Gelandang bintang Napoli, Kevin De Bruyne, secara terbuka melayangkan kritik tajam kepada mantan pelatihnya, Antonio Conte. Pernyataan pedas ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah juru taktik asal Italia tersebut resmi meninggalkan klub berjuluk Partenopei itu.
Pemain kunci tim nasional Belgia tersebut mengaku tidak menikmati gaya permainan yang diterapkan Conte sepanjang musim 2025/2026. Selain masalah taktik, De Bruyne juga menyoroti berbagai janji pelatih yang menurutnya tidak pernah ditepati selama masa kepemimpinan sang pelatih di Naples.
Perpisahan antara Antonio Conte dan Napoli sendiri terjadi melalui kesepakatan bersama tepat setelah berakhirnya musim kompetisi 2025/2026. Langkah ini diambil manajemen klub menyusul kegagalan Napoli dalam mempertahankan gelar juara kasta tertinggi Liga Italia, Serie A.
Napoli terpaksa puas mengakhiri musim di posisi kedua klasemen akhir, tertinggal cukup jauh dengan selisih 11 poin dari Inter Milan yang keluar sebagai jawara. Prestasi di level kontinental pun tak kalah mengecewakan setelah langkah mereka terhenti prematur di babak awal Liga Champions.
Sepanjang musim lalu, prestasi terbaik yang bisa dipersembahkan oleh tim asuhan Conte hanyalah gelar Piala Super Italia. Catatan ini tentu dianggap minim bagi klub sebesar Napoli yang memiliki ekspektasi tinggi di setiap kompetisi yang mereka ikuti.
Di sisi lain, kejutan besar terjadi di kompetisi Eropa lainnya ketika Crystal Palace berhasil mencatatkan sejarah baru. Klub Inggris tersebut sukses menjuarai UEFA Conference League 2026 setelah menumbangkan Rayo Vallecano dengan skor tipis 1-0 di partai final yang digelar di Leipzig, Jerman.
Kemenangan bersejarah tersebut dipastikan melalui gol tunggal yang dicetak oleh Jean-Philippe Mateta. Trofi ini menjadi gelar juara tingkat Eropa pertama bagi sepanjang sejarah berdirinya klub tersebut.
Ketidakcocokan Taktik dan Gaya Bermain
Musim perdana Kevin De Bruyne di Stadion Diego Armando Maradona memang tidak berjalan semulus yang dibayangkan banyak pihak. Pemain yang kini telah menginjak usia 34 tahun itu sempat dihantam cedera paha parah pada Oktober yang memaksanya absen selama empat bulan.
Kondisi fisik yang kurang bugar membuat De Bruyne hanya mampu mencatatkan 21 penampilan di semua ajang kompetisi. Dari total laga tersebut, mantan pemain Manchester City ini menyumbangkan lima gol serta empat assist untuk Napoli.
Dalam sebuah wawancara mendalam bersama media Belgia, Het Nieuwsblad, De Bruyne membeberkan dinamika kerjanya di bawah arahan Conte. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal sudah merasa memiliki filosofi sepak bola yang bertolak belakang dengan eks pelatih Chelsea dan Juventus itu.
De Bruyne mengakui bahwa situasi di lapangan sangat menantang baginya karena perbedaan visi bermain tersebut. Ia merasa Conte memiliki perspektif yang sangat kontras dengan dirinya dalam memahami bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan.
Poin-poin keluhan Kevin De Bruyne terhadap kepemimpinan Antonio Conte :
- Ketidakpuasan karena jarang mendapatkan kesempatan bermain di posisi ideal atau favoritnya di lini tengah.
- Pendekatan taktik yang dianggap terlalu berorientasi pada pertahanan sehingga membatasi kreativitas serangan.
- Penggunaan formasi 4-5-1 yang lebih mementingkan pengamanan skor minimalis daripada bermain terbuka.
- Janji-janji awal musim mengenai skema permainan yang tidak terbukti kebenarannya di lapangan.
Kritik tersebut memberikan gambaran jelas mengenai adanya keretakan hubungan antara pemain bintang dan sang pelatih. Meskipun tetap berusaha tampil profesional bagi tim, De Bruyne merasa potensi maksimalnya terhambat oleh strategi yang ada.
De Bruyne secara spesifik menyoroti betapa defensifnya skema yang diterapkan oleh Antonio Conte selama ini. Menurutnya, memenangkan pertandingan dengan selisih satu gol menggunakan formasi pasif bukanlah gaya main yang ia harapkan.
Bahkan pada fase awal musim, ia merasa tim dipaksa bertahan jauh lebih dalam di area pertahanan sendiri. Hal ini berdampak langsung pada produktivitas tim, di mana penyerang utama mereka hanya mampu mengoleksi 10 gol dalam satu musim penuh.
Masa Depan di Napoli dan Ambisi Piala Dunia
Saat ditanya mengenai perasaannya setelah Conte resmi hengkang, De Bruyne memberikan jawaban yang sangat lugas dan tanpa basa-basi. Ia secara terang-terangan merasa senang dan lega dengan keputusan sang pelatih untuk meninggalkan Napoli.
Ia menilai bahwa bertahannya Conte di klub bukan lagi merupakan sebuah keharusan bagi kemajuan Napoli ke depan. Baginya, kegagalan mewujudkan janji-janji taktis di musim panas sebelumnya menjadi kekecewaan yang sangat mendalam.
Gelandang kreatif ini menegaskan bahwa elemen kesenangan dalam bermain bola seakan hilang selama ia berada di bawah kendali taktik Conte. Ia merasa tidak ada gunanya menutupi fakta bahwa mereka memiliki perbedaan pandangan yang sangat mendasar secara profesional.
Berikut adalah rangkuman perjalanan dan statistik singkat Kevin De Bruyne di Napoli musim 2025/2026 :
| Kategori Informasi | Detail Catatan |
|---|---|
| Jumlah Penampilan | 21 Pertandingan (Semua Kompetisi) |
| Produktivitas | 5 Gol dan 4 Assist |
| Durasi Cedera | 4 Bulan (Masalah Paha) |
| Gelar yang Diraih | Piala Super Italia |
| Status Kontrak | Tersisa 1 Tahun (Hingga 2027) |
Data di atas memperlihatkan bagaimana musim De Bruyne terganggu oleh cedera serius yang memengaruhi jumlah menit bermainnya. Meski demikian, ia tetap mampu memberikan kontribusi angka yang cukup signifikan bagi tim meski merasa tidak nyaman.
Pernyataan terbuka De Bruyne ini pun memicu berbagai spekulasi panas mengenai kelanjutan kariernya di Italia. Meskipun masih terikat kontrak selama satu tahun lagi, sang pemain mengisyaratkan keinginan untuk segera mendiskusikan masa depannya dengan pihak manajemen.
Ia menegaskan pentingnya pembicaraan mengenai situasi terkini klub agar kekecewaan musim lalu tidak terulang kembali. De Bruyne tampaknya ingin memastikan bahwa visi bermain klub ke depannya sejalan dengan karakternya sebagai pengatur serangan.
Untuk saat ini, fokus utama De Bruyne adalah membela tim nasional Belgia di ajang bergengsi Piala Dunia 2026. Turnamen besar tersebut akan diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Nama De Bruyne tetap menjadi pilar utama dalam daftar skuat yang diumumkan oleh pelatih Belgia. Ia diharapkan mampu memimpin generasi emas Belgia bersama bintang-bintang lain seperti Romelu Lukaku, Jeremy Doku, dan penjaga gawang Thibaut Courtois.
Ambisi besar kini diusung oleh skuat De Rode Duivels untuk dapat bersaing di level tertinggi sepak bola dunia. Pengalaman serta kepemimpinan De Bruyne di lapangan tengah akan menjadi kunci krusial bagi kesuksesan Belgia di turnamen tersebut.