Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan jenis Hantavirus yang baru-baru ini mewabah di kapal pesiar MV Hondius dengan yang ditemukan di Indonesia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, menyatakan bahwa virus yang menjangkiti penumpang kapal tersebut adalah strain Andes. Strain ini menjadi pemicu penyakit Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
Andi menegaskan bahwa tipe HPS tersebut hingga kini belum pernah dilaporkan menyerang manusia maupun ditemukan pada tikus di wilayah Indonesia. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers pada Senin (11/5).
Menurut penjelasannya, varian Hantavirus yang ada di Indonesia adalah penyebab Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Meskipun berasal dari keluarga virus yang sama, keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda.
Perbedaan Signifikan HPS dan HFRS
Perbedaan antara kedua jenis penyakit ini dapat dilihat dari berbagai aspek penting. Hal ini mencakup strain virusnya, gejala klinis yang muncul, hingga spesies tikus yang menjadi pembawanya.
Berikut adalah ringkasan perbedaan antara Hantavirus tipe HPS dan HFRS:
| Kategori Perbedaan | HPS (Kasus MV Hondius) | HFRS (Ditemukan di Indonesia) |
|---|---|---|
| Strain Virus | Andes Virus | Seoul Virus |
| Gejala Utama | Gangguan pernapasan berat | Gangguan ginjal dan tubuh menguning |
| Hewan Pembawa | Tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus) | Tikus got (Rattus norvegicus) |
| Tingkat Fatalitas | Sangat tinggi (mencapai 37,5%) | Cenderung lebih rendah dari HPS |
Data di atas menunjukkan bahwa jenis Hantavirus yang perlu diwaspadai di Indonesia memiliki karakteristik klinis yang berbeda dengan wabah yang terjadi di luar negeri.
Gejala Spesifik yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, kedua jenis virus ini diawali dengan gejala demam tinggi layaknya infeksi virus pada umumnya. Namun, pasien HPS biasanya akan mengalami sesak napas yang cukup parah sebagai gejala khasnya.
Selain sesak napas, penderita HPS juga sering mengeluhkan nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan seperti diare dan mual. Kondisi ini sering kali diikuti dengan irama jantung yang tidak beraturan.
Di sisi lain, gejala khas HFRS yang ditemukan di Indonesia berkaitan erat dengan fungsi ginjal. Penderita sering kali mengalami perubahan warna kulit menjadi kuning serta nyeri hebat pada bagian punggung dan perut.
Menurut CDC, penglihatan kabur dan wajah memerah juga menjadi tanda klinis dari infeksi strain Seoul. Ruam pada kulit sering muncul seiring dengan perkembangan infeksi di dalam tubuh.
Penyebaran melalui Tikus
Di Indonesia, penularan terjadi melalui tikus got atau Rattus norvegicus yang membawa strain Seoul. Tikus jenis ini sangat umum ditemukan di lingkungan pemukiman padat penduduk.
Berbeda dengan di Amerika atau kasus MV Hondius, penyebarnya adalah tikus liar jenis Oligoryzomys longicaudatus. Jenis tikus ini membawa strain Andes yang memiliki tingkat kematian jauh lebih tinggi.
Wabah di kapal pesiar MV Hondius sendiri mencatat angka kematian mencapai 37,5 persen. Hingga Minggu (10/5), tercatat ada enam kasus konfirmasi positif dengan tiga korban meninggal dunia.
Guna mencegah penularan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan rumah. Hal utama yang harus dilakukan adalah menghindari paparan dari kotoran atau sekresi tikus.