Pembalap muda dari tim Red Bull KTM Factory Racing, Pedro Acosta, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usulan regulasi baru di MotoGP. Rencana aturan yang mengharuskan satu pembalap hanya menggunakan satu motor ini rencananya akan mulai diterapkan pada musim 2027 mendatang.
Meskipun belum diputuskan secara resmi, gagasan ini telah memicu perdebatan sengit di lingkungan paddock. Menariknya, usulan penghematan ini bukan datang dari Liberty Media selaku pemilik baru, melainkan dari Asosiasi Pabrikan (MSMA).
Sebagai informasi, MSMA terdiri dari lima pabrikan besar yang saat ini berkompetisi di kelas utama. Mereka adalah raksasa otomotif yakni Ducati, Aprilia, KTM, Honda, dan juga Yamaha.
Hingga saat ini, regulasi MotoGP masih memperbolehkan setiap pembalap menggunakan dua unit motor dalam satu akhir pekan balap. Aturan mesin juga disesuaikan dengan kategori konsesi, mulai dari 7 hingga 10 mesin tergantung performa masing-masing pabrikan.
Dampak Negatif pada Kelangsungan Balapan
Usulan perubahan ini muncul sebagai bagian dari negosiasi kontrak partisipasi pabrikan untuk periode 2027 hingga 2031. Fokus utama dari ide "satu pembalap satu motor" adalah untuk menekan biaya operasional yang kian membengkak setiap tahunnya.
Namun, bagi Pedro Acosta, ide penghematan ini justru dianggap sangat buruk bagi aspek kompetisi. Ia menilai rencana tersebut tidak realistis jika diterapkan dalam situasi darurat di lintasan balap.
Berikut adalah beberapa kekhawatiran utama yang disampaikan oleh Pedro Acosta terkait usulan regulasi baru tersebut:
- Kegagalan untuk mengikuti balapan jika pembalap mengalami kecelakaan fatal pada sesi pemanasan (warm-up).
- Kehilangan kesempatan di sesi kualifikasi apabila motor mengalami kerusakan di tengah sesi akibat terjatuh.
- Risiko tidak bisa melanjutkan ke sesi pra-kualifikasi jika motor rusak akibat strategi ban yang kurang tepat di sesi latihan pertama (FP1).
Penjelasan di atas menunjukkan betapa tingginya risiko kehilangan poin bagi pembalap dan tim jika tidak memiliki motor cadangan yang siap pakai. Kondisi ini dinilai akan merugikan sportivitas serta tontonan bagi para penggemar MotoGP.
Beban Kerja Mekanik yang Tidak Manusiawi
Selain aspek teknis balapan, Acosta juga menyoroti beban kerja berat yang akan dipikul oleh kru teknisi tim. Menurutnya, memperbaiki motor yang hancur total dalam waktu singkat adalah hal yang hampir mustahil dilakukan.
Ia menekankan bahwa meski MotoGP adalah olahraga mahal, keselamatan dan kesiapan teknis tetap prioritas. Tiga mekanik tidak mungkin membangun ulang satu motor dari nol hanya dalam durasi waktu tiga jam saja.
Sebagai perbandingan, berikut adalah ringkasan aturan yang berlaku saat ini dibandingkan dengan usulan masa depan:
| Kategori Aturan | Regulasi Saat Ini (2024-2026) | Usulan Regulasi (Mulai 2027) |
|---|---|---|
| Jumlah Motor per Rider | 2 Unit Motor (Utama & Cadangan) | 1 Unit Motor Saja |
| Tujuan Utama | Keamanan & Kesiapan Balap | Efisiensi Biaya Operasional |
| Dampak Jika Crash | Bisa langsung ganti motor cadangan | Harus menunggu perbaikan manual |
Tabel di atas memperlihatkan perbedaan signifikan yang dapat mengubah peta persaingan di lintasan balap. Ketersediaan motor cadangan selama ini menjadi penyelamat bagi pembalap yang mengalami insiden tak terduga.
Acosta mengusulkan solusi tengah, yakni membatasi penggunaan satu motor per sesi namun tetap menyediakan unit cadangan. Hal ini dianggap lebih masuk akal sebagai jaring pengaman agar karier balap seseorang tidak berakhir begitu saja di hari pertama.