Daftar tunggu perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penyusutan.
Hingga saat ini, tercatat hanya tersisa 12 calon emiten yang masuk dalam antrean, berkurang dari posisi akhir bulan lalu yang sempat mencapai 15 perusahaan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa perubahan angka dalam pipeline tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis maupun administratif.
Beberapa calon emiten tengah melakukan pembaruan pada dokumen keuangan mereka atau masih harus melengkapi persyaratan yang diminta oleh otoritas bursa.
“Ada perusahaan yang melakukan revisi dengan menggunakan laporan keuangan terbaru, ada yang masih melengkapi dokumen, dan ada pula yang belum mendapatkan persetujuan,” ujar Nyoman kepada wartawan, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan data resmi otoritas bursa per 5 Juni 2026, mayoritas perusahaan yang sedang dalam proses melantai di bursa merupakan korporasi dengan kepemilikan aset berskala besar.
Sebanyak 8 perusahaan dalam daftar tunggu tersebut masuk dalam kategori aset jumbo, merujuk pada klasifikasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 53/POJK.04/2017.
Perusahaan dengan skala besar ini memiliki nilai aset di atas Rp250 miliar, sementara sisa antrean lainnya diisi oleh perusahaan dengan skala aset menengah.
Kelompok menengah ini terdiri dari 4 perusahaan yang memiliki rentang nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Dominasi Sektor Kesehatan dan Konsumer
Meskipun antrean terus bergerak, realisasi emiten baru yang benar-benar resmi melantai di BEI sepanjang awal tahun 2026 ini terhitung masih cukup minim.
Pihak BEI mencatat baru terdapat satu perusahaan yang telah sukses melakukan pencatatan saham perdana dengan total perolehan dana sebesar Rp300 miliar.
Berikut adalah rincian sektor industri dari 12 calon emiten yang saat ini berada dalam daftar tunggu IPO:
- Sektor kesehatan: 3 perusahaan
- Sektor barang konsumen primer (consumer cyclicals): 3 perusahaan
- Sektor barang konsumen non-primer: 2 perusahaan
- Sektor infrastruktur: 2 perusahaan
- Sektor keuangan: 1 perusahaan
- Sektor teknologi: 1 perusahaan
Data di atas menunjukkan bahwa sektor kesehatan dan konsumer primer menjadi penggerak utama dalam aktivitas pasar modal saat ini.
Kedua sektor tersebut masing-masing menyumbangkan tiga calon emiten yang sedang memproses perizinan untuk melepaskan sahamnya ke publik.
Di sisi lain, terdapat beberapa sektor industri yang terpantau absen dan tidak memiliki perwakilan sama sekali dalam pipeline pencatatan saham perdana kali ini.
Sektor-sektor yang nihil tersebut meliputi bidang energi, bahan baku, industri, properti dan real estat, serta sektor transportasi dan logistik.
Klasifikasi Aset Calon Emiten
Pembagian kategori perusahaan yang mengantre untuk IPO didasarkan pada total nilai aset yang mereka miliki sesuai dengan regulasi yang berlaku dari OJK.
Tabel berikut menyajikan ringkasan komposisi aset dari para calon emiten yang tengah diproses oleh Bursa Efek Indonesia:
| Kategori Aset | Nilai Aset | Jumlah Perusahaan |
|---|---|---|
| Perusahaan Skala Besar | Di atas Rp250 Miliar | 8 Calon Emiten |
| Perusahaan Skala Menengah | Rp50 Miliar - Rp250 Miliar | 4 Calon Emiten |
| Perusahaan Skala Kecil | Di bawah Rp50 Miliar | 0 Calon Emiten |
Informasi dalam tabel tersebut menunjukkan bahwa minat untuk melantai di bursa saham masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan mapan dengan kekuatan finansial besar.
Hal ini mencerminkan optimisme korporasi besar dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk memperkuat struktur permodalan dan ekspansi bisnis mereka.
Penyusutan jumlah antrean dari 15 menjadi 12 perusahaan merupakan bagian dari seleksi ketat yang dilakukan oleh BEI guna memastikan kualitas emiten yang akan bergabung.
Proses administrasi yang detail, seperti verifikasi laporan keuangan dan kelengkapan dokumen, menjadi kunci utama bagi perusahaan sebelum mendapatkan lampu hijau untuk IPO.
Meskipun aktivitas peluncuran saham baru belum masif, keberadaan sektor-sektor strategis seperti teknologi dan infrastruktur dalam daftar tunggu memberikan sinyal positif bagi investor.
Kehadiran satu perusahaan keuangan dalam antrean juga menunjukkan bahwa sektor finansial tetap mencari peluang untuk meningkatkan likuiditas melalui mekanisme bursa.
Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham tertentu di pasar modal.
Segala keputusan terkait investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca, termasuk potensi keuntungan maupun risiko kerugian yang mungkin muncul.
BEI sendiri diperkirakan akan terus memperbarui status pipeline ini seiring dengan masuknya dokumen baru atau selesainya proses audit dari calon emiten lainnya.
Para pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan terkini mengenai emiten baru untuk menavigasi strategi investasi di tengah kondisi pasar yang dinamis.