Harga Sapi Kurban 2026 Naik, Pedagang Jakarta Akui Penjualan Tetap Tinggi dan Banyak Dicari

Harga Sapi Kurban 2026 Naik, Pedagang Jakarta Akui Penjualan Tetap Tinggi dan Banyak Dicari
Foto: Harga Sapi Kurban 2026 Naik, Pedagang Jakarta Akui Penjualan Tetap Tinggi dan Banyak Dicari. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menjelang Hari Raya Idul Adha, para pedagang hewan kurban di Jakarta mulai memanen berkah melimpah. Antusiasme warga untuk berkurban tetap stabil dan cenderung meningkat meskipun kondisi ekonomi tengah menghadapi berbagai tantangan.

M. Said, seorang pedagang asal Bima, Nusa Tenggara Barat, mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan salah satu periode penjualan terbaiknya. Lapaknya yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, hampir kehabisan stok sapi kiriman langsung dari kampung halamannya.

Awalnya, Said hanya membawa 65 ekor sapi dari Bima, namun karena tingginya peminat, ia harus menambah stok dari rekan sesama peternak. Hingga saat ini, total 85 ekor sapi telah dipasarkan dan hanya menyisakan dua ekor saja yang belum terjual.

Variasi Harga dan Tantangan Distribusi Sapi

Pria yang sudah belasan tahun berbisnis hewan kurban di Jabodetabek ini menawarkan harga yang sangat beragam bagi konsumen. Said mematok harga mulai dari Rp14 juta untuk bobot teringan hingga puluhan juta rupiah untuk kategori premium.

Rincian harga sapi yang ditawarkan oleh pedagang di kawasan Jakarta Selatan:
  • Sapi kelas ekonomis dengan berat sekitar 210 kilogram dijual seharga Rp14 juta per ekor.
  • Sapi kategori super atau kelas "sultan" dengan berat di atas 800 kilogram dibanderol hingga Rp80 juta.
  • Sapi kelas menengah dengan berat bervariasi ditawarkan pada kisaran harga puluhan juta rupiah sesuai bobot tubuhnya.

Daftar harga tersebut menunjukkan segmentasi pasar yang luas, mulai dari kebutuhan perorangan hingga kelompok masyarakat yang ingin berkurban dengan sapi berukuran jumbo.

Proses membawa sapi dari NTB ke ibu kota bukanlah perjalanan yang singkat karena membutuhkan waktu hingga satu minggu. Said harus melewati jalur darat menggunakan truk tronton dan beberapa kali penyeberangan laut sebelum sampai di Jakarta.

Kendala utama yang sering dihadapi adalah waktu tunggu jadwal kapal penyeberangan yang terkadang menghambat distribusi. Namun, ia tetap memilih pasar Jakarta karena tingkat religiositas dan daya beli masyarakatnya yang sangat tinggi untuk urusan ibadah kurban.

Stabilitas Permintaan di Tengah Kenaikan Harga

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Madun, pedagang hewan kurban di kawasan Mampang Prapatan yang tergabung dalam persatuan peternak lokal. Ia mengakui adanya kenaikan harga beli dari tingkat petani atau pasar induk di daerah asal hewan tersebut.

Meski harga modal mengalami kenaikan yang cukup signifikan, Madun menyebut minat masyarakat untuk berkurban tidak mengalami penurunan drastis. Penjualan tahun ini dianggap masih berada dalam kategori normal dan sangat stabil bagi para pelaku usaha.

Perbandingan stok dan tingkat penjualan hewan kurban di lapak Madun:

Jenis Hewan Total Stok Status Penjualan Rentang Harga
Sapi 50 Ekor 99% Terjual Rp22 Juta - Rp100 Juta
Kambing 65 Ekor 50% Terjual Menyesuaikan Ukuran

Tabel di atas menunjukkan bahwa komoditas sapi jauh lebih cepat terserap pasar dibandingkan kambing yang biasanya baru ramai dibeli mendekati hari pelaksanaan kurban.

Madun berpendapat bahwa faktor niat ibadah menjadi alasan utama mengapa bisnis ini tetap kokoh meski situasi ekonomi sedang sulit. Bahkan saat masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, penjualan hewan kurban tidak pernah mengalami keterpurukan yang berarti.

Ia optimis seluruh stok hewan kurban miliknya akan habis terjual sebelum hari H Idul Adha tiba. Para pembeli biasanya akan melakukan transaksi di menit-menit terakhir atau H-1 sebelum pemotongan dilakukan.

Artikel terkait

Rekomendasi