar ketiga mereka.
Momen bersejarah ini terjadi di tengah suasana emosional runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989. Turnamen tersebut berlangsung tepat sebelum proses reunifikasi Jerman resmi dilakukan beberapa waktu kemudian.
Perjuangan Jerman Barat Menuju Puncak
Langkah Jerman Barat menuju putaran final sebenarnya tidaklah mudah dan penuh drama di babak kualifikasi. Mereka nyaris gagal jika tidak mencetak dua gol krusial di menit-menit akhir saat menghadapi Wales.
Gol penentu dari Rudi Voller dan Thomas Hassler menjadi penyelamat wajah tim asuhan Franz Beckenbauer tersebut. Keberhasilan itu memastikan tiket mereka untuk terbang ke Italia dan bersaing dengan tim elit lainnya.
Sesampainya di Italia, Jerman Barat langsung menunjukkan dominasi yang luar biasa sejak babak penyisihan grup. Kemenangan besar atas Yugoslavia dan Uni Emirat Arab menjadi bukti kesiapan mental skuad Der Panzer.
Lothar Matthaeus tampil sebagai mesin gol utama dengan torehan tiga gol hanya dalam dua pertandingan pembuka. Perannya berubah drastis dari seorang pengawal pemain lawan menjadi pengatur serangan yang sangat mematikan.
Kondisi Tim Jerman Barat vs Argentina
Skuad yang dibawa Beckenbauer ke Italia merupakan tim yang sangat matang dan sudah bermain bersama selama bertahun-tahun. Berikut adalah perbandingan singkat antara kondisi kedua tim yang berlaga di final :
| Aspek Perbandingan | Jerman Barat | Argentina |
|---|---|---|
| Kesiapan Skuad | Matang dan sarat pengalaman | Minim menit bermain internasional |
| Kondisi Pemain Bintang | Matthaeus tampil di puncak performa | Maradona bermain dengan cedera lutut |
| Gaya Permainan | Dominan dan agresif | Bertahan dan mengandalkan serangan balik |
| Perjalanan Menuju Final | Mulus dan meyakinkan | Penuh ganjalan dan lewat adu penalti |
Data di atas menunjukkan bahwa Argentina datang sebagai juara bertahan yang tidak lagi dalam kondisi terbaiknya. Sebagian besar rekan setim Maradona gagal menunjukkan performa impresif seperti di edisi Piala Dunia sebelumnya.
Drama Menuju Partai Final
Di babak 16 besar, Jerman Barat berhasil menyingkirkan rival abadi mereka, Belanda, dengan skor tipis 2-1. Pertandingan ini sempat diwarnai insiden panas antara Frank Rijkaard dan Rudi Voller di tengah lapangan.
Sementara itu, Argentina harus bersusah payah menyingkirkan Brasil berkat kerja sama apik antara Maradona dan Claudio Caniggia. Argentina terus melaju dengan gaya permainan pragmatis yang sangat mengandalkan pertahanan kokoh.
Beberapa fakta menarik mengenai perjalanan kedua tim menuju final di Roma :
- Argentina menyingkirkan Yugoslavia di perempat final lewat adu penalti meskipun Maradona gagal mengeksekusi tugasnya.
- Laga semifinal antara Argentina dan Italia berlangsung di Naples, markas besar klub Maradona, Napoli.
- Jerman Barat juga harus melewati babak adu penalti untuk menumbangkan Inggris di semifinal yang berlangsung di Turin.
- Pertemuan Jerman Barat vs Argentina menjadi laga ulangan final Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Kedua finalis akhirnya bertemu di Stadio Olimpico, Roma, pada tanggal 8 Juli setelah melalui drama yang melelahkan. Atmosfer pertandingan terasa sangat tegang karena kedua tim sudah saling mengenal kekuatan masing-masing.
Pembalasan Jerman Barat dan Rekor Beckenbauer
Argentina tampil sangat keras dan destruktif guna meredam serangan Jerman Barat sepanjang pertandingan final tersebut. Akibat gaya main yang keras, Pedro Monzon menjadi pemain pertama dalam sejarah final Piala Dunia yang dikartu merah.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-85 melalui eksekusi penalti dingin dari Andreas Brehme. Penalti tersebut diberikan wasit setelah Rudi Voller dilanggar di area terlarang oleh pemain bertahan Argentina.
Skor 1-0 bertahan hingga akhir laga dan memastikan trofi Piala Dunia 1990 jatuh ke tangan Jerman Barat. Kemenangan tipis ini sudah cukup bagi mereka untuk membalas luka kekalahan dari lawan yang sama empat tahun sebelumnya.
Lothar Matthaeus yang bertindak sebagai kapten tim menutup turnamen ini dengan catatan prestasi yang sangat mengesankan. Ia berhasil memimpin rekan-rekannya dengan karisma dan kemampuan teknis yang luar biasa di atas lapangan.
Keberhasilan ini juga melahirkan rekor unik bagi sang pelatih, Franz Beckenbauer, yang mengukir sejarah baru. Ia menjadi orang pertama yang mampu memenangkan Piala Dunia baik sebagai kapten pemain maupun sebagai pelatih tim nasional.
Catatan emas Beckenbauer sebagai kapten terjadi pada edisi 1974, dan ia melengkapinya dengan trofi sebagai pelatih di 1990. Prestasi ini menjadikan namanya melegenda dalam sejarah sepak bola dunia sepanjang masa.