Bintang sepak bola asal Argentina, Angel Di Maria, kembali membuka suara mengenai masa lalunya yang kelam di Manchester United. Ia secara terang-terangan menyebut bahwa Louis van Gaal adalah sosok utama di balik kegagalannya di Old Trafford.
Dalam sesi wawancara eksklusif bersama BBC Sport yang dirilis pada Selasa (26/5/2026), Di Maria mengungkapkan bahwa hubungan buruk dengan sang pelatih membuatnya tidak nyaman. Meski sempat memulai musim dengan baik, situasi berubah drastis akibat perlakuan Van Gaal.
Konflik Personal dengan Louis van Gaal
Di Maria merasa frustrasi karena Van Gaal terus-menerus memberikan kritik negatif tanpa memberikan apresiasi. Hal ini membuatnya merasa tidak dihargai sebagai pemain profesional selama berada di bawah asuhan pelatih asal Belanda tersebut.
Berikut adalah beberapa alasan utama yang memicu keretakan hubungan antara keduanya:
- Fokus berlebihan pelatih pada kesalahan pemain di lapangan.
- Kurangnya umpan balik positif dari Van Gaal atas performa yang baik.
- Diskusi rutin yang hanya membahas poin-poin negatif setiap selesai pertandingan.
- Komunikasi yang tidak harmonis sehingga merusak kepercayaan diri sang pemain.
Kondisi tersebut membuat Di Maria jengah dan akhirnya membulatkan tekad untuk segera meninggalkan klub Inggris tersebut. Ia merasa atmosfer kerja yang diciptakan Van Gaal sangat tidak sehat bagi perkembangannya.
Faktor Eksternal di Luar Lapangan
Selain masalah internal klub, faktor kehidupan di Manchester juga menjadi alasan Di Maria merasa tidak betah. Cuaca yang ekstrem serta durasi matahari yang singkat membuatnya sulit beradaptasi dengan lingkungan Inggris.
Insiden perampokan rumah yang menimpa keluarganya menjadi puncak dari segala kesialan yang ia alami di sana. Meskipun pernah mengalami perampokan serupa di Paris, ia tetap bertahan di PSG karena kehidupan sosial yang lebih baik dibandingkan di Manchester.
Ringkasan perbandingan pengalaman Di Maria di Manchester dan Paris:
| Aspek Kehidupan | Manchester (MU) | Paris (PSG) |
|---|---|---|
| Karier & Pelatih | Buruk karena konflik dengan Van Gaal | Stabil dan lebih lama bertahan |
| Keamanan Rumah | Pernah mengalami perampokan | Pernah mengalami perampokan |
| Adaptasi Lingkungan | Sulit karena cuaca dan suasana kota | Sangat baik dan merasa nyaman |
| Prioritas Keluarga | Menjadi alasan utama untuk segera pindah | Bertahan hingga beberapa tahun |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan keamanan di kedua kota, faktor kenyamanan kota dan lingkungan klub menjadi pembeda utama. Di Maria akhirnya memilih memprioritaskan kebahagiaan keluarganya di atas segalanya.
Tetap Bersyukur Memperkuat Setan Merah
Meski memiliki kenangan pahit, Di Maria menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyesali keputusannya bergabung dengan Manchester United pada 2014. Ia tetap merasa bangga pernah menjadi bagian dari klub raksasa Premier League tersebut.
Pemain yang diboyong seharga 59,7 juta Pound dari Real Madrid ini memuji dukungan luar biasa dari para staf dan penggemar. Ia mengaku sangat menyukai atmosfer pertandingan di stadion dan kasih sayang yang diberikan suporter kepadanya.
Selain faktor gaji yang besar, pengalaman bermain di liga kasta tertinggi Inggris memang menjadi impiannya sejak lama. Hal itulah yang membuatnya tetap memandang masa-masa singkatnya di MU sebagai pencapaian yang luar biasa secara profesional.
Di Maria akhirnya hengkang ke Paris Saint-Germain setahun setelah bergabung, meski awalnya menandatangani kontrak berdurasi lima tahun. Langkah ini diambil demi mengakhiri ketegangan dengan Van Gaal dan memulai lembaran baru di Prancis.