5 Film Star Wars dengan Skor Terendah di Rotten Tomatoes, Ada yang Mengejutkan!

5 Film Star Wars dengan Skor Terendah di Rotten Tomatoes, Ada yang Mengejutkan!
Foto: 5 Film Star Wars dengan Skor Terendah di Rotten Tomatoes, Ada yang Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Selama hampir lima puluh tahun, Star Wars telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu waralaba film paling berpengaruh di dunia. Warisan karya George Lucas ini tidak hanya sukses meraup keuntungan besar, tetapi juga sering mendapatkan pujian selangit dari para kritikus film.

Beberapa judul legendaris seperti film orisinal Star Wars (1977), The Empire Strikes Back (1980), hingga The Force Awakens (2015) bahkan meraih predikat "Certified Fresh". Film-film tersebut berhasil mencatatkan skor kritikus yang sangat impresif, yakni di atas angka 90 persen di situs Rotten Tomatoes.

Namun, nama besar ternyata tidak menjamin setiap rilisan dari semesta galaksi jauh di sana ini selalu diterima dengan tangan terbuka. Ada kalanya beberapa judul justru menuai kritik tajam dan berakhir dengan penilaian yang cukup rendah di mata para pengamat film.

Bahkan, film terbaru yang saat ini sedang menghiasi layar lebar, The Mandalorian and Grogu, juga tidak luput dari penilaian yang beragam. Berdasarkan data terbaru dari Rotten Tomatoes, terdapat lima judul film Star Wars yang tercatat memiliki skor terendah sepanjang sejarah waralaba ini.

Daftar Film Star Wars dengan Skor Kritikus Terendah

Berikut adalah lima film dalam semesta Star Wars yang mendapatkan penilaian paling rendah dari para kritikus di Rotten Tomatoes:

Judul Film Tahun Rilis Skor Rotten Tomatoes
Star Wars: The Clone Wars 2008 18 Persen
Star Wars: The Rise of Skywalker 2019 51 Persen
Star Wars: Episode I – The Phantom Menace 1999 54 Persen
Star Wars: Episode II – Attack of the Clones 2002 62 Persen
The Mandalorian and Grogu 2026 63 Persen

Tabel di atas memperlihatkan bahwa skor rendah tidak hanya didominasi oleh film lama, tetapi juga melibatkan film animasi hingga rilisan terbaru tahun 2026. Berikut adalah rincian mendalam mengenai penyebab film-film tersebut kurang mendapat apresiasi dari para kritikus.

1. Star Wars: Episode I – The Phantom Menace (1999) — 54 Persen

Sebagai pembuka dari trilogi prekuel yang sangat dinantikan, film ini memikul beban ekspektasi yang sangat berat dari jutaan penggemar setianya di seluruh dunia. Ceritanya berpusat pada perjalanan dua Jedi, Qui-Gon Jinn dan Obi-Wan Kenobi, dalam misi melindungi Ratu Padmé Amidala dari serangan Trade Federation.

Di tengah perjalanan, mereka terdampar di Tatooine dan bertemu dengan seorang bocah budak bernama Anakin Skywalker yang memiliki kepekaan Force luar biasa. Meskipun premisnya terdengar menjanjikan, banyak kritikus yang merasa alur ceritanya justru terasa hambar dan membosankan.

Fokus cerita yang terlalu dalam membahas birokrasi politik dagang dan hukum perpajakan galaksi dianggap sebagai poin lemah utama film ini. Namun, film ini tetap meninggalkan kesan mendalam berkat adegan balapan podrace yang ikonik serta duel epik melawan Darth Maul.

2. Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (2002) — 62 Persen

Film kedua dari trilogi prekuel ini memiliki skor yang sedikit lebih baik, namun tetap menjadi bahan perdebatan panas hingga saat ini. Attack of the Clones memegang peran krusial karena menjadi titik awal meletusnya perang besar antara pasukan klon dan kaum Separatis.

Penonton juga diberikan momen bersejarah saat melihat Master Yoda beraksi menggunakan lightsaber untuk pertama kalinya di layar lebar. Cerita berlatar satu dekade setelah film pertama, fokus pada investigasi Obi-Wan Kenobi mengenai rencana pembunuhan terhadap Padmé Amidala.

Sementara itu, Anakin Skywalker yang sudah beranjak dewasa ditugaskan menjaga Padmé, hingga akhirnya benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Sayangnya, aspek romansa ini justru banyak dikritik karena penulisan dialognya yang dianggap sangat kaku dan tidak mampu menyampaikan emosi dengan baik.

3. Star Wars: The Clone Wars (2008) — 18 Persen

Hingga saat ini, Star Wars: The Clone Wars masih memegang rekor sebagai film dengan penilaian terburuk di seluruh waralaba. Film animasi ini sebenarnya berfungsi sebagai episode pengantar atau pilot bagi serial televisi populer dengan judul yang sama.

Plot utamanya mengikuti petualangan Anakin dan Obi-Wan yang mencoba menyelamatkan bayi Jabba the Hutt yang diculik oleh kelompok misterius. Film ini juga memperkenalkan sosok Ahsoka Tano, murid baru Anakin yang nantinya akan menjadi salah satu karakter paling dicintai penggemar.

Kritik paling tajam muncul karena struktur filmnya yang dianggap tidak solid dan lebih menyerupai gabungan beberapa episode TV yang dipaksa menjadi film bioskop. Meski begitu, kualitas pengisi suara yang luar biasa membuat karakter-karakternya tetap bertahan kuat di hati para penonton selama bertahun-tahun.

4. Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) — 51 Persen

Mengakhiri sebuah saga legendaris yang sudah berjalan selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah, dan film ini mengalami kesulitan besar dalam melakukannya. Sebagai penutup Skywalker Saga, film ini dinilai terlalu banyak memberikan "layanan penggemar" atau fan service demi nostalgia semata.

Beberapa kritikus juga menganggap naskahnya terlalu terburu-buru dalam mengubah atau membatalkan elemen cerita dari film sebelumnya, The Last Jedi. Hal ini mengakibatkan adanya ketidaksinambungan narasi yang membuat penonton merasa bingung dengan arah ceritanya.

Menariknya, meskipun dikritik habis oleh para ahli, penonton umum justru memberikan skor audiens yang cukup tinggi, mencapai angka 86 persen. Banyak yang tetap menikmati perjuangan pasukan Resistance melawan First Order serta konfrontasi emosional antara Rey dan Kylo Ren.

5. The Mandalorian and Grogu (2026) — 63 Persen

The Mandalorian and Grogu menjadi entri terbaru dalam daftar ini dengan antusiasme penonton yang ternyata tidak sejalan dengan skor dari kritikus. Film ini melanjutkan kisah Din Djarin dan Grogu dalam menjalankan misi berbahaya untuk kepentingan Republik Baru.

Dalam petualangan kali ini, mereka harus melacak keberadaan Rotta, putra Jabba the Hutt, sembari menghadapi sisa-sisa kekuatan Kekaisaran. Film ini sebenarnya menawarkan nuansa petualangan klasik yang sangat menyenangkan, penuh aksi, dan tentu saja interaksi manis antara kedua tokoh utamanya.

Namun, para pengamat film menilai eksekusinya terasa seperti konten tambahan atau "filler" yang tidak memberikan perkembangan signifikan bagi semesta besar Star Wars. Alur ceritanya dianggap terlalu sederhana dan berjalan di tempat, sehingga kurang memberikan dampak yang kuat sebagai film layar lebar.

Beberapa faktor utama yang sering menyebabkan film Star Wars mendapat skor rendah antara lain:

  • Penulisan dialog yang terasa kaku dan kurang alami bagi para aktornya.
  • Terlalu banyak fokus pada elemen politik galaksi yang rumit dan menjemukan.
  • Ketergantungan yang berlebihan pada unsur nostalgia dibandingkan pengembangan cerita baru.
  • Struktur narasi yang terkadang terasa terfragmentasi atau tidak konsisten antar film.
  • Ekspektasi penggemar yang sangat tinggi sehingga sulit untuk dipenuhi oleh rumah produksi.

Meskipun penilaian kritikus sering kali memberikan gambaran tentang kualitas teknis dan naratif, hal tersebut bukan satu-satunya tolok ukur. Bagi banyak penggemar setia, pengalaman menonton petualangan di galaksi jauh di sana tetap memberikan kebahagiaan tersendiri yang sulit digantikan oleh angka.

Artikel terkait

Rekomendasi