Kisah Pilu Steve Finnan, Legenda Liverpool Terpaksa Jual Medali Juara Liga Champions karena Masalah Keuangan yang Mengejutkan di 2026

Kisah Pilu Steve Finnan, Legenda Liverpool Terpaksa Jual Medali Juara Liga Champions karena Masalah Keuangan yang Mengejutkan di 2026
Foto: Kisah Pilu Steve Finnan, Legenda Liverpool Terpaksa Jual Medali Juara Liga Champions karena Masalah Keuangan yang Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Steve Finnan tercatat sebagai salah satu aktor penting dalam malam paling legendaris bagi publik Liverpool. Mantan bek asal Republik Irlandia ini turut membantu The Reds merengkuh trofi Liga Champions 2005 melalui drama luar biasa di Istanbul.

Namun, dua dekade setelah momen bersejarah tersebut, Finnan harus merelakan salah satu kenangan paling berharganya. Medali juara Liga Champions miliknya terpaksa dijual akibat didera masalah keuangan yang cukup pelik.

Liga Champions sendiri merupakan kompetisi antarklub yang paling bergengsi di jagat sepak bola dunia. Ketika banyak pemain berjuang mati-matian demi mendapatkan medali tersebut, Finnan kini justru sudah tidak lagi memilikinya.

Mantan pesepak bola berusia 50 tahun ini mengambil langkah drastis setelah terjebak dalam masalah bisnis yang berujung kebangkrutan. Konflik internal dengan saudara kandungnya disinyalir menjadi pemicu utama di balik keterpurukan finansial tersebut.

Mengenang Keajaiban Istanbul dan Peran Finnan

Nama Steve Finnan akan selalu dikenang sebagai bagian dari skuad Liverpool yang menciptakan "Keajaiban Istanbul" pada tahun 2005 silam. Di bawah arahan Rafael Benitez, timnya berhasil bangkit setelah tertinggal 0-3 dan akhirnya menundukkan AC Milan lewat adu penalti.

Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu final Liga Champions paling ikonik sepanjang masa. Finnan memberikan kontribusi nyata dalam perjalanan Liverpool mengamankan trofi juara Eropa untuk kelima kalinya.

Bagi setiap atlet profesional, medali juara adalah simbol pencapaian tertinggi sekaligus kenangan yang tidak ternilai harganya. Finnan pun awalnya menganggap benda tersebut sebagai harta karun yang sangat emosional.

Sayangnya, dinamika kehidupan setelah gantung sepatu memaksa Finnan mengambil keputusan yang sangat berat. Kenangan emas itu akhirnya dilepas ke pasaran demi menutupi berbagai kewajiban finansial yang mendesak.

Kegagalan Bisnis Properti dan Keretakan Hubungan Keluarga

Setelah memutuskan pensiun dari lapangan hijau pada 2010, Finnan mencoba peruntungan di dunia bisnis properti. Ia mendirikan usaha bersama saudaranya, Sean Finnan, untuk membangun masa depan di luar sepak bola.

Dalam kerja sama tersebut, Sean bertindak sebagai pengelola operasional harian perusahaan. Sementara itu, Steve lebih banyak berperan di balik layar sebagai pemodal sekaligus investor utama.

Aset mereka terbilang cukup mewah, termasuk sejumlah properti di kawasan London barat daya seperti rumah megah di Wimbledon Common. Bisnis ini sempat menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan sebelum akhirnya menghadapi krisis serius.

Hubungan kakak beradik ini kemudian mulai retak seiring munculnya ketidakberesan dalam manajemen perusahaan. Masalah internal ini menjadi pemantik sengketa hukum panjang yang memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Gugatan Hukum Berakhir Mengecewakan

Pada tahun 2023, Finnan melayangkan gugatan hukum karena merasa kehilangan uang senilai 8 juta dolar AS atau sekitar Rp142 miliar. Ia menduga adanya kerugian akibat salah urus di perusahaan yang dikelola bersama saudaranya tersebut.

Fakta persidangan mengungkap bahwa Finnan sebenarnya sudah mulai mengeluh kepada tim hukumnya sejak tahun 2016. Ia merasa janggal karena kondisi keuangan perusahaan tetap terpuruk meski sudah mendapat suntikan dana besar dari pinjaman.

Atas dasar itulah, Finnan akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur hukum secara resmi terhadap Sean. Meski Sean membantah telah melakukan kesalahan, ia mengakui bahwa hubungan pribadi mereka memang sudah sangat memburuk.

Kedua belah pihak sebenarnya sempat mencapai kesepakatan damai di luar meja hijau. Namun, penyelesaian tersebut ternyata tidak memberikan hasil yang diinginkan oleh mantan penggawa Anfield itu.

Rincian aset dan koleksi berharga milik Steve Finnan yang akhirnya harus berpindah tangan:
  • Medali juara asli dari Final Liga Champions 2005 di Istanbul.
  • Dua buah jersey resmi yang ditandatangani oleh para pemain dari final tahun 2005.
  • Replika trofi Liga Champions yang diberikan secara resmi kepada pemain pemenang.
  • Jam tangan mewah edisi khusus yang diterima sebagai hadiah setelah pertandingan final.
  • Medali perak atau runner-up yang didapat saat Liverpool kalah dari AC Milan pada final tahun 2007.

Penjualan berbagai barang bersejarah ini menunjukkan betapa seriusnya tekanan finansial yang sedang dihadapi oleh sang legenda. Semua benda yang dulunya menjadi kebanggaan kini beralih fungsi menjadi alat untuk melunasi utang.

Dana yang Diterima Tidak Sesuai Harapan

Awalnya, Finnan diprediksi akan mendapatkan pembayaran sekitar 5,4 juta dolar AS atau setara Rp96 miliar dari hasil kesepakatan damai. Namun, harapan itu pupus karena Sean secara resmi dinyatakan bangkrut pada Juli 2019.

Kondisi ini membuat dana kompensasi yang seharusnya diterima Steve Finnan menjadi sangat tidak menentu. Pada tahun yang sama, Finnan membeberkan fakta mengejutkan mengenai jumlah uang yang sebenarnya ia terima.

Ia mengaku hanya memperoleh dana sekitar 252 ribu dolar AS atau sekitar Rp4,5 miliar dari proses penjualan perusahaan. Selain itu, ia mendapatkan tambahan sekitar 120 ribu dolar AS atau Rp2,1 miliar dari pelepasan beberapa aset properti lainnya.

Jumlah tersebut sangat jauh dari nilai kerugian yang ia klaim sebelumnya, sehingga ia tidak punya pilihan selain melelang koleksi pribadinya. Kini, medali juara yang menjadi bukti sejarah kegemilangan Liverpool di Istanbul telah berpindah tangan ke kolektor lain.

Tabel berikut merangkum perjalanan kasus finansial yang dialami oleh mantan bek kanan Liverpool tersebut.

Tahun Kejadian Detail Peristiwa Finansial
2010 Pensiun dan mulai merintis bisnis properti bersama saudaranya.
2016 Mulai mengajukan keberatan hukum atas pengelolaan dana perusahaan.
2019 Saudaranya dinyatakan bangkrut, Finnan kehilangan potensi dana kompensasi besar.
2020-an Lelang medali juara Liga Champions dan barang koleksi bersejarah lainnya.
2023 Proses gugatan hukum senilai 8 juta dolar AS berakhir mengecewakan.

Data di atas memperlihatkan bagaimana masa pensiun yang semula direncanakan mapan justru berubah menjadi perjuangan hukum yang melelahkan. Hingga kini, kisah Finnan menjadi peringatan bagi atlet lain tentang risiko dalam pengelolaan bisnis setelah masa kejayaan berakhir.

Artikel terkait

Rekomendasi