Dulu Jadi Ejekan, Slogan Trust the Process Arsenal Kini Terbukti Manjur!

Dulu Jadi Ejekan, Slogan Trust the Process Arsenal Kini Terbukti Manjur!
Foto: Dulu Jadi Ejekan, Slogan Trust the Process Arsenal Kini Terbukti Manjur!.
Ukuran teks
Arsenal Raih Gelar <a href="/tag/premier-league">Premier League</a>

Setelah menanti selama 22 tahun, Arsenal akhirnya kembali menjadi juara Liga Premier Inggris. Kepastian itu tercapai setelah Manchester City bermain imbang melawan Bournemouth dengan skor 1-1 pada Rabu, 20 Mei 2026. Hasil tersebut memastikan Arsenal, di bawah kepemimpinan Mikel Arteta, mengakhiri musim di puncak klasemen.

Keberhasilan ini terasa lebih istimewa mengingat Arsenal sering gagal di saat-saat penentuan pada musim-musim sebelumnya. Meski dikritik, klub tetap mendukung penuh Arteta. Kini, slogan "Trust the Process" yang dulu diejek menjadi simbol kesuksesan mereka. Arteta berhasil membuktikan bahwa keteguhan dan kesabaran membawa Arsenal kembali berjaya di Inggris.

Revolusi Mental Arsenal

Pada masa lalu, Gary Neville menganggap pencapaian utama Arteta bukanlah trofi Piala FA 2020, melainkan kemampuannya tetap bertahan di Arsenal. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran manajemen Arsenal terhadap Arteta meski tanpa gelar besar selama lima musim.

Di tengah tekanan dan ekspektasi tinggi, Arsenal tetap mendukung proyek Arteta dengan investasi besar di bursa transfer. Langkah ini terbukti tepat saat mereka akhirnya menjuarai liga, yang terakhir kali diraih semasa Arsene Wenger.

Kiprah Mikel Arteta

Ketika bergabung pada akhir 2019, Arsenal dalam kondisi kurang ideal. Sisa-sisa era Wenger diwarnai oleh frustrasi, sementara masa kepemimpinan Unai Emery tidak berhasil mengangkat performa klub. Arteta menyadari situasi ini ketika datang ke Emirates bersama Manchester City. Suasana stadion yang lengang menjadi peringatan baginya.

“Saat melihat stadion, dengan setengah kursi kosong, saya terkejut,” kata Arteta. Tantangan makin besar saat Covid datang dan stadion benar-benar kosong. Arteta harus membenahi tim dan hubungan dengan penggemar yang sempat pudar.

Transformasi Arsenal di Bawah Arteta

Di awal kariernya, Arteta sering disebut sebagai versi mini Guardiola. Dengan permainan yang mengutamakan penguasaan bola dan bangun serangan dari belakang, Arsenal tampak mengikuti jejak Manchester City. Namun, dalam tiga musim terakhir, terutama musim ini, Arteta menerapkan pendekatan yang lebih pragmatis.

Arsenal menjadi tim yang tangguh dalam duel fisik, disiplin dalam bertahan, dan efektif pada bola mati. Pendekatan ini mengundang kritik, termasuk dari pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, setelah timnya kalah 0-1 dari Arsenal. Meski demikian, hasil akhirnya tidak bisa disangkal.

Kritik dan Respon Arteta

Thierry Henry, legenda Arsenal, awalnya meragukan proyek Arteta. “Dulu orang bertanya, ‘Bisakah Anda menang dengan cara buruk?’ Kini mereka membuktikan bisa,” kata Henry. Sekarang, dia menilai Arsenal memiliki kemampuan menang meski bermain buruk.

Menurutnya, ada banyak cara untuk berjaya, seperti era Wenger yang berbeda dengan tim George Graham. Keduanya berhasil membawa The Gunners meraih trofi.

Arsenal Juara dengan Pendekatan Komprehensif

Musim ini, Arsenal kerap dikenang sebagai “Set Piece FC” karena dominasi dalam situasi bola mati. Lebih dari itu, tim ini diingat karena mengakhiri puasa gelar yang panjang. Arteta sukses membangun tim dengan disiplin, kekuatan fisik, dan kerja keras yang tinggi.

Arsenal tidak selalu tampil menawan, namun mereka tahu cara memenangkan pertandingan. “Kita minta Mikel mencari jalannya. Dan dia melakukannya,” ungkap Henry. Hasil ini membawa rasa hormat yang dulu diragukan banyak orang kepada Arteta.

Artikel terkait

Rekomendasi