Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menegaskan bahwa proses seleksi jalur UTBK SNBT 2026 berjalan dengan sangat transparan. Integritas sistem ini dibuktikan dengan fakta mengejutkan mengenai hasil kelulusan para peserta dari kalangan internal kampus.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa banyak anak dari pimpinan perguruan tinggi yang gagal dalam seleksi ini. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa status orang tua tidak menjamin kelulusan peserta.
Bukti Integritas Seleksi Masuk PTN
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (25/5/2026), Eduart menjelaskan bahwa akuntabilitas menjadi prioritas utama. Meskipun rektor memiliki kewenangan menetapkan kelulusan, namun anak-anak mereka tetap harus mengikuti aturan main yang berlaku.
Fenomena tidak lolosnya anak-anak rektor ini dianggap sebagai jawaban atas keraguan masyarakat terkait transparansi penerimaan mahasiswa baru. Keputusan kelulusan murni didasarkan pada hasil ujian dan kemampuan akademik masing-masing peserta.
Eduart juga menanggapi adanya keluhan dari masyarakat atau orang tua yang memaksakan agar anak mereka diterima di PTN tertentu. Beliau menegaskan bahwa daya tampung setiap kampus telah disesuaikan dengan kapasitas sarana, prasarana, serta sumber daya manusia yang ada.
Berikut adalah ringkasan data statistik kelulusan UTBK SNBT 2026:
- Total pendaftar yang mengikuti ujian mencapai 871.496 orang dari seluruh Indonesia.
- Jumlah peserta yang dinyatakan lolos seleksi sebanyak 256.369 orang.
- Persentase tingkat penerimaan peserta pada tahun ini berada di angka 29,42 persen.
Data di atas menunjukkan persaingan yang sangat ketat bagi para calon mahasiswa untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri. Selain ketatnya persaingan, panitia juga sangat memperhatikan pemenuhan kuota pada setiap jalur masuk.
Mekanisme Pengalihan Kuota Antar Jalur
Terkait kuota penerimaan, Eduart memberikan penjelasan mendalam mengenai sistem pengalihan daya tampung. Jika terdapat kursi kosong pada jalur SNBP karena peserta tidak daftar ulang, maka kuota tersebut akan digeser ke jalur berikutnya.
Sebagai contoh, pada jenjang Diploma 3 terdapat sekitar 4.000 kursi yang tidak terisi dari jalur SNBP. Alhasil, kuota awal jalur SNBT yang semula hanya 21 ribu meningkat menjadi sekitar 25 ribu kursi.
Berikut adalah simulasi sederhana mengenai pengalihan kuota yang terjadi:
| Keterangan Kuota | Awal (Estimasi) | Penyesuaian (Final) |
|---|---|---|
| Kuota Jalur SNBP | 15.758 kursi | 11.726 kursi (Daftar Ulang) |
| Kuota Jalur SNBT | 21.000 kursi | 25.000 kursi (Tambahan dari SNBP) |
| Jalur Mandiri | Sesuai Ketetapan | Ditambah sisa kuota SNBT (Jika Ada) |
Tabel ini memberikan gambaran bagaimana kuota yang tidak terpenuhi di satu jalur akan dialokasikan untuk memperbesar peluang pada jalur lainnya. Proses ini dilakukan secara sistematis untuk memastikan semua kapasitas kursi yang tersedia di PTN dapat terpenuhi secara maksimal.
Terakhir, Eduart menegaskan bahwa penambahan kuota di jalur mandiri bukanlah langkah yang sengaja dibuat-buat. Hal itu merupakan prosedur standar untuk memenuhi target daya tampung awal yang sudah direncanakan oleh setiap perguruan tinggi.