Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Kurniasih Mufidayati, baru-baru ini memberikan perhatian khusus terhadap format rapor pendidikan di tanah air. Ia menekankan pentingnya integrasi aspek kesehatan mental dan karakter siswa ke dalam sistem penilaian resmi tersebut.
Menurut Kurniasih, rapor pendidikan seharusnya tidak hanya menjadi catatan akademis semata, melainkan juga alat pemetaan masalah yang nyata. Hal ini mencakup isu-isu krusial seperti perundungan atau bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah.
Pentingnya Survei Karakter dalam Sistem Pendidikan
Dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kurniasih mempertanyakan fenomena meningkatnya gangguan mental di kalangan pelajar. Ia menilai hasil survei karakter harus tercermin secara jelas agar pihak sekolah dapat mengambil langkah preventif yang tepat.
“Sangat penting untuk memahami mengapa saat ini kita sering menemui kasus kesehatan mental, perundungan, dan persoalan karakter lainnya pada siswa. Masalah-masalah ini seharusnya sudah terpetakan melalui survei karakter di dalam rapor pendidikan,” jelasnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube TVR Parlemen.
Ia menekankan bahwa data dari survei tersebut merupakan indikator keberhasilan sekolah dalam membina moralitas siswa. Tanpa data yang akurat di dalam rapor, penanganan terhadap kasus kekerasan atau tekanan psikologis di sekolah akan sulit dilakukan secara terstruktur.
Rapor pendidikan saat ini mencakup beberapa komponen penilaian mendalam sebagai berikut:
- Asesmen Kompetensi Minimum (AKM): Mengukur kemampuan dasar literasi dan numerasi siswa.
- Survei Karakter: Menilai sikap, nilai-nilai, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter Profil Pelajar Pancasila.
- Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar): Memetakan kualitas proses pembelajaran dan iklim keamanan di sekolah.
Melalui komponen-komponen tersebut, pemerintah diharapkan memiliki gambaran utuh mengenai kondisi psikis dan lingkungan sosial tempat siswa belajar setiap hari.
Menjaga Fungsi Rapor Pendidikan di Tengah Tes Akademik
Kurniasih juga memberikan apresiasi atas pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP yang dinilai berjalan dengan lancar. Meski demikian, ia memberikan catatan kritis agar kehadiran tes tersebut tidak mengesampingkan fungsi utama rapor pendidikan.
Ia memperingatkan bahwa TKA hanyalah salah satu instrumen evaluasi, namun profil sekolah secara menyeluruh tetap ada pada rapor pendidikan. Data yang komprehensif sangat dibutuhkan untuk melihat realita yang terjadi di lapangan secara objektif.
“Jangan sampai fokus pada TKA membuat rapor pendidikan jadi terabaikan, karena rapor tersebut adalah profil utama bagi sebuah sekolah,” tegas Kurniasih. Ia ingin memastikan bahwa sekolah tetap dipantau berdasarkan standar yang mencakup kualitas lingkungan belajar secara luas.
Berikut adalah ringkasan poin-poin yang menjadi perhatian Komisi X DPR RI terkait evaluasi pendidikan:
| Aspek Evaluasi | Tujuan Utama |
|---|---|
| Kesehatan Mental | Mendeteksi dini tekanan psikologis pada siswa di sekolah. |
| Survei Karakter | Memetakan perilaku siswa dan mencegah tindakan perundungan. |
| Profiling Sekolah | Memberikan gambaran menyeluruh kualitas sekolah secara nasional. |
| Integrasi Data | Memastikan TKA dan Rapor Pendidikan saling melengkapi. |
Tabel di atas menunjukkan bahwa fokus utama DPR saat ini adalah menyeimbangkan antara prestasi akademik dan kesejahteraan emosional peserta didik. Hal ini dilakukan guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung perkembangan kepribadian siswa secara positif.
Kurniasih berharap kementerian terkait terus memperkuat instrumen pengawasan ini agar tidak ada lagi kasus perundungan yang luput dari perhatian. Dengan transparansi data dalam rapor, orang tua dan guru dapat bekerja sama lebih baik dalam menjaga kesehatan mental anak-anak.