Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung hari kini berada di bawah bayang-bayang isu lingkungan yang serius. Di balik kemeriahan pesta sepak bola di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini, terdapat ancaman pencemaran karbon yang sangat besar.
Edisi kali ini melibatkan 48 negara peserta, meningkat signifikan dari sebelumnya yang hanya diikuti oleh 32 tim. Penambahan jumlah peserta ini tidak hanya menjanjikan pertandingan yang lebih banyak, tetapi juga memicu dampak buruk bagi iklim global.
Risiko Emisi Karbon Terbesar dalam Sejarah
Sejumlah ilmuwan memprediksi bahwa turnamen ini berpotensi menjadi ajang Piala Dunia paling kotor sepanjang sejarah. Diperkirakan ada sekitar 9 juta ton emisi karbon dioksida yang akan dihasilkan selama kompetisi berlangsung.
Sumbangan terbesar emisi ini berasal dari perjalanan udara yang dilakukan oleh para pemain dan jutaan suporter. Angka ini ditaksir mencapai empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan emisi yang dihasilkan pada periode Piala Dunia 2010 hingga 2022.
Beberapa faktor utama yang memicu lonjakan emisi gas karbon pada turnamen kali ini adalah:
- Perubahan format turnamen dengan penambahan jumlah negara peserta menjadi 48 tim.
- Luasnya area geografis tuan rumah yang mencakup tiga negara besar di Amerika Utara.
- Jarak tempuh perjalanan antar kota penyelenggara yang sangat jauh bagi setiap tim.
- Meningkatnya mobilitas penonton internasional yang berpindah antar stadion.
Keputusan FIFA untuk menambah kuota peserta dan menempatkan lokasi pertandingan di wilayah yang sangat luas menjadi pemicu utama kerusakan lingkungan ini. Hal tersebut memaksa tim-tim peserta harus menempuh perjalanan udara ribuan kilometer hanya untuk melakoni fase grup.
Logistik Tim dan Beban Perjalanan
Sebagai ilustrasi, tim nasional Bosnia & Herzegovina harus menempuh jarak sekitar 5.000 km dari Toronto menuju Los Angeles dan Seattle. Mereka juga harus kembali ke pusat pelatihan di Salt Lake City yang menambah daftar panjang durasi penerbangan.
Kondisi serupa dialami tim Aljazair yang harus terbang sejauh 4.800 km untuk perjalanan pulang-pergi antara Kansas City dan San Francisco. Sementara itu, Republik Ceko diprediksi menempuh jarak 4.500 km saat berpindah dari Guadalajara menuju Atlanta dan Mexico City.
Perbandingan estimasi jarak perjalanan beberapa tim nasional selama turnamen:
| Negara Peserta | Rute Utama Perjalanan | Estimasi Jarak |
|---|---|---|
| Bosnia & Herzegovina | Toronto - Los Angeles - Seattle | 5.000 km |
| Aljazair | Kansas City - San Francisco (PP) | 4.800 km |
| Republik Ceko | Guadalajara - Atlanta - Mexico City | 4.500 km |
Data di atas menunjukkan betapa besarnya mobilitas udara yang dibutuhkan hanya untuk menyelesaikan rangkaian pertandingan di fase awal. Hal ini berbanding terbalik dengan kampanye keberlanjutan yang sering digaungkan oleh organisasi sepak bola dunia tersebut.
Kontroversi Sponsor dan Isu Greenwashing
FIFA juga menuai kecaman keras setelah menjalin kerja sama dengan perusahaan minyak raksasa, Aramco. Banyak pihak menilai langkah ini sebagai bentuk greenwashing atau taktik pencitraan hijau untuk menutupi dampak buruk lingkungan.
Kapten tim nasional wanita Kanada, Jessie Fleming, mengkritik tajam keputusan tersebut dengan menyebut FIFA lebih memilih keuntungan finansial. Menurutnya, bekerja sama dengan pencemar terbesar di planet ini mengancam keselamatan bumi dan masa depan generasi mendatang.
Ancaman Cuaca Ekstrem bagi Pemain
Selain masalah karbon, para atlet juga dihadapkan pada ancaman cuaca panas ekstrem selama musim panas di Amerika Utara. Analisis terbaru menunjukkan suhu udara akan melampaui rata-rata historis yang pernah tercatat sebelumnya.
Tingkat kelembapan yang tinggi diprediksi akan sangat memengaruhi performa dan kesehatan fisik para pemain di lapangan. Setidaknya terdapat 26 pertandingan yang dijadwalkan berlangsung saat suhu mencapai ambang batas berbahaya bagi keselamatan atlet.
Kondisi ini memaksa diberlakukannya cooling break atau jeda minum sesuai dengan regulasi FIFPro demi mencegah risiko kesehatan serius. Tantangan ini menjadi ujian berat bagi komitmen FIFA dalam menciptakan lingkungan olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 kini menghadapi kritik bahwa mereka tidak lagi sekadar mengabaikan target netral karbon. Turnamen ini justru dianggap secara terang-terangan mendorong percepatan perubahan iklim ke arah yang lebih berbahaya bagi dunia.