Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mulai menerapkan metode modern untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Tim penyidik menggunakan teknologi mutakhir guna memastikan setiap detail kejadian terekam secara akurat dalam proses olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Investigasi ini melibatkan penggunaan dua jenis perangkat Traffic Accident Analysis (TAA), yakni versi statis dan portabel. Kombinasi kedua alat ini bertujuan untuk memberikan gambaran peristiwa yang komprehensif dari berbagai sudut pandang.
Teknologi Canggih dalam Proses Investigasi
Komisaris Polisi Sandhi Wiedyanoe, selaku Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, mengungkapkan bahwa perangkat statis yang mereka gunakan telah dilengkapi dengan teknologi LiDAR. Selain itu, terdapat kamera 360 derajat yang sanggup merekam seluruh kondisi lingkungan di sekitar lokasi kejadian secara mendalam.
Di sisi lain, perangkat portabel difungsikan untuk mengambil gambar melalui teknik helicopter view dari udara. Rekaman tersebut nantinya akan diproses menjadi sebuah ilustrasi tiga dimensi (3D) dengan resolusi tinggi mencapai kualitas 4K.
Daftar perangkat utama yang digunakan oleh Korlantas Polri di lokasi kejadian:
- Kamera LiDAR: Berfungsi memindai objek dengan presisi tinggi untuk memetakan kondisi fisik di lapangan.
- Kamera 360 Derajat: Digunakan untuk menangkap visual lingkungan secara menyeluruh tanpa ada sudut yang terlewat.
- Perangkat Drone Portable: Menghasilkan visualisasi udara yang diolah menjadi simulasi 3D untuk mempermudah analisis kronologi.
Hasil dari pengolahan data digital ini akan menjadi instrumen penting dalam penegakan hukum sebagai alat bukti elektronik. Sandhi menambahkan bahwa data tersebut akan sangat berguna mulai dari tahap penyidikan awal hingga dalam proses persidangan di depan hakim.
Evaluasi Menyeluruh Terhadap Kendaraan yang Terlibat
Selain fokus pada pengumpulan data digital, kepolisian juga menyoroti keterlibatan sebuah taksi berwarna hijau dalam insiden maut tersebut. Korlantas berencana melakukan evaluasi besar-besaran terhadap perusahaan taksi yang bersangkutan guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Langkah evaluasi ini akan melibatkan koordinasi intensif antara Direktorat Penegakan Hukum dengan Direktorat Keamanan dan Keselamatan. Hal ini dilakukan karena adanya catatan mengenai beberapa insiden serupa yang melibatkan armada dari perusahaan tersebut.
Berikut adalah ringkasan data korban akibat kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur:
| Kategori Data | Keterangan |
|---|---|
| Waktu Kejadian | Senin malam, 27 April 2026 |
| Kereta yang Terlibat | KA Argo Bromo Anggrek & KRL Commuter Line |
| Korban Meninggal Dunia | 15 Orang |
| Korban Luka-luka | 88 Orang |
Data terbaru dari PT KAI per Selasa (28/4) mengonfirmasi bahwa tabrakan tragis ini menjadi salah satu kecelakaan besar di kawasan Bekasi. Seluruh data korban kini terus dipantau seiring dengan berjalannya proses investigasi digital oleh tim kepolisian.
Upaya penggunaan teknologi TAA ini diharapkan mampu mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara transparan. Dengan adanya bukti visual 3D, penyidik dapat membedah setiap detik peristiwa untuk menemukan titik kelalaian atau gangguan teknis yang memicu tabrakan.