Musim kompetisi Serie A 2025/2026 menjadi periode yang kurang menyenangkan bagi pelatih Napoli, Antonio Conte. Juru taktik ternama ini mencatatkan rekor yang tidak diinginkan dalam perjalanan karier profesionalnya sebagai pelatih sepak bola.
Untuk pertama kalinya sepanjang menangani sebuah tim dalam satu musim penuh, Conte dipastikan gagal menembus ambang batas 80 poin. Pencapaian ini menjadi sorotan karena sang pelatih dikenal selalu memiliki standar poin yang sangat tinggi di setiap klub yang ia besut.
Kepastian kegagalan ini muncul setelah Napoli gagal meraih poin penuh dalam pertandingan terbarunya di liga. Skuad asuhan Antonio Conte tersebut hanya mampu bermain imbang melawan tim promosi, Como.
Dalam laga yang digelar di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Sabtu malam WIB (2/5/2026), pertandingan berakhir dengan skor kacamata alias 0-0. Hasil imbang tanpa gol tersebut membuat Napoli kehilangan momentum penting untuk memperbaiki posisi mereka di klasemen sementara.
Tambahan satu poin dari kandang Como membuat koleksi Napoli saat ini tertahan di angka 70 poin. Mengingat musim kompetisi Serie A hanya menyisakan tiga pertandingan lagi, perolehan poin Napoli sudah terkunci pada batas tertentu.
Secara matematis, poin maksimal yang bisa dikumpulkan Napoli jika memenangi seluruh laga sisa adalah 79 poin. Angka ini secara otomatis menjadi rekor terendah bagi Conte selama memimpin tim dalam format satu musim kompetisi secara utuh di Italia.
Situasi ini berbanding terbalik dengan performa Napoli pada musim sebelumnya di mana mereka keluar sebagai peraih Scudetto. Kala itu, Napoli berhasil menjadi juara dengan koleksi 82 poin, hanya terpaut satu angka dari Inter Milan yang membuntuti di posisi kedua.
Penurunan performa Napoli di bawah arahan Conte musim ini memang cukup mengejutkan banyak pihak. Hal ini dikarenakan Antonio Conte selalu dikenal sebagai pelatih yang mampu menjaga konsistensi perolehan poin di level tertinggi.
Berikut adalah rangkuman perjalanan poin Antonio Conte selama menangani klub-klub di kasta tertinggi Liga Italia :
| Klub | Musim | Total Poin |
|---|---|---|
| Juventus | 2013/2014 | 102 Poin |
| Inter Milan | 2020/2021 | 91 Poin |
| Juventus | 2011/2012 | 84 Poin |
| Inter Milan | 2019/2020 | 82 Poin |
| Napoli | 2025/2026 | 79 Poin (Maksimal) |
Data di atas menunjukkan bahwa Napoli musim ini menjadi catatan terburuk Conte secara statistik poin sepanjang kariernya. Namun, penting untuk dicatat bahwa Conte juga pernah melatih Atalanta pada musim 2009/2010 dengan raihan poin di bawah standar tersebut.
Meski demikian, periode di Atalanta tidak dihitung sebagai satu musim penuh karena ia hanya memimpin tim dalam 13 pertandingan. Oleh karena itu, kegagalan di Napoli musim ini dianggap sebagai anomali pertama dalam sejarah kepelatihannya selama satu tahun kalender penuh.
Catatan terbaik Conte hingga kini masih dipegang saat ia menahkodai Juventus pada musim 2013/2014. Pada masa itu, ia berhasil membawa Si Nyonya Tua mengumpulkan 102 poin, sebuah rekor fantastis yang sangat sulit dipecahkan.
Bersama Juventus pula, ia tercatat pernah mengumpulkan 87 dan 84 poin dalam periode kepemimpinan yang berbeda. Ketajaman strateginya juga terbukti saat membawa Inter Milan meraih 82 poin di musim pertamanya dan melonjak ke angka 91 poin saat menjuarai liga setahun setelahnya.
Di sisi lain, dunia sepak bola Indonesia juga tengah bersiap menyambut agenda internasional yang padat. Pelatih Nova Arianto dikabarkan akan memanggil tujuh pemain diaspora untuk memperkuat Timnas Indonesia U-20.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari persiapan serius menjelang gelaran Piala AFF U-19 2026 yang akan dilangsungkan di Sumatera Utara pada 1 hingga 14 Juni mendatang. Kehadiran pemain diaspora diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainan tim secara signifikan.
Pusat pelatihan atau training center (TC) untuk Garuda Muda direncanakan akan dimulai pada 10 Mei mendatang di Yogyakarta. Selama masa persiapan tersebut, tim juga dijadwalkan melakoni beberapa laga uji coba internasional guna mematangkan taktik dan mental bertanding.
Persaingan di Serie A sendiri saat ini masih sangat dinamis, terutama dalam memperebutkan posisi empat besar. Setidaknya ada lima tim yang saling sikut dengan selisih poin yang sangat tipis, yakni hanya terpaut lima angka saja.
Kondisi ini membuat setiap pertandingan sisa menjadi sangat krusial bagi Napoli maupun rival-rivalnya. Meskipun rekor 80 poin Conte sudah pasti pupus, Napoli tetap dituntut untuk tampil maksimal demi mengamankan posisi terbaik di klasemen akhir.
Conte sendiri tetap menunjukkan profesionalisme tinggi meskipun di bawah tekanan kritik. Saat salah satu pemainnya, Hojlund, mendapat kritik tajam setelah kekalahan Napoli sebelumnya, Conte langsung pasang badan untuk membela sang pemain.
Eks pelatih Chelsea tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab atas performa tim berada di pundaknya. Ia meminta para penggemar dan media untuk tetap memberikan dukungan moral kepada para pemain di sisa musim ini.
Standar tinggi yang selalu ditetapkan Conte memang menjadi pedang bermata dua bagi dirinya sendiri. Ketika target tersebut gagal tercapai, sorotan tajam dari publik Italia tidak dapat dihindari, terutama mengingat reputasinya sebagai pelatih spesialis juara.
Kini, fokus utama Conte adalah memastikan Napoli menutup tiga laga terakhir dengan kemenangan manis. Hal ini penting untuk menjaga wibawa tim dan memberikan kado penutup yang layak bagi para pendukung setia Partenopei.
Masa depan strategi Conte di Napoli tentu akan dievaluasi setelah musim ini berakhir secara resmi. Kegagalan mencapai 80 poin menjadi pelajaran berharga bagi sang pelatih untuk meramu komposisi skuad yang lebih kompetitif di musim depan.