Sosok Pep Guardiola kini telah menjadi ikon yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Manchester City. Selama satu dekade kepemimpinannya, juru taktik asal Catalan ini berhasil menyulap City dari sekadar klub kaya raya menjadi kekuatan yang sangat dominan di kancah sepak bola Inggris maupun Eropa.
Laga melawan Aston Villa pada pengujung musim 2025/2026 menjadi momen bersejarah karena merupakan pertandingan ke-593 Guardiola bersama The Citizens. Angka tersebut sekaligus memecahkan rekor jumlah pertandingan terbanyak milik Les McDowell dalam sejarah klub, meski kekalahan 1-2 harus diterima pada laga perpisahan itu.
Namun, warisan yang ditinggalkan Guardiola jauh lebih besar daripada sekadar deretan angka statistik. Ia telah mewariskan revolusi taktik yang mendalam, budaya haus kemenangan, hingga mencetak deretan pemain kelas dunia yang membentuk era keemasan di Etihad Stadium.
Untuk mengenang perjalanan sepuluh musimnya yang luar biasa, berikut adalah rangkuman sepuluh pertandingan paling krusial yang membangun dinasti Guardiola di Manchester City.
Awal Mula dan Terciptanya Mesin Penghancur
Musim pertama Guardiola di kompetisi Premier League pada 2016/2017 ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Setelah sempat mencatatkan sepuluh kemenangan beruntun di awal, performa City mulai tidak stabil dan sering kehilangan poin penting.
Kekalahan telak dari tim seperti Leicester City dan Everton sempat memicu keraguan publik apakah filosofi sepak bola Pep bisa diterapkan di Inggris. Titik balik terjadi saat Manchester City menjamu Tottenham Hotspur asuhan Mauricio Pochettino dalam laga yang berakhir imbang 2-2.
Pada pertandingan tersebut, Guardiola memutuskan untuk kembali ke identitas aslinya dengan menerapkan formasi klasik 4-3-3. Duet kreatif Kevin De Bruyne dan David Silva mulai berpadu dengan kecepatan Leroy Sane serta Raheem Sterling di sisi lapangan.
Meskipun skor berakhir seri, laga ini menjadi fondasi awal di mana City kemudian tidak terkalahkan dalam 11 pertandingan selanjutnya. Era dominasi pun perlahan mulai menunjukkan bentuknya.
Memasuki periode musim 2017/2018, Manchester City berubah menjadi mesin penghancur yang menakutkan bagi setiap lawan :
- Kemenangan telak 7-2 atas Stoke City menjadi bukti nyata dominasi mutlak mereka.
- Kehadiran pemain baru seperti Ederson, Kyle Walker, dan Bernardo Silva menaikkan level permainan tim.
- Kevin De Bruyne tampil sebagai nyawa permainan dengan umpan-umpan kreatif yang sulit dibaca pertahanan lawan.
- Guardiola memperkenalkan konsep inovatif inverted full-back lewat peran Fabian Delph.
Pada akhir musim tersebut, Manchester City berhasil mengukir sejarah luar biasa di Premier League. Mereka menutup kompetisi dengan raihan 100 poin, sebuah rekor poin tertinggi yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Dominasi Lokal Hingga Panggung Eropa
Memasuki musim 2018/2019, persaingan antara Guardiola dan Jose Mourinho di Manchester menjadi sorotan utama. Namun, dalam laga Derby Manchester pada November 2018, City sukses menunjukkan perbedaan kelas yang mencolok.
Kemenangan 3-1 diraih melalui gol-gol dari David Silva, Sergio Aguero, dan Ilkay Gundogan. Momen ikonik terjadi pada gol Gundogan yang lahir setelah melalui proses 44 operan tanpa putus khas gaya possession ball milik Pep.
Pertandingan ini menjadi bukti kuat bahwa Guardiola telah memenangkan rivalitas pribadinya dengan Mourinho di tanah Inggris. City pun semakin mengukuhkan diri sebagai penguasa kota Manchester.
Ujian sesungguhnya bagi mentalitas City terjadi pada musim 2019/2020 saat mereka harus bertandang ke markas Real Madrid. Di tengah isu sanksi finansial dan tekanan besar, Guardiola justru menunjukkan kecerdikan taktik yang luar biasa di Santiago Bernabeu.
Tanpa menggunakan penyerang murni, ia menempatkan Kevin De Bruyne dan Bernardo Silva sebagai false nine untuk mengacaukan pertahanan lawan. Sempat tertinggal lebih dulu, City bangkit lewat gol Gabriel Jesus dan penalti De Bruyne untuk mengunci kemenangan 2-1.
Hasil manis di Madrid tersebut menjadi pesan penting kepada dunia bahwa City tidak lagi merasa rendah diri saat tampil di panggung Eropa. Mentalitas juara mulai meresap ke dalam nadi setiap pemain.
Kebangkitan Pasca Pandemi dan Rivalitas Sengit
Masa pandemi COVID-19 pada musim 2020/2021 menjadi periode yang sangat emosional bagi Guardiola secara pribadi. Ia harus kehilangan sang ibu akibat virus tersebut, sementara performa tim di lapangan juga sempat mengalami pasang surut.
Kebangkitan City dimulai saat mereka berhasil mengalahkan Chelsea dengan skor meyakinkan 3-1 di Stamford Bridge. Duet lini belakang Ruben Dias dan John Stones terbukti menjadi tembok kokoh yang sangat sulit ditembus oleh barisan penyerang lawan.
Pada musim ini, sistem rotasi posisi menyerang tanpa striker murni membuat lawan-lawan mereka kebingungan. Meski sempat kalah di final Liga Champions oleh Chelsea, City tetap berhasil mempertahankan status mereka sebagai kekuatan utama di kompetisi domestik.
Rivalitas antara Guardiola dan Jurgen Klopp mencapai puncaknya pada musim 2021/2022 melalui duel klasik di Anfield :
- Pertandingan yang berakhir imbang 2-2 itu mempertontonkan intensitas sepak bola level tertinggi di dunia.
- Phil Foden menunjukkan kualitasnya sebagai pemain muda berbakat yang mampu merepotkan pertahanan Liverpool.
- Kevin De Bruyne kembali menjadi motor serangan yang menjaga keseimbangan tim di tengah tekanan suporter lawan.
- City berhasil membuktikan mental juara mereka dengan tetap tenang di stadion yang biasanya menjadi mimpi buruk bagi mereka.
Pertarungan sengit dengan Liverpool ini diakui sebagai salah satu persaingan terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepak bola Inggris. Kedua tim saling dorong hingga batas maksimal kemampuan mereka.
Puncak Kejayaan dan Regenerasi Tim
Musim 2022/2023 menjadi puncak dari segala kerja keras Guardiola selama melatih di Manchester City. Setelah kegagalan dramatis pada musim sebelumnya, City membalas dendam kepada Real Madrid dengan cara yang sangat luar biasa.
Bermain di Etihad Stadium pada babak semifinal Liga Champions, City melumat sang raja Eropa dengan skor telak 4-0. Bernardo Silva menjadi bintang dengan sumbangan dua gol, sementara para pemain Madrid nyaris tidak diberikan kesempatan untuk memegang bola.
Kemenangan sempurna ini menjadi jalan pembuka bagi Manchester City untuk meraih treble bersejarah. Mereka sukses mengawinkan gelar Premier League, FA Cup, dan trofi Liga Champions dalam satu musim yang sama.
Setahun berselang, tepatnya pada musim 2023/2024, tongkat estafet kepemimpinan di lapangan mulai berpindah ke tangan Phil Foden. Dalam laga Derby Manchester, Foden muncul sebagai pahlawan setelah City sempat tertinggal oleh gol spektakuler lawan.
Ia mencetak dua gol penting dan mendikte jalannya permainan dari awal hingga akhir pertandingan. Musim ini menandai transformasi Foden dari seorang pemain muda berbakat menjadi sosok pemimpin baru bagi skuat The Citizens.
Berikut adalah ringkasan singkat transformasi penting di tubuh Manchester City selama dua musim terakhir kepemimpinan Pep :
| Musim | Pencapaian Utama | Sosok Kunci Baru |
|---|---|---|
| 2024/2025 | Evolusi Taktik Bek Kiri Modern | Nico O'Reilly |
| 2025/2026 | Juara Carabao Cup & Warisan Tim | Rayan Cherki & Semenyo |
Tabel di atas menunjukkan bahwa bahkan di tahun-tahun terakhirnya, Guardiola tidak pernah berhenti melakukan inovasi taktik untuk tim. Ia tetap mampu memunculkan bakat-bakat baru yang siap bersaing di level tertinggi.
Pada musim pamungkasnya 2025/2026, kemenangan atas Arsenal di final Carabao Cup menjadi kado perpisahan yang sangat manis. Meski datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, City tampil sangat dominan terutama pada babak kedua pertandingan.
Nico O’Reilly tampil gemilang dengan mencetak dua gol, sementara pemain muda lainnya seperti Rayan Cherki memberikan harapan baru bagi masa depan klub. Laga ini seolah menjadi pesan terakhir dari sang manajer bahwa Manchester City sudah sangat siap untuk melanjutkan kejayaan meskipun tanpa kehadirannya lagi di pinggir lapangan.