Cara Cuci Baju di Luar Angkasa Tanpa Air, Peneliti Temukan Solusi Terbaru 2026

Cara Cuci Baju di Luar Angkasa Tanpa Air, Peneliti Temukan Solusi Terbaru 2026
Foto: Cara Cuci Baju di Luar Angkasa Tanpa Air, Peneliti Temukan Solusi Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Para ilmuwan baru saja menciptakan inovasi mutakhir untuk mengatasi persoalan kebersihan pakaian para astronot di luar angkasa. Teknik terbaru ini memungkinkan pencucian baju tanpa membutuhkan setetes air pun.

Penemuan ini dipandang sangat krusial guna menyokong misi eksplorasi jangka panjang ke Bulan maupun Mars. Pada misi tersebut, sumber daya seperti air dan ruang logistik sangatlah terbatas dan harus dikelola dengan sangat ketat.

Keterbatasan Metode Pembersihan di Luar Angkasa

Selama ini, kru di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengandalkan tisu kimia serta vakum kering untuk membersihkan pakaian mereka. Namun, prosedur tersebut dinilai kurang optimal dalam menjaga higienitas secara menyeluruh.

Pilihan lainnya adalah memakai pakaian hingga benar-benar kotor lalu membuangnya begitu saja ke ruang hampa. Sayangnya, praktik ini dianggap tidak berkelanjutan untuk misi masa depan karena akan menambah tumpukan sampah luar angkasa.

Guna memberikan solusi yang lebih baik, Gabe Xu dari University of Alabama memimpin sebuah tim penelitian khusus. Mereka berkolaborasi dengan ahli mikrobiologi NASA, Chelsi Cassilly, untuk merancang teknologi pembersih masa depan.

Teknologi Plasma Dingin sebagai Solusi

Tim peneliti berhasil mengembangkan alat berukuran ringkas yang mampu memancarkan aliran plasma dingin seukuran ujung pensil. Inovasi ini diklaim ampuh membasmi bakteri yang bersarang di serat kain tanpa merusak material pakaian.

Cara kerja alat ini melibatkan penggunaan tegangan listrik tinggi untuk mengionisasi campuran uap air, udara, dan helium. Gas terionisasi tersebut kemudian diarahkan ke permukaan kain untuk menghancurkan mikroorganisme merugikan.

Proses pembersihan ini mengandalkan mekanisme ilmiah berikut:

  • Ionisasi Gas: Penggunaan listrik untuk mengubah campuran udara menjadi partikel bermuatan.
  • Stres Oksidatif: Proses penghancuran dinding sel bakteri melalui reaksi kimia yang kuat.
  • Suhu Ruang: Plasma tetap berada pada suhu normal sehingga aman bagi kulit dan bahan kain.

Melalui mekanisme tersebut, bakteri bisa dimatikan secara efektif tanpa risiko terbakar seperti pada penggunaan plasma panas konvensional. Keamanan bagi pengguna menjadi prioritas utama dalam pengembangan alat pembersih ini.

Hasil Uji Coba Laboratorium

Dalam tahap pengujian, tim peneliti menggunakan sampel bakteri Staphylococcus caprae yang lazim ditemukan di lingkungan ISS. Bakteri ini dipaparkan pada sampel kain katun sebelum dilakukan proses pembersihan dengan plasma.

Hasil pengujian menunjukkan penurunan populasi bakteri yang sangat signifikan dari jumlah awal 250.000 menjadi hanya 60.000 per mililiter. Angka ini membuktikan bahwa metode plasma jauh lebih efektif dibandingkan teknik pembersihan manual yang ada saat ini.

Berikut adalah ringkasan perbandingan metode pembersihan pakaian astronot:

Metode Pembersihan Efektivitas Bakteri Kebutuhan Sumber Daya
Tisu Kimia & Vakum Rendah Bahan sekali pakai
Membuang Pakaian Nol (Pakaian dibuang) Logistik sangat tinggi
Teknologi Plasma Dingin Sangat Tinggi Hanya Listrik dan Gas

Tabel di atas memperlihatkan bahwa plasma dingin menawarkan efisiensi yang lebih baik bagi keberlangsungan misi luar angkasa. Penghematan biaya logistik menjadi keunggulan utama dari penerapan teknologi ini di masa depan.

Fokus pada Kesehatan Astronot

Meskipun teknologi ini belum mampu menghilangkan noda fisik yang terlihat, fokus utamanya adalah sterilisasi. Membunuh mikroba jauh lebih penting untuk mencegah para astronot terjangkit penyakit menular selama menjalankan misi.

Gabe Xu menjelaskan bahwa banyak mikroba yang memiliki ketahanan terhadap sinar ultraviolet (UV). Namun, berdasarkan hasil eksperimen mereka, sejauh ini belum ada bakteri yang mampu bertahan dari serangan stres oksidatif plasma.

Saat ini, prototipe alat pembersih tersebut masih dalam bentuk purwarupa berukuran kecil dengan jangkauan pancaran yang terbatas. Tim peneliti terus berupaya menyempurnakan teknologi ini agar nantinya bisa digunakan untuk membersihkan pakaian secara utuh.

Artikel terkait

Rekomendasi