Era kepemimpinan Pep Guardiola di Manchester City resmi berakhir pada musim panas ini. Keputusan pria asal Spanyol tersebut untuk hengkang menutup perjalanan karier luar biasa selama satu dekade di Stadion Etihad.
Meski kontrak aslinya baru akan habis pada musim panas 2027, Guardiola memilih menyelesaikan petualangannya lebih awal. Kepergian sang manajer legendaris ini memicu berbagai reaksi, termasuk dari rival terbesarnya di masa lalu.
Pesan Perpisahan dari Sir Alex Ferguson
Salah satu sosok yang memberikan apresiasi atas pengunduran diri Guardiola adalah mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson. Melalui sebuah pesan suara, pria asal Skotlandia itu menyampaikan selamat atas segala kesuksesan yang telah diraih Pep.
Namun, dalam sebuah sesi jumpa pers, Guardiola menceritakan momen jenaka saat dirinya menerima pesan tersebut. Ia mengaku sempat kesulitan memahami isi pembicaraan Ferguson karena logat bicaranya yang khas.
Berikut adalah tanggapan Pep Guardiola terkait pesan dari Sir Alex Ferguson:
- Kesulitan Aksen: Guardiola tertawa saat mengakui bahwa ia cukup sulit memahami aksen Skotlandia dalam pesan suara tersebut.
- Rencana Menghubungi Balik: Meski belum sempat membalas, ia berencana segera menelpon balik Ferguson untuk memberikan apresiasi.
- Rasa Hormat: Pep merasa sangat terhormat mendapatkan ucapan selamat dari sosok yang ia anggap sebagai manajer terbaik di tanah Inggris.
- Kebanggaan: Baginya, fakta bahwa Ferguson memperhatikan permainan Manchester City selama ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.
Hubungan antara kedua manajer hebat ini memang selalu diwarnai dengan rasa hormat meski berada di pihak yang berseberangan. Guardiola merasa senang karena tim asuhannya mendapatkan pengakuan dari sang maestro Old Trafford.
Transformasi dari 'Tetangga Berisik' Menjadi Raksasa
Pernyataan Guardiola kali ini juga sekaligus menjadi jawaban atas julukan "Tetangga Berisik" yang pernah dilontarkan Ferguson tahun 2009. Saat itu, Sir Alex menyebut City hanya tim yang berisik setelah akuisisi oleh Sheikh Mansour namun belum terbukti prestasinya.
Sejarah mencatat bahwa dominasi City perlahan mulai menggeser kedigdayaan United di Manchester. Terutama sejak kedatangan Guardiola, status "tetangga yang berisik" itu perlahan mulai menghilang seiring tumpukan trofi yang diraih.
Catatan prestasi manajerial di kasta tertinggi Liga Inggris:
| Manajer | Klub | Jumlah Trofi Liga Inggris |
|---|---|---|
| Sir Alex Ferguson | Manchester United | 13 Gelar |
| Pep Guardiola | Manchester City | 6 Gelar |
| Arsene Wenger | Arsenal | 3 Gelar |
| Jose Mourinho | Chelsea | 3 Gelar |
Tabel di atas menunjukkan bahwa Sir Alex masih memegang rekor trofi terbanyak, namun pencapaian Guardiola dengan empat gelar beruntun tetap menjadi rekor yang sulit dipecahkan. Dominasi ini membuktikan bahwa City telah berubah total menjadi kekuatan utama di Eropa.
Guardiola meyakini bahwa label "tetangga berisik" sudah tidak relevan lagi untuk kondisi Manchester City saat ini. Baginya, City sekarang berdiri sejajar dengan tim-tim besar lainnya tanpa harus lagi berteriak untuk mencari perhatian.
"Saya yakin Sir Alex tidak akan lagi menyebut kami sebagai tetangga yang berisik," ujar Guardiola menutup pernyataannya. Menurutnya, Manchester City kini telah bertransformasi menjadi tetangga yang mapan dan berprestasi.