Pedro Acosta Sebut Rider MotoGP Terlalu Egois Tiru Asosiasi F1, Ini Alasannya

Pedro Acosta Sebut Rider MotoGP Terlalu Egois Tiru Asosiasi F1, Ini Alasannya
Foto: Pedro Acosta Sebut Rider MotoGP Terlalu Egois Tiru Asosiasi F1, Ini Alasannya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bintang muda MotoGP, Pedro Acosta, melontarkan kritik tajam mengenai sikap para koleganya di lintasan balap. Ia menilai para pembalap saat ini masih terlalu mementingkan diri sendiri untuk bisa membentuk persatuan yang solid.

Komentar pedas ini muncul setelah isu keselamatan di MotoGP kembali menjadi sorotan tajam publik. Kritik mengalir deras lantaran penyelenggara dianggap kurang memprioritaskan keamanan para pembalap dalam beberapa keputusan krusial.

Salah satu poin yang memicu kontroversi adalah pemindahan lokasi GP Australia mulai tahun 2027 mendatang. Keputusan mengganti sirkuit permanen Phillip Island dengan sirkuit jalan raya Adelaide dinilai sangat berisiko bagi keselamatan.

Ketegangan mencapai puncaknya pada gelaran GP Catalunya yang berlangsung Minggu, 17 Mei 2026. Dalam balapan tersebut, Race Direction terpaksa memberlakukan dua kali prosedur start ulang akibat insiden fatal yang terjadi di lintasan.

Kecelakaan parah yang melibatkan Alex Marquez dan Johann Zarco menjadi alasan utama penghentian balapan tersebut. Di tengah situasi kacau ini, Francesco 'Pecco' Bagnaia turut menyuarakan kekecewaannya terhadap sikap rekan sesama pembalap.

Bagnaia menyoroti rendahnya tingkat kehadiran para pembalap dalam rapat Komite Keselamatan yang rutin digelar setiap Jumat sore. Menurut juara dunia tersebut, forum penting itu kini sepi peminat dan sering diabaikan oleh banyak rider.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini hanya ada tiga nama yang konsisten hadir untuk berdiskusi mengenai keamanan sirkuit. Mereka adalah Bagnaia sendiri, Luca Marini, serta pembalap asal Australia, Jack Miller.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Bagnaia dan Luca Marini mulai mendorong pembentukan asosiasi pembalap yang independen. Langkah ini dianggap perlu agar para pembalap memiliki kekuatan politik yang setara dengan organisasi lain.

Beberapa organisasi yang saat ini sudah memiliki wadah resmi di lingkungan MotoGP antara lain:

  • MSMA (Motorcycle Sports Manufacturers Association): Merupakan organisasi yang menjadi wadah bagi pabrikan motor yang berkompetisi di kelas utama.
  • IRTA (International Road Racing Teams Association): Asosiasi yang merepresentasikan kepentingan tim-tim balap di MotoGP.

Pihak promotor dan tim sudah memiliki suara yang kuat melalui MSMA dan IRTA, sementara pembalap hingga kini belum memiliki lembaga serupa. Namun, Pedro Acosta meragukan ide untuk meniru jejak Formula 1 yang memiliki GPDA (Grand Prix Drivers Association).

Meski setuju bahwa pembalap harus memiliki satu suara dalam menghadapi masalah, Acosta skeptis mengenai kekompakan rekan-rekannya. Ia juga berpendapat bahwa menghadiri rapat komite di setiap seri balap bukanlah hal yang mendesak.

Acosta menyampaikan pendapatnya kepada Motorsport.com saat menjalani tes tengah musim di Catalunya pada Senin, 18 Mei 2026. Ia merasa tidak perlu datang ke rapat hanya untuk membahas perubahan kecil seperti munculnya gundukan baru di aspal.

Pembalap tim KTM ini juga menanggapi kejadian di GP Catalunya dengan realistis. Ia menilai insiden kecelakaan besar tersebut tetap sulit dihindari meski ada rapat Komite Keselamatan sekalipun.

Bagi Acosta, keselamatan pada akhirnya kembali kepada keputusan personal masing-masing individu di lintasan. Para pembalap harus mengukur sendiri sejauh mana mereka berani mengambil risiko setelah melihat insiden tragis terjadi.

Ketidakmampuan pembalap MotoGP untuk bersatu seperti pembalap F1 dalam GPDA dipicu oleh mentalitas kompetisi yang sangat tinggi. Acosta menyebut adanya sifat egosentris yang mendarah daging di kalangan pembalap profesional.

Ia menjelaskan bahwa setiap pembalap selalu mencari celah untuk meraih keuntungan di akhir pekan balapan. Hal inilah yang membuat mereka sulit mencapai kata sepakat ketika dihadapkan pada situasi yang sulit.

Juara dunia Moto3 dan Moto2 ini memberikan perumpamaan mengenai situasi batin seorang pembalap saat akan berlomba. Jika diperingatkan akan ada bahaya dua jam sebelum start, mungkin mereka akan setuju untuk tidak balapan.

Namun, jika seorang pembalap sedang dalam kondisi fisik prima dan performa motor yang luar biasa, keinginan untuk memacu kendaraan akan selalu menang. Hasrat untuk mencetak prestasi gemilang seringkali mengalahkan kekhawatiran soal keselamatan bersama.

Acosta menutup pernyatannya dengan menegaskan bahwa para pembalap adalah sosok yang sangat fokus pada ambisi pribadi. Sifat haus akan kemenangan inilah yang menjadi penghalang utama terbentuknya persatuan yang solid di grid MotoGP.

Artikel terkait

Rekomendasi