Tren penurunan harga minyak mentah dunia mulai memberikan angin segar bagi para pengguna kendaraan bermotor di Indonesia. Kondisi pasar global yang kian melandai memicu spekulasi mengenai kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam waktu dekat.
Sejumlah pengamat dan peneliti energi melihat adanya ruang yang cukup lebar untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi pada bulan-bulan mendatang. Hal ini didorong oleh posisi rata-rata harga minyak mentah dunia yang kini bergerak stabil di kisaran US$92 per barel.
Proyeksi Penurunan Harga BBM Nonsubsidi
Analis komoditas dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait dinamika harga komoditas global ini. Menurut Lukman, harga minyak mentah saat ini sudah menjauh dari level psikologis US$100 per barel.
Penurunan yang mencapai hampir 10 persen tersebut membawa harga minyak ke level US$90 hingga US$92 per barel. Berdasarkan kalkulasi tersebut, harga BBM nonsubsidi di tanah air dinilai memiliki potensi untuk turun sekitar 6 persen atau setara dengan Rp1.200 per liter.
Jika proyeksi ini terealisasi, maka harga jual produk Pertamax Turbo (RON 98) berpeluang mengalami koreksi yang cukup signifikan. Harga yang saat ini berada di angka Rp19.900 per liter diprediksi bisa turun menjadi Rp18.700 per liter.
Sementara itu, untuk produk Pertamax (RON 92), nilai keekonomiannya diperkirakan akan berada di kisaran Rp17.000-an per liter. Lukman menjelaskan bahwa penurunan ini sangat mungkin terjadi mengingat kontribusi harga minyak dunia yang dominan terhadap pembentukan harga BBM.
Rincian estimasi perubahan harga BBM berdasarkan pergerakan pasar global:
- Potensi penurunan harga jual secara keseluruhan mencapai angka 6 persen.
- Estimasi besaran penurunan nominal mencapai kisaran Rp1.200 per liter.
- Harga Pertamax Turbo (RON 98) diperkirakan turun dari Rp19.900 menjadi Rp18.700 per liter.
- Nilai keekonomian Pertamax (RON 92) diprediksi menyentuh angka Rp17.000 per liter.
Penjelasan di atas menggambarkan bagaimana pelemahan harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual eceran bahan bakar di level domestik.
Kaitan Harga Minyak Mentah dan Kebijakan Harga Domestik
Lukman Leong menambahkan bahwa idealnya penurunan harga minyak dunia sebesar 10 persen akan memberikan pengaruh besar pada harga final di SPBU. Secara teknis, komponen harga minyak mentah berkontribusi sekitar 60 persen hingga 65 persen dalam penentuan harga BBM.
Berdasarkan perhitungan matematis secara langsung, angka penurunan 6 persen atau Rp1.200 per liter adalah hasil yang sangat mungkin dicapai jika kondisi pasar tetap stabil. Hal ini disampaikannya dalam wawancara pada hari Minggu, 31 Mei 2026.
Simulasi perhitungan penurunan harga berdasarkan variabel harga minyak dunia:
| Komponen Evaluasi | Data / Persentase | Dampak pada Harga |
|---|---|---|
| Penurunan Harga Minyak Dunia | ~10% (US$90 - US$92/barel) | Memicu penurunan biaya produksi |
| Kontribusi Minyak pada Harga BBM | 60% – 65% | Faktor penentu utama harga jual |
| Potensi Penurunan Harga Jual | Sekitar 6% | Pengurangan sekitar Rp1.200/liter |
Tabel di atas merinci bagaimana variabel global memengaruhi struktur biaya bahan bakar yang harus dibayar oleh konsumen di Indonesia.
Isu Energi Lainnya dan Dampak Geopolitik
Kondisi pasar energi global saat ini memang sedang dipenuhi dengan ketidakpastian akibat berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik. Konflik yang terjadi di Timur Tengah, misalnya, telah mendorong Brasil untuk memperpanjang kebijakan subsidi BBM mereka.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga telah merilis Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026. Aturan terbaru ini dirancang untuk mengatur skema baru mengenai distribusi dan pengadaan minyak, BBM, hingga LPG, baik untuk kebutuhan domestik maupun impor.
Dalam aturan tersebut, Lemigas kini diberikan kewenangan untuk melakukan impor minyak dan BBM guna memastikan ketahanan energi nasional. Kebijakan ini mencakup peluang untuk melakukan impor dari berbagai sumber energi global, termasuk Rusia.
Beberapa poin penting terkait dinamika industri migas terkini:
- Adanya tantangan pada komponen NGL yang dinilai memicu stagnasi pada target produksi atau lifting minyak untuk tahun 2027.
- Pergerakan Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) tahun 2027 sangat bergantung pada kebijakan dan manuver dari Amerika Serikat.
- Target lifting migas tahun 2027 yang dipasang pada level moderat mencerminkan kondisi industri hulu migas yang masih lesu.
- Munculnya wacana relaksasi sementara oleh Uni Eropa terhadap sanksi batasan harga minyak asal Rusia.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa selain harga pasar, kebijakan pemerintah dan situasi politik internasional memegang peran kunci dalam ketersediaan energi.
Di sisi lain, Badan Layanan Umum (BLU) kini mendapatkan izin melalui Perpres baru untuk melakukan impor migas dalam kondisi yang mendesak. Fleksibilitas ini diharapkan dapat menjaga stabilitas stok dalam negeri saat terjadi gangguan pasokan global.
Masyarakat kini menantikan apakah penurunan harga minyak mentah ini akan segera diikuti dengan pengumuman resmi penurunan harga di SPBU. Mengingat evaluasi harga BBM nonsubsidi biasanya dilakukan secara berkala, kepastian mengenai harga baru kemungkinan besar akan diumumkan dalam waktu dekat.