Cesc Fabregas Ungkap Kisah Mengejutkan di Balik Lolosnya Como ke Liga Champions 2026

Cesc Fabregas Ungkap Kisah Mengejutkan di Balik Lolosnya Como ke Liga Champions 2026
Foto: Cesc Fabregas Ungkap Kisah Mengejutkan di Balik Lolosnya Como ke Liga Champions 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Cesc Fabregas menceritakan sebuah perjalanan luar biasa yang dialami Como 1907 hingga berhasil menembus Liga Champions. Pencapaian bersejarah ini diraih hanya dalam waktu dua tahun setelah tim tersebut promosi dari Serie B.

Pelatih asal Spanyol tersebut mengakui bahwa dirinya sudah memiliki firasat kuat mengenai keberhasilan ini sebelum momen bersejarah itu benar-benar terwujud. Di bawah arahannya, Como menciptakan tonggak sejarah terbesar klub dengan mengamankan tiket kompetisi paling bergengsi di Eropa untuk pertama kalinya.

Kemenangan telak 4-1 atas Cremonese pada Senin dini hari WIB (25/5/2026) menjadi kunci kesuksesan Como sekaligus membuat lawan mereka terdegradasi. Di saat yang sama, kekalahan AC Milan di San Siro memastikan posisi Como aman untuk melaju ke Liga Champions musim depan.

Fabregas sebenarnya telah menjadi sorotan sejak dua tahun lalu ketika berhasil membawa Como naik kasta dari kasta kedua Liga Italia. Namun, ia menganggap kesuksesan kali ini jauh lebih emosional karena klub tersebut awalnya dibangun dengan fondasi yang sangat terbatas.

Kepada media DAZN Italia, Fabregas mengungkapkan bahwa ia sering mengandalkan insting dalam mengambil keputusan, termasuk saat melakukan pergantian pemain di tengah laga. Ia bercerita bahwa sehari sebelum melawan Parma, ia sudah yakin dua kemenangan lagi akan membawa timnya lolos.

Untuk memotivasi para pemainnya, mantan pemain timnas Spanyol ini menggunakan metode yang cukup unik. Ia menunjukkan video perjuangan seorang atlet balap sepeda yang pantang menyerah meski berada di posisi belakang.

Isi pesan motivasi tersebut antara lain adalah:

  • Video menampilkan pembalap yang berada di posisi keenam sebelum mencapai garis finis.
  • Atlet tersebut terus mengayuh sekuat tenaga pada momen sprint terakhir.
  • Hasilnya, sang pembalap berhasil menyalip lawan dan memenangkan balapan tersebut.

Fabregas menegaskan bahwa analogi balap sepeda itulah yang menjadi gambaran perjuangan skuad Como sepanjang musim ini. Meski sempat mengalami masa sulit dengan dua kekalahan dan hasil imbang kontra Udinese, keyakinan tim tidak pernah luntur.

Pelatih berusia 39 tahun itu menyebutkan bahwa para pemain tetap merasa berada dalam jalur persaingan meskipun sempat terpuruk. Selama pertandingan penentuan berlangsung, Fabregas bahkan enggan mencari tahu skor pertandingan di stadion lain agar tetap fokus.

Walaupun sudah mengoleksi banyak trofi bergengsi saat masih aktif bermain sebagai pesepak bola, Fabregas merasa pencapaian bersama Como sangat spesial. Ia menyebut keberhasilan ini berada di level tertinggi dalam kariernya karena proses pembentukannya yang luar biasa.

Skuad Como saat ini didominasi oleh tenaga muda, dengan 15 pemain di antaranya masih berusia di bawah 23 tahun. Fabregas memuji sikap para pemain mudanya yang selalu mau mendengar dan terus berusaha meningkatkan standar permainan mereka.

Tugasnya sebagai pelatih diakuinya hanya sebatas memberikan arahan, ruang, dan motivasi kepada tim. Namun, seluruh aksi nyata dan kerja keras di lapangan sepenuhnya adalah hasil keringat para pemain yang tampil luar biasa.

Fabregas juga merasa sangat emosional karena bisa memberikan kebahagiaan bagi masyarakat Como yang dianggap sangat layak merayakan momen ini. Ia kemudian mengenang betapa memprihatinkannya kondisi klub saat ia pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Beberapa fakta menarik mengenai kondisi awal Como saat Fabregas bergabung:

  • Fasilitas latihan klub pada awalnya sangat jauh dari kata layak untuk tim profesional.
  • Fabregas diberikan kepercayaan penuh untuk mengelola seluruh aspek teknis sepak bola di klub tersebut.
  • Saat memulai proyek ini, klub hampir tidak memiliki infrastruktur dasar yang memadai.

Cerita unik lainnya terungkap saat Fabregas berbincang dengan fisioterapis yang sudah menemaninya sejak ia masih berstatus sebagai pemain empat tahun lalu. Ia mengenang masa ketika klub bahkan belum memiliki pusat latihan mandiri untuk para pemainnya.

Bahkan, saking terbatasnya fasilitas, proses pijat dan pemulihan pemain terpaksa dilakukan di atas meja di ruang belakang sebuah bar. Transformasi dari kondisi memprihatinkan tersebut menuju panggung Liga Champions dianggapnya sebagai sebuah keajaiban nyata.

Karier kepelatihannya yang baru berjalan 2,5 tahun ini diakuinya telah memberikan banyak pelajaran hidup. Ia mengucapkan terima kasih kepada jajaran staf kepelatihan yang selalu sabar dan terus menginspirasinya setiap hari.

Fabregas secara terbuka mengakui bahwa terkadang ia menjadi sosok yang sulit diajak bekerja sama karena standar tinggi yang ia tetapkan. Namun, ia merasa ambisi untuk selalu melakukan hal lebih adalah bagian dari jati dirinya yang tidak bisa dilepaskan.

Pengalaman mengelola Como ia ibaratkan seperti menempuh studi di universitas sepak bola setiap hari karena banyaknya keputusan krusial yang harus diambil. Kelak jika ia meninggalkan klub ini, barulah ia merasa benar-benar telah menjadi seorang pelatih yang utuh.

Terkait masa depannya, Fabregas belakangan memang sering dikaitkan dengan beberapa klub raksasa di daratan Eropa. Meski begitu, keberhasilan Como menembus kompetisi Eropa tampaknya akan membuatnya bertahan lebih lama di Italia.

Ia menegaskan tidak ingin terburu-buru untuk pindah ke klub lain karena merasa sangat bahagia dengan apa yang sedang dibangun di Como. Baginya, menikmati proses membangun sebuah tim adalah hal yang sangat memuaskan dibandingkan sekadar mengejar jabatan.

Fabregas yang baru saja berulang tahun ke-39 merasa perjalanannya di dunia kepelatihan masih sangat panjang. Ia mengutip perkataan Jose Mourinho mengenai rentang waktu karier yang bisa mencapai usia 80 tahun.

Filosofi karier yang dipegang teguh oleh Fabregas saat ini:

  • Kesabaran adalah kunci utama dalam menjalani profesi sebagai pelatih sepak bola.
  • Belajar secara terus-menerus lebih penting daripada sekadar mengejar ambisi pribadi secara instan.
  • Langkah besar berikutnya akan diambil hanya ketika dirinya sudah merasa benar-benar siap secara mental dan teknis.

Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen kuat Fabregas untuk tetap mengawal Como dalam debut mereka di panggung Eropa nanti. Keberhasilan ini bukan hanya soal kemenangan di lapangan, tetapi juga tentang pertumbuhan sebuah klub dari titik nol.

Kini, publik sepak bola dunia menantikan kejutan apa lagi yang akan dihadirkan oleh Fabregas bersama skuad mudanya. Dengan tiket Liga Champions di tangan, Como 1907 telah resmi bertransformasi dari klub kecil menjadi kekuatan baru yang patut diperhitungkan.

Artikel terkait

Rekomendasi