Kisah Mang Kiclik, Sosok di Balik Aksi Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Saguling

Kisah Mang Kiclik, Sosok di Balik Aksi Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Saguling
Foto: Ilustrasi Kisah Mang Kiclik, Sosok di Balik Aksi Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Saguling.
Ukuran teks

Seorang pria bernama Taufik Rahmat Wardani melakukan aksi luar biasa untuk menyelamatkan ekosistem perairan di Jawa Barat. Pria yang akrab disapa Mang Kiclik ini mendedikasikan waktunya demi membebaskan Waduk Saguling dari serbuan eceng gondok.

Mang Kiclik merupakan warga asli Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Tanpa mengharapkan pujian, ia bergerak secara mandiri demi keberlangsungan ekosistem di aliran Sungai Citarum tersebut.

Kondisi Waduk Saguling yang Memprihatinkan

Saat ini, hamparan eceng gondok telah menutupi sebagian besar permukaan Waduk Saguling hingga tampak seperti daratan hijau. Pertumbuhan gulma air yang sangat cepat ini membentuk pulau-pulau tanaman yang menghambat aliran air dan aktivitas warga.

Kondisi lingkungan yang semakin memburuk inilah yang memicu kepedulian Mang Kiclik untuk turun tangan langsung. Setiap hari, ia rela berendam di dalam air hingga setinggi leher untuk mengangkat tanaman tersebut ke daratan.

Aksi ini ia lakukan selama dua hingga tiga jam setiap harinya dengan menggunakan tangan kosong. Meski sadar akan risiko bahaya yang mengintai di dalam air, ia tetap konsisten menjalankan misi mulianya.

Mang Kiclik bercerita bahwa ia sebenarnya sudah mulai bersih-bersih sejak tahun 2017, meski belum terjadwal rutin. Namun, sejak Januari 2025, ia memutuskan untuk merutinkan kegiatan ini karena kondisi waduk yang dinilai sudah semakin parah.

Upaya Mandiri dengan Hasil Luar Biasa

Walaupun bekerja secara manual tanpa bantuan alat berat, hasil kerja keras Mang Kiclik tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia pernah menghitung bahwa jumlah eceng gondok yang berhasil ia angkat mencapai bobot 500 kilogram dalam sekali waktu.

Ia menyadari bahwa mengangkat 5 kuintal tanaman basah bukanlah pekerjaan mudah, namun ia fokus pada dampak jangka panjangnya. Baginya, pengurangan populasi eceng gondok secara harian sangat krusial untuk menjaga kesehatan waduk.

Dampak buruk pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali di Waduk Saguling antara lain:

  • Menghambat jalur transportasi perahu milik warga dan nelayan setempat.
  • Menyulitkan masyarakat dalam mencari ikan sebagai sumber mata pencaharian utama.
  • Menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang memicu keresahan warga sekitar.
  • Mengganggu keseimbangan ekosistem air akibat tertutupnya sinar matahari.

Daftar di atas menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi oleh penduduk di sekitar aliran Sungai Citarum. Keberadaan nyamuk yang bersarang di sela-sela tanaman tersebut kini menjadi keluhan utama masyarakat desa.

Harapan untuk Kelestarian Lingkungan

Kini, Mang Kiclik berjuang seorang diri setelah rekan-rekannya mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, semangatnya tidak surut meski harus menghadapi ancaman penyakit kulit hingga potensi serangan hewan liar.

Ia berharap apa yang dilakukannya dapat memantik semangat warga lain untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Selain itu, ia sangat berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius dalam merawat Waduk Saguling.

Perjuangan pria berusia 33 tahun ini menjadi pengingat bahwa aksi nyata sekecil apa pun sangat berarti bagi alam. Dedikasi Mang Kiclik membuktikan bahwa kepedulian individu mampu memberikan dampak positif bagi kepentingan banyak orang.

Artikel terkait

Rekomendasi