Kisah Inspiratif Amelia, Masinis Perempuan Pertama MRT Jakarta Lolos Beasiswa LPDP 2026

Kisah Inspiratif Amelia, Masinis Perempuan Pertama MRT Jakarta Lolos Beasiswa LPDP 2026
Foto: Kisah Inspiratif Amelia, Masinis Perempuan Pertama MRT Jakarta Lolos Beasiswa LPDP 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
Artikel Parafrase

Di balik kendali kereta MRT Jakarta yang membelah kemacetan dari Lebak Bulus ke pusat kota, terdapat sosok perempuan yang memegang tanggung jawab besar. Amelia Khairani Sutrisno menatap sinyal dan panel kendali dengan seksama dalam perannya sebagai masinis.

Amelia tidak hanya bertugas mengendalikan perjalanan, tetapi juga mematahkan stigma di bidang pekerjaan yang selama ini didominasi oleh laki-laki. Sebagai masinis perempuan pertama di MRT Jakarta, ia menunjukkan bahwa pendidikan dapat membuka peluang bagi perempuan untuk berperan di sektor strategis yang sering dianggap dunia laki-laki.

Melawan dominasi di kabin masinis

Profesi masinis di Indonesia selama ini dianggap memerlukan ketahanan fisik dan konsentrasi tinggi yang mayoritas dipegang laki-laki. Namun, sejak 2018, Amelia membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dari sembilan perempuan dalam angkatan pertama masinis MRT Jakarta, Amelia adalah satu-satunya yang bertahan.

“Menjadi masinis itu tak ada ruang untuk lengah,” ungkap Amelia yang dikutip dari laman Media Keuangan Kemenkeu pada Senin (20/4/2026). Lulusan Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun ini percaya bahwa masinis bukanlah soal gender, melainkan kedisiplinan, konsentrasi, dan tanggung jawab. Keselamatan penumpang merupakan prioritas utama.

Prinsip tersebut dia bawa dari rumahnya di Tulungagung, Jawa Timur, hasil didikan dari ayahnya yang seorang prajurit TNI AD dan ibunya yang berprofesi sebagai perawat. “Kalau sudah memutuskan sesuatu, harus dijalani sungguh-sungguh,” kenang Amelia menirukan kata-kata sang ayah.

Akrab dengan kereta sejak masa kecil

Masa kecil Amelia diwarnai ingar-bingar Stasiun Kereta Api Tulungagung, mengingat kantor ayahnya berada tepat di depannya. Setiap hari ia melihat kereta api melintas dan mengamati masinis yang semuanya laki-laki. Namun meski akrab dengan suasana stasiun, saat itu Amelia awalnya bercita-cita menjadi dokter.

Keinginan ini muncul dari keinginannya mengikuti jejak sang ibu yang berprofesi sebagai tenaga medis. Namun, kehidupan memberikan Amelia jalan yang berbeda. Di balik segala didikan yang dia terima, nasihat dan pengajaran dari ibunya senantiasa menjadi pegangan.

Artikel terkait

Rekomendasi