Cristian Chivu, pelatih Inter Milan, menandai musim pertamanya dengan prestasi gemilang. Terlepas dari kesuksesannya ini, Chivu sempat merasa khawatir akan didepak dari jabatannya.
Chivu bergabung dengan Inter Milan setelah menandatangani kontrak berdurasi dua tahun. Pada awal penunjukannya, banyak pihak yang meragukan keputusannya karena pengalaman melatihnya yang terbilang sedikit, hanya pernah menangani Parma sebelumnya.
Awal karir Chivu dengan Nerazzurri tidak berjalan mulus. Meskipun pertandingan pertama di Serie A diraih dengan kemenangan telak 5-0 atas Torino, ia menelan dua kekalahan beruntun setelahnya, masing-masing dari Udinese dengan skor 1-2 dan Juventus 3-4.
Inter Perlahan Bangkit
Tidak diragukan lagi, kritik tajam menghujani Chivu dan banyak yang semakin meragukan kemampuannya. Namun, lambat laun, Inter Milan di bawah asuhannya menemukan ritme dan konsistensi, hingga akhirnya berhasil meraih Scudetto dan juara Coppa Italia musim 2025/26.
Dalam wawancaranya dengan La Gazzetta dello Sport, Chivu mengungkapkan rasa kekhawatirannya dipecat oleh Inter setelah kekalahan dari Udinese dan Juventus. Namun, dukungan klub membuatnya merasa lebih tenang.
Criatian Chivu: Realita Pelatih Sepakbola
"Inilah kenyataan dari sepakbola saat ini, saya sudah menyadarinya sejak lama: saya mengerti mengapa para pemain mendapatkan kontrak lima tahun, sementara pelatih hanya dua tahun... Pelatih memang yang pertama kali menanggung segalanya. Entah itu adil atau tidak, begitulah adanya," ujar pelatih berusia 45 tahun tersebut.
"Pemikiran semacam itu pernah ada di pikiran saya, terutama setelah kalah beruntun dari Udinese dan Juventus... Pada suatu titik, saya merasa semuanya bisa hancur berkeping-keping. Tapi kemudian saya menyadari bahwa klub tidak memiliki pandangan yang sama dengan saya. Sebaliknya, mereka segera mendukung saya penuh. Yang saya rasakan hanyalah dukungan dan kebersamaan," tambah Cristian Chivu.